Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 60. Tidak akan aku berikan celah sedikitpun (Alan)


__ADS_3

Aku tak pernah ragu mencintaimu, di dalam lubuk hatiku juga selalu berkata seperti itu. Percaya atau tidak, itu kebenarannya. Cinta memang tak memiliki fisik, namun dapat di rasakan kehadirannya.


~Ketulusan Hati 2~


Aku membaringkan tubuhku diatas kasur, rasanya benar-benar kesal. Aku bingung, kenapa hatiku sangat kesal saat tahu siapa wanita yang di cintai Prof. Luis. Kenapa aku tidak menyadari sejak itu. Prof. Luis, dengan tiba-tiba menanyakan tentang istriku, dasar bodoh. Ara. Kenapa dia juga tidak mengatakan apapun tentang pertemuan itu. Apa ada sesuatu yang terjadi hingga ia tak ingin mengatakan hal itu.


Aku membalikkan tubuhku saat merasakan ranjang yang aku tiduri sendikit bergoyang. Aku terdiam. Marah. Emosi dalam diriku mulai menyeruak. Bagaimana bisa ia menyembunyikan semua ini dariku? Apa dia masih menganggap aku ini suaminya?


"Bi. Ara minta maaf," ucapnya meminta maaf. Aku tetap diam. Rasa kesal masih bersarang di hatiku.


Aku merasakan punggungku menghangat. Sentuhannya membuat darahku berdesir hebat. Ku pejamkan mataku, aku tidak ingin emosi menguasai diriku.


"Ara tahu hubby marah, Ara minta maaf. Ara tidak bermaksud untuk menyembunyikan semua itu. Ara cuma tidak mau hubby salah faham," ucapnya dengan nada sendu. Aku bangun dari tidurku dan beranjak menuju sofa.


"Justru jika kamu menyembunyikan semua ini malah jadi salah faham, apa kamu tahu? Prof. Luis, mengatakan jika dia menyukai seorang wanita. Dan ternyata itu kamu, apa dia mengatakan sesuatu padamu saat itu?" tanyaku dengan sengit. Aku benar-benar kesal, kenapa dia mengatakan jika aku akan salah faham. Aku lebih menyukai kejujuran, sejak dulu aku tahu ia adalah wanita yang jujur. Entah mengapa ia menyembunyikan semua ini dariku.


"Ara... Ara takut mengatakan ini pada hubby, Ara takut hubby tidak percaya dengan perkataan Ara. Bagaimanapun Prof. Luis adalah guru besar hubby, Ara tidak mau kalian salah faham." jelasnya. Hatiku masih belum puas dengan jawabanya.


"Jadi kamu meragukan kepercayaanku Ara?" tanyaku sengit. Aku benar-benar di rasuki amarah. Aku menatapnya tajam, ia hanya menunduk. Apa dia meragukan cintaku? Aku sangat mempercayainya. Bahkan kita sudah saling berjanji untuk terbuka satu sama lain. Tapi apa? Dia menyembunyikan hal fatal seperti ini. Selama ini Prof. Luis, menyimpan hati pada istriku sendiri. Bagaimana mungkin ini terjadi?


"Kamu membuatku kecewa Ara," ucapku beranjak pergi.


"Hubby, Ara minta maaf. Ara tahu, Ara yang salah." ujarnya menarik tanganku. Aku menghentikan langkahku, namun masih membelakanginya.

__ADS_1


"Ara mohon, jangan pergi. Maafkan Ara, Ara benar-benar takut hubby akan salah faham jika Ara berterus terang. Ara minta maaf bi."


Ku pejamkan mataku saat ia memelukku. Isakan dari bibirnya bisa aku dengar dengan jelas. Aku terlanjur kecewa, dia sudah meragukan cinta dan kepercayaan yang selama ini aku jaga.


"Aku tak pernah ragu mencintaimu, di dalam lubuk hatiku juga selalu berkata seperti itu. Percaya atau tidak, itu kebenarannya. Cinta memang tak memiliki fisik, namun dapat di rasakan kehadirannya. Aku kira kamu menyadari itu Ara."


"Aku kecewa, Ara. Bahkan kamu tidak percaya padaku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika saat itu aku mengatakan pada Prof. Luis, jika beliau harus memperjuangkan cintanya. Mungkin dia akan berusaha untuk merebutmu dariku," ku lepaskan tanganya yang melingkar di perutku. Aku melangkah pergi meninggalkan dirinya. Entahlah, aku sangat kesal. Jika aku tetap disini, aku takut akan menyakitinya.


Mungkin, jika orang lain yang menyukai istriku. Aku tidak akan semarah ini, tapi kali ini orang yang mencintai istriku adalah seseorang yang begitu aku kagumi. Guru yang selalu aku banggakan. Hatiku sangat sakit. Begitu banyak wanita di luar sana, kenapa harus istriku? Akhhhh, kepalaku seperti ingin pecah.


Ku sandarkan kepalaku di pintu, rasa kecewaku sangat besar. Aku marah, benci dengan keadaan saat ini. Aku meninggalkan tempat tinggalku dengan hati yang berkecamuk. Aku ingin menangkan pikiranku sejenak.


Langkahku terhenti tepat di depan sebuah kafe, bergegas aku masuk ke sana. Aku duduk tak jauh dari pintu masuk, memesan secangkir kopi untuk menenangkan pikiranku. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai kopi, tapi saat ini aku mendadak menginginkannya.


Setelah pikiranku sedikit tenang, aku bergegas untuk pulang. Di pertengahan jalan, tiba-tiba tanganku di tarik seseorang. Aku sangat kaget, dengan cepat aku menarik tanganku.


"Ikut aku, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Jane berjalan mendahuluiku tanpa perduli aku setuju atau tidak. Aku menatap punggungnya, dengan malas aku mengikutinya dari belakang.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku saat kami sudah berada di sebuah cottage, tak jauh dari tempat tinggalku.


"Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan rumah tanggamu Lan, jangan marah pada Ara. Dia tidak tahu apa-apa, saat itu aku bersamanya. Dia terlihat ketakutan," ujar Jane. Aku menatapnya lekat.


"Aku tahu kau cemburu, tapi ingat lah. Istrimu sedang hamil, tidak baik jika masalah ini terus berlarut. Ara perempuan yang setia, kau tahu itu kan? Sudahi rasa kesalmu, aku seorang wanita. Aku tahu perasaan istrimu, percayalah. Dia punya alasan sendiri kenapa dia menyembunyikan semuanya."

__ADS_1


Aku terdiam. Amarahku memang sudah menghilang. Hanya saja rasa kesalku masih bersarang. Aku hanya kecewa, kecewa karena ia tak jujur padaku.


Aku menatapnya lagi. Lalu aku bergegas meninggalkannya.


Aku masuk kedalam rumah dengan langkah pelan. Lalu aku bergegas menuju kamar. Ingin tahu apa yang sedang istriku lakukan. Ku buka pintu kamar dengan hati-hati.


Hatiku terenyuh saat melihat istriku tertidur diatas sofa dengan mata yang basah. Aku tahu sedari tadi ia menangis. Aku duduk untuk menatap wajahnya lebih dekat. Ku kecup pelan keningnya, agar ia tak terbangun. Ku sapu air matanya yang masih mengalir di pipinya.


"I'm sorry honey, aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih. Aku hanya cemburu, aku takut kehilanganmu. Benar-benar takut Ara," lirihku.


Pandanganku kini tertuju pada perutnya yang mulai terlihat membuncit. Ku kecup lembut. Ku usap perlahan.


"Dengar sayang, jangan marah pada abi karena membuat umi kamu menangis. Abi hanya kecewa sayang, abi tidak ingin kehilangan kalian. Abi menyayangi kalian lebih dari apapun." Ku kecup kembali perutnya dengan lembut. Aku kembali menatap wajah yang tak pernah berubah. Wajah yang penuh dengan kedamaian.


Ku angkat tubuhnya perlahan, membaringkannya diatas ranjang. Sepertinya ia benar-benar lelah, hingga sedikitpun tak bergeming. Ku tarik selimut untuk menutup tubuhnya.


Aku terus memandang wajahnya lebih dekat. Rasanya mataku enggan untuk berpindah dari sana. Semua yang ia miliki aku sangat menyukainya. Tak rela rasanya jika orang lain memandangnya. Aku tidak suka itu.


Aku bangkit dari tempat tidur, berjalan dengan malas menuju dapur. Perutku kembali lapar, ku buka pintu kulkas. Berharap ada sesuatu yang bisa aku makan. Siang tadi Ara tidak masak, karena memang aku yang melarangnya. Untung saja masih ada beberapa buah apel. Aku langsung mengambil dan mencucinya. Aku memilih duduk di meja makan sambil memandang salju turun dari balik jendela.


Aku sangat merindukan kampung halamanku. Terutama mama, aku sangat merindukannya. Sikap dan perlakuan mama yang begitu manis. Ah, Miss you mom.


Seketika aku kembali mengingat tentang Prof. Luis, bagaimana jika aku kembali bertemu dengannya. Apa aku bisa menjaga sikapku? Pasti sangat canggung. Dunia begitu sempit. Begitu banyak wanita, kenapa harus istriku? Pertanyaan itu terus terngiang di kepalaku. Aku tahu mencintai seseorang itu tidak salah. Hanya saja, ini terlalu menyakitkan. Pria yang begitu aku kagumi, aku hormati. Mencintai wanita milikku. Itu benar-benar menyakitkan. Bahkan ia begitu terus terang mengatakan kebenarannya padaku. Bodohnya diriku, tak menyadari semua itu. Aku harap beliau bisa mendapatkan wanita yang baik dan cepat melupakan istriku.

__ADS_1


Beberapa hari lagi aku akan melakukan ujian sidang. Aku harus mengontrol diri untuk tetap bersikap seperti biasa. Bagaimanapun, beliau tetap guruku. Walaupun sedikit canggung, aku akan tetap berusaha bersikap profesional. Setelah hari kelulusanku, aku akan langsung membawa istriku pulang. Terlalu lama disini sepertinya tidak terlalu baik. Maaf Prof. saya tidak akan memberikan celah sedikitpun pada anda untuk mendekati apa yang sudah menjadi milik saya.


Aku melirik jam tanganku. Sebentar lagi akan masuk waktu ashar, sepertinya aku harus membangunkan istriku. Aku bangkit dari duduk, bergegas menuju kamar.


__ADS_2