
"Bunda, malam ini bunda sama mama nginap kan?" tanya Ara menatap bunda dan mama mertuanya. Saat ini semua orang sedang berkumpul di kediaman Ara dan Alan. Para lelaki tengah mengobrol sekitar pekerjaan.
"Iya sayang, bunda rindu kamu. Juga calon cucu bunda," balas Dara sambil mengelus perut buncit Ara. Ara tersenyum sambil bergelayut manja di lengan sang bunda.
"Mama juga mau kenalan dengan cucu mama, perempuan atau laki-laki?"
"Belum tahu ma, Ara sama Alan sengaja tidak melihat jenis kelaminnya. Biar kejutan, iya kan sayang?" ujar Ara menatap suaminya. Alan yang sedang badmood hanya mengangguk lesu.
"Kenapa dengan suami kamu?" bisik Dara.
"Enggak tahu bun, tadi baik-baik aja kok. Mungkin masih marah, tadi Ara cuma bilang kalau Ara mau pas anak ini lahir. Dia bakal mirip Hrithik Roshan. Eh Alan malah marah," jelas Ara dengan polos. Dara dan Nissa pun saling melempar pandangan. Lalu keduanya tertawa bersama. Ara mentap keduanya bingung.
"Ya Allah Ara, pantas lah suami kamu marah. Mana bisa anak kalian mirip orang lain," ujar Dara mengusap punggung putrinya.
"Kan siapa tahu mirip bun," ucap Ara tersenyum. Alan melirik Ara dengan ekor matanya.
"Kamu ini ada-ada saja," ucap Dara mengusap kepala putrinya.
"Ma, Arin mana?" tanya Ara pada Nissa.
"Sebentar lagi kesini, katanya ada keperluan di kampus." Balas Nissa. Ara mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sayang, jangan lupa makan-makanan yang bergizi. Jangan takut makan sayur dan minum susu lagi," ujar Dara.
"Iya bunda, tapi Ara mual kalau minum susu. Mungkin baby juga tidak suka susu," celetuk Ara. Dara tersenyum mendengar perkataan Ara.
"Hmmm... Biasakan, nanti juga terbiasa. Bagaimana pergerakannya? Apa aktif atau hiperaktif?"
"Emm...lumayan aktif bun, cuma saat bersama abinya. Dia lebih sering menendang, kadang Ara sesak dibuatnya." Jawab Ara, ia membenarkan posisi duduknya.
"Itu artinya cucu bunda sehat. Senang bukan saat ia menendang?"
"Iya bun," balas Ara sambil mengelus perutnya. Lalu pandangan Ara tertuju pada Alan yang tengah mengobrol dengan Arham dan Arnold.
"Bi, masih marah?" tanya Ara. Bibirnya berkedut, ingin sekali rasanya ia tertawa. Alan yang merasa terpanggil pun langsung menoleh. Namun ia tak menghiraukan Ara.
"Lihat ma, putra mama selalu seperti itu, jika sedang marah." Ara mengadu pada Nissa. Ia sangat kesal saat Alan mengabaikan dirinya.
"Kalian masih saja seperti anak kecil, sudah mau punya anak juga," ucap Nissa tertawa renyah.
"Bunda, Ara pengen sesuatu boleh?" tanya Ara memelas.
"Pengen apa?" ucap Dara menatap Ara lekat.
"Ara mau peluk bunda seharian, boleh kan bun?" ucap Ara menatap Dara penuh harap.
"Tanya suami kamu, boleh tidak bunda peluk kamu? Nanti dia cemburu lagi," ucap Dara sambil tertawa renyah. Ara yang mendengar ucapan Dara pun memanyunkan bibirnya.
"Ara rindu bunda, Alan gak akan cemburu kok." ucap Ara meyakinkan Dara.
"Bi, malam ini Ara tidur dengan bunda ya? Boleh kan bi?" tanya Ara pada Alan. Alan yang sedang berbicara pun langsung menoleh. Ia mengangguk pelan, lalu kembali mengobrol dengan papa dan mertuanya. Ara terlihat sangat senang.
"Kamu ini. Kamu boleh peluk bunda seharian, tapi untuk nanti malam. Kamu tetap tidur dengan suami kamu. Tidak baik meninggalkan suami sendirian," ujar Dara mengusap kepala Ara dengan lembut. Ara terdiam sesaat.
"Boleh deh bun," ucap Ara sambil tersenyum simpul.
"Sayang, besok kita belanja keperluan baby ya? Mama sudah planing sejak lama," ucap Nissa.
"Kan masih lama lahirannya, ma. Lagian Ara tidak tahu jenis kelaminnya," ucap Ara.
"Jangan khawatir, serahkan pada mama. Kamu tinggal ikut dan pilih mana yang kamu suka, empat bulan bukan waktu yang lama sayang. Jika perut kamu semakin besar, akan lebih susah untuk pergi-pergi," balas Nissa panjang lebar.
"Lagian besok Alan sudah mulai kerja, pasti kamu bosan sendirian. Iya kan Ra?" lanjut Nissa menatap Dara. Dara tersenyum sambil mengangguk.
"Iya ma, Ara ikut mama aja deh."
__ADS_1
Nissa terlihat senang, ia langsung memeluk Ara dengan erat.
"Ahh,,, mama sangat rindu kamu sayang," ucap Nissa mencium kening Ara. Ara tersenyum sambil mengangguk.
Selang beberapa saat, terlihat dua orang masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap orang itu bersamaan. Semua orang yang sedang asik mengobrol pun langsung menoleh.
"Wa'alaikumusalam," jawab mereka serentak. Ara tersenyum lebar saat melihat sosok yang sangat ia rindukan.
"Arin..." seru Ara bangun dari duduknya. Ia langsung berhambur ke pelukan Arin.
"Rindu banget ya?" tanya Arin. Ara mengangguk antusias. Namun tiba-tiba Ara menangkap sosok yang kini berdiri di belakang Arin.
"Pak Dio?" ucap Ara tak percaya. Ya, Arin memang datang bersamaan dengan Dio. Mereka tak sengaja bertemu di sebuah minimarket.
Dio tersenyum ramah. Alan yang tadinya duduk, kini bangun untuk menghampiri Dio.
"Apa kabar kak?" tanya Alan pada sang kakak.
"Baik, harusnya aku yang bertanya." ujar Dio memeluk sang adik dengan hangat.
"Itu tidak penting," ucap Alan melerai pelukkan.
"Aku tak sengaja bertemu dengan adikmu. Dia mengatakan jika kalian sudah pulang, jadi aku sekalian mampir."
"Ya, tadi pagi baru sampai. Mari duduk," ajak Alan. Dio pun mengikuti langkah adiknya untuk duduk di sofa. Dio memberi salam pada Arham dan Arnold.
"Bagaimana kalian bisa bersama?" tanya Arnold.
"Tadi kami tidak sengaja bertemu di minimarket, Om. Kebetulan Arin tidak bawa mobil," balas Dio. Arnold mengangguk.
"Om, apa kabar?" tanya Dio pada Arham yang masih terdiam.
"Baik," balas Arham singkat.
"Kak Ra, perut kakak udah besar aja. Gimana sih rasanya?" tanya Arin sambil mengelus perut Ara.
"Emm, gimana ya? Gak bisa kakak jelaskan dengan kata-kata," jawab Ara.
"Jadi gak sabar mau gendong dedek bayinya," ucap Arin. Ara tersenyum mendengarnya.
"Hey, kamu hutang cerita dengan kakak." Ara berbisik pada Arin.
"Apa sih kak?" Pipi Arin memerah. Ara tersenyum geli melihat itu.
"Jadi laki-laki yang kamu maksud itu pak Dio?" tanya Ara.
"Kak, jangan di bahas di sini. Malu dengan mama sama bunda," balas Arin sedikit berbisik. Ara terkekeh mendengar ucapan Arin.
"Baiklah, tapi wajib cerita ya?"
"Iya bawel," ucap Arin malas. Ara tertawa ringan saat melihat Arin memasang wajah kesal.
***
"Bi, mau ke mana?" tanya Ara saat masuk ke kamar, menemukan Alan sudah berpakaian rapi. Ara sudah cukup puas bercengkrama dengan bundanya.
"Ke kantor sebentar, ada yang harus hubby urus. Tunggu di rumah," balas Alan mengecup kening Ara. Ia langsung beranjak pergi. Ara menatap punggung Alan heran.
"Ada apa dengan hubby?" ucapnya sambil duduk di tepi ranjang. Ara menggelengkan kepalanya. Ia beranjak menuju almari untuk membereskan pakaiannya yang belum sempat ia sentuh.
Tiga puluh menit berlalu, kini Ara sudah selesai membereskan pakaian dan mengganti seprai yang baru. Ia pun beranjak keluar.
Ara mencium sesuatu yang sedap, dengan pasti ia melangkah menuju dapur. Di sana sang bunda tengah masak sesuatu.
__ADS_1
"Harumnya, bunda masak rendang ya?" tanyanya menghampiri Dara.
"Iya sayang, tadi suami kamu bilang dia ingin makan rendang. Jadi bunda buatkan, coba kamu rasa sudah enak belum?" balas Dara. Dengan semangat Ara mencicipi masakan bundanya.
"Emmm... Enak banget bun. Lama Ara tidak makan rendang," ucap Ara kembali mencicipi rendang yang super enak itu.
"Makanya belajar, supaya suami kamu betah di rumah. Taklukkan mereka dari perutnya dulu," bisik Dara. Ara terkekeh mendengarnya.
"Iya bun, Ara belajar kok. Tapi nanti, hehe..." balas Ara sambil mesem. Dara yang mendengar itu hanya bisa menggeleng.
"Oh iya, mama mana, bun?" tanya Ara saat tak melihat keberadaan Nissa.
"Pulang sebentar, katanya ambil barang Dika yang tertinggal. Paling sebentar lagi sampai," jawab Dara sambil menuangkan rendang ke dalam piring.
"Bunda, bagaimana hubungan papah dengan pak Dio? Tadi Ara lihat papah masih diam," tanya Ara penasaran. Dara meletakkan piring di atas meja makan. Lalu berbalik menatap Ara.
"Bunda rasa baik, saat kamu pergi dulu. Papah juga sudah bertemu dengan mamanya Dio. Semua permasalahan sudah jelas, mungkin papah sedang badmood. Kamu tahu sendiri papah seperti apa kan? Kadang humoris, kadang cuek, sama seperti adik kamu." Dara tersenyum sambil mengusap pundak Ara.
"Iya bun," ucap Ara tersenyum.
"Ada yang sedang membicarakan papah?" ucap seseorang yang berhasil membuat Dara dan Ara terkejut.
"Papah!" seru Ara saat melihat Arham sudah berdiri di ambang pintu. Ara menghampiri Arham dan langsung berhambur memeluknya.
"Hmmm... Masih sama, papah kira kamu akan berubah setelah menikah. Bahkan saat ini akan mempunyai anak," ujar Arham mencium pucuk kepala Ara dengan penuh kasih sayang.
"Ara tidak akan berubah pah, Ara akan tetap menjadi anak papah yang manja. Walaupun Ara sudah punya anak nanti," ujar Ara semakin mengeratkan pelukannya. Arham tersenyum mendengar perkataan Ara.
"Ara sayang papah, akan tetap sayang papah sampai kapan pun. Papah adalah super hero Ara. I love you my hero," ucap Ara mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Arham, wajah yang begitu banyak kerutan.
"Papah juga sayang kamu, anak papah yang paling manja. Papah sangat merindukan putri papah, setengah tahun bagaimana seribu tahun untuk papah, sayang. Putri kesayangan papah," ujar Arham mengecup mesra kening Ara. Dara yang melihat itu tak sadar jika air matanya menetes. Ia sangat terharu dengan apa yang sedang ia lihat.
"Ekhem... Setiap hari Azka bersama papah. Tidak pernah tuh mendengar jika Azka adalah anak kesayangan papah."
Ara sangat terkejut saat mendengar suara adiknya. Ia langsung melihat ke belakang Arham. Di sana Azka sedang bersandar sambil menyilangkan kedua tangannya. Ara kembali menatap Arham.
"Anak kesayangan bunda kamu," ucap Arham, di balas tawa oleh Ara dan Dara. Azka mendengus kesal, ia berjalan menuju meja makan.
"Sudah pulang? Tumben cepat?" tanya Dara mengusap kepala Azka.
"Hari ini tidak ada jadwal meeting bun, jam kuliah juga kosong. Azka lapar, boleh makan?" balas Azka sambil menatap rendang, perutnya semakin memberontak saat aroma rendang menusuk ke dalam hidungnya.
"Tidak boleh, disini kan pemilik rumah kakak. Jadi kamu harus minta izin dong dengan kakak?" sanggah Ara.
"Sudah minta izin tadi dengan kak Alan, lagian rumah ini milik kak Alan. Bukan kak Ara," balas Azka dengan santai. Ara yang mendengar itu mendadak kesal.
"Dasar Mr. Killer," ketus Ara.
"Hati-hati kak, Azka dengar orang hamil tidak boleh asal bicara. Nanti anaknya ketularan," ucap Azka tersenyum devil.
"Ih, jangan sampe deh." Ara mengelus perutnya dengan lembut.
"Sayang, jangan tiru uncle kamu yang Killer itu ya? Dia itu sangat jelek," bisik Ara pada baby di perutnya. Namun Azka masih bisa mendengar ucapan Ara.
"Bunda, sepertinya cucu bunda bakal mirip Azka deh. Ibunya dendam banget tuh," ujar Azka sambil menuangkan nasi ke dalam piring. Ara yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya.
"Jangan banyak bicara, makan yang kenyang," ucap Ara ketus.
"Wah, sepertinya kehamilan kakak membawa perubahan ya?"
"Azka, sudah jangan ganggu kakak kamu. Makan saja yang benar," ucap Dara melerai pertengkaran anak-anaknya.
"Tahu tu bun. Makin dewasa malah makin nyebelin, untung sayang. Kalau enggak, udah kakak masukin kolam," omel Ara. Ia menuangkan jus jeruk ke dalam gelas. Meneguknya perlahan.
Semuanya mendadak hening. Ara menatap papah, bunda dan Azka bergantian. Sesekali ia tersenyum, perasaanya cukup bahagia. Kebersamaan seperti dulu, itu lah yang selalu ia rindukan. Canda, tawa, semuanya selalu menjadi kerinduan. Meski kadang waktu memisahkan segenap rasa, namun waktu juga akan kembali menyatukan setiap rasa yang membuyar.
__ADS_1
Bak mentari yang merindukan rambulan. Walaupun ia tak pernah di berikan kesempatan untuk bertemu, tapi keduanya saling merindu.