Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 30. Kembali Ke Jakarta (Ara)


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu. Aku merasa waktu begitu cepat berputar, aku masih ingin lama disini. Hanya berdua dengan suamiku untuk menikmati indahnya ciptaan sang Ilahi.


"Kak, Rizka ingin ikut. Tapi papa tidak mengizinkan," rengek Rizka terus melendot di lenganku. Aku tersenyum dan mengusap kepalanya yang tertutup kerudung.


"Kaka, jangan manja. Kita masih sekolah, saat liburan juga pasti akan pulang kesana," ujar Rizki menyilangkan kedua tanganya sambil menatap sang adik lekat.


"Kiki jangan ganggu, biarkan kaka bermanja-manja dengan kak Ra. Kita pasti lama tak akan bertemu. Kenapa hanya sebentar sih?" rengek Rizka lagi. Tapi kali ini aku mendengar ia terisak.


"Hey, jangan nangis. Kapan-kapan kita bisa ketemu lagi. Jangan cengeng, sudah besar juga," ucapku menghapus air matanya.


"Ck, Rizka kan belajar dari kakak. Kakak sangat manja dan cengeng. Tapi banyak yang sayang kakak," ujarnya. Aku merasa tertampar mendengar ucapannya. Aku melihat Alan dan Rizki malah tertawa.


"Jangan tertawa, tidak lucu!" seruku. Aku mengerucutkan bibirku karena kesal.


"Kamu juga, aku kira tulus. Ternyata mau ngejek." omelku melepaskan tangan Rizka dengan kesal.


"Huaa.... Papa lihat, kak Ra jahat. Dia tidak mau lagi berteman dengan kaka,"


Aku membulatkan mataku tak percaya dengan sikap Rizka.


"Sudah-sudah, kalian ini. Sudah cukup mengerjai kakak kalian," ujar tante Syila. Ah, senangnya ternyata tante berpihak padaku. Aku memeluk tante dengan erat.


"Sayang, kirim salam buat keluarga disana. Terutama untuk bunda kamu dan mama kamu Alan, salam rindu dari tante," ujar tante. Aku mengangguk sambil menatap Alan.


"Insha allah tan, akan Alan sampaikan," ucap Alan.


Saat ini kami memang sudah berada di bandara Sultan Iskandar Muda, untuk pulang ke Jakarta. Sudah cukup liburan untukku dan Alan. Kami masih punya tanggung jawab yang besar. Alan juga harus mempersiapkan diri untuk sidangnya beberapa hari lagi.


"Alan, congratulation. Semoga sukses," ucap paman menepuk pundak Alan.


"Terimakasih paman, doakan semuanya lancar," ucapnya sambil tersenyum manis. Aku ikut tersenyum.


"Aamiin, kami disini selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Ara, cepat beri kabar bahagia," ucap paman.


"Ara masih lama paman. Paling bisa tahun depan, Ara juga belum magang," ucapku.


"Sayang, bukan itu maksudnya. Tapi kabar baik ini," ucap tante sedikit berbisik sambil menyetuh perutku. Hah, jadi aku salah sangka. Betapa bodohnya aku. Pipiku terasa sangat panas. Aku sangat malu.


"Tante," rengekku. Lalu mereka pun langsung tertawa. Aku melihat kearah Alan. Dia hanya tersenyum sambil terus menatapku. Aku menunduk malu. Tatapannya kembali mengingatkan aku pada kenangan manis yang kami tinggalkan di pulau Sabang.


***


"Lelah?" tanya Alan saat kami sudah berada di Jakarta. Saat ini kami masih dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Sedikit," jawabku sambil menyadarkan kepalaku di bahunya.


"Tidurlah sebentar," ucap Alan mengusap kepalaku.


"Hubby, apa hubby bahagia?" tanyaku tanpa menatapnya. Aku pejamkan mataku perlahan.


"Jika kamu bahagia, itu artinya aku juga bahagia sayang. Apa yang kamu rasakan, maka itu juga yang aku rasakan." Alan menyetuh tanganku dan mengecupnya dengan lembut. Aku tersenyum dan semakin merapatkan tubuhku.


"Hubby, Ara berharap kita tetap seperti ini terus. Tidak akan ada perpisahan. Ara tidak bisa jauh dari hubby," ucapku. Aku membuka mataku.


"Hubby tahu? Ara sangat takut. Takut jika hubby akan pergi, Ara tidak mau itu terjadi." ucapku memeluk tangannya dengan erat. Aku meraskan Alan mencium kepalaku begitu dalam.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku akan tetap disini," ucapnya sambil terus mengecup kepalaku.


"Ara senang, terimakasih." ucapku kembali memejamkan mataku.


"Terimakasih kembali sayang," ucap Alan menyadarkan dagunya di kepalaku. Hingga tak sadar aku mulai terlelap.


"Sayang, sayang.. Bangun.. "


Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Kenapa Alan begitu cepat membangunkan aku? Apa sudah sampai. Aku melihat keluar jendela. Benar saja, ternyata sudah berada di depan rumah.


"Ayok," ajaknya. Aku mengangguk dan ikut turun.


"Arin rindu," ucapnya berhambur kepelukanku. Aku pun memeluknya dengan erat.


"Kak Ara juga rindu Arin," ucapku mencium kepalanya.


"Kak Ra, bawa oleh-oleh kan buat Arin?" tanyanya. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Ck, jadi ceritanya bukan rindu dong. Bilang aja mau minta oleh-oleh," ujar Alan. Aku tertawa renyah saat melihat bibir Arin mengerucut.


"Enggak kok, Arin memang rindu kak Ara," ucap Arin semakin mengeratkan pelukannya.


"Sudahlah, ayok masuk. Kakak kamu capek," ucap Alan berjalan untuk masuk kerumah. Aku merangkul Arin dan mengajaknya masuk.


"Kak, disana kak Alan tidak macam-macam kan?" tanya Arin saat kami sudah berada di ruang keluarga.


"Enggak kok, cuma kakak kamu tu sering jahil. Nyebelin banget," ucapku menatap Alan. Alan memberikan tatapan tajam padaku, tapi aku hanya terkekeh geli.


"Memang begitu dia kak, malam ini kakak tidur di kamar Arin ya? Arin kangen banget sama kakak, boleh ya kak Lan?" oceh Arin menatapku dan Alan bergantian.


"Enak aja, dia istri kakak. Jadi cuma boleh tidur dengan kakak," ujar Alan duduk di sebelahku. Ia merangkulku dan mencium kening. Aku memukulnya pelan. Bisa-bisanya dia melakukan itu didepan Arin.

__ADS_1


"Wah, sudah ngumpul aja. Mana oleh-olehnya?" tanya mama yang batu saja muncul.


"Ada di dalam koper. Nanti Ara bongkar dulu," ucapku tersenyum pada mama.


"Oh iya ma, tante Syila titip salam rindu katanya," ucap Alan. Mama terlihat senang mendengar perkataannya.


"Wa'alaikumusalam, mama juga sangat merindukan Syila. Sudah lama kami tidak berkumpul," ujar mama merubah raut wajahnya.


"Mama jangan sedih, tante pasti akan pulang nanti," ucapku duduk disebelah mama. Aku melihat kearah papa yang sedang menatapku. Aku menatap Alan bingung. Tatapan papa seperti mengartikan sesuatu.


"Alan, papa dengar kamu sudah menyelesaikan kuliah kamu?" tanya papa pada Alan. Aku terus menatap Alan.


"Iya pa, lusa Alan ujian sidang," ucap Alan menatap papa lekat.


"Ara, kamu sudah selesai?" tanya papa berlalih menatapku. Aku sedikit tersentak, namun dengan cepat aku menggeleng.


"Hmmm... Cepat selesaikan, jika kalian ingin terus bersama." ujar papa yang semakin membuatku bingung.


"Papa, apa maksud papa? Jangan bicara yang bukan-bukan!" seru mama menatap papa lekat. Aku semakin tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Apa sebenarnya maksud perkataan papa? Apa rasa takut ku ada kaitannya dengan papa?


"Jangan lupakan tradisi keluarga, buktikan jika kamu anak papa Alan." Aku melihat papa bangun dari duduknya dan beranjak pergi. Alan menatapku sekilas, lalu ia langsung mengejar papa.


"Ma, apa ini?" tanyaku menatap mama penuh tanda tanya. Aku menatap Arin, ia menaikkan kedua bahunya.


"Mama tidak tahu Ara, papa kamu memang seperti itu. Tidak bisa ditebak," ucap mama merangkulku. Aku menunduk untuk terus berfikir. Tradisi? Apa maksudnya? Apa papa ingin Alan... Ck, jangan berburuk sangka dulu Ara. Semoga apa yang ada dalam pikiran kamu tidak benar-benar terjadi.


"Sayang, kamu terlihat lelah. Istirahat lah. Arin, bawa kakak kamu kekamarnya," ucap mama. Aku mengangguk dan bangun dari dudukku.


"Ayok kak," ajak Arin merangkul tanganku. Aku menatapnya lekat-lekat.


"Akan Arin ceritakan di dalam," bisiknya. Aku mengangguk.


"Setiap anak laki-laki keluarga Digantara harus keluar dari rumah, maksudnya itu. Setiap laki-laki harus melanjutkan pendidikan di luar ngeri hingga mereka benar-benar layak menjadi pewaris DGR Group. Termasuk kak Alan, walaupun kakak bukan anak kandung papa. Tapi papa sudah menganggap kakak seperti anak sulung di keluarga ini. Tradisi ini memang sudah di turunkan sejak dulu, papa juga melakukan tradisi itu," jelas Arin. Aku mengerti sekarang.


Jadi Alan akan melanjutkan study di luar negeri? Lalu bagaimana dengan aku? Aku masih membutuhkan waktu kurang lebih satu tahun untuk menyelesaikan kuliah. Alan tidak mungkin menunggu selama itu, apa kami benar-benar harus terpisah. Tidak, aku tidak mau hal itu terjadi.


"Arin, apa tidak bisa melanjutkan kuliah disini? Mungkin ada jalan lain?" tanyaku dengan penuh semangat. Aku yakin pasti ada jalan keluarnya.


"Tidak bisa kak, setiap anak yang menolak tradisi ini. Maka dia akan di coret dalam kartu keluarga. Contohnya adik papa, saat ini kami tidak tahu keberadaannya dimana. Memang sih dulu paman dan papa ada sedikit konflik. Tapi setelah itu Papa kehilangan jejak." Aku sangat terkejut, apa masih ada tradisi seperti itu? Ini mustahil.


"Jadi Alan harus pergi?" tanyaku. Jantungku berpacu hebat. Aku dan Alan baru saja bersama. Kenapa harus seperti ini?


"Iya kak, Arin harap kalian memutuskan semuanya dengan benar. Arin tidak mau kehilangan kakak ataupun kak Ara. Arin harap kalian bisa mengorbankan kebahagiaan kalian saat ini untuk kebahagiaan masa depan. Jangan biarkan kak Alan mengambil keputusan yang salah. Karena papa tidak pernah main-main dengan ucapannya kak." Aku menatap Arin cukup lama. Hatiku sangat sakit saat mendengar semua yang Arin katakan. Aku sangat mencintai suamiku, aku tidak bisa jauh darinya. Apalagi dalam waktu yang lama.

__ADS_1


"Arin, bisa tinggalkan kakak sediri? Biarkan kakak berpikir," ucapku berjalan menuju balkon kamar. Air mataku mengalir begitu deras. Alan masih disini Ara, lalu kenapa kamu menangis? Hiks, sakit sekali rasanya. Hanya membayangkan saja begitu sakit, bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Apa aku bisa bertahan? Ya Allah, jangan pisahkan Ara dengan suami Ara. Kemanapun Alan pergi, Ara mau ikut.


__ADS_2