
Bersabar. Allah akan memberikan sejuta warna pelangi setelah turunnya hujan. Sebuah senyuman setelah tangisan. Berkah sebagai jawaban setiap doa yang terucap.
~Ketulusan Hati 2~
Hari ini mungkin akan menjadi hari sejarah bagiku. Aku harus sabar. Pagi ini Alan sudah menjemput ku untuk fitting baju. Aku sendiri masih bingung, kenapa aku juga harus ikut. Kenapa tidak Alan lakukan sendiri dengan Jihan. Bunda juga kenapa tidak membantu aku untuk menolak tawaran ini. Padahal bunda tahu perasaan aku dengan baik. Kenapa semua orang sangat aneh.
"Hey, kenapa diam? Bosan?" aku sangat terkejut saat Alan mulai bicara.
"Enggak kok, cuma masih kaget aja." ucapku sambil tersenyum simpul.
"Kaget? Kaget kenapa?" tanyanya lagi. Ih, ngeselin banget sih. Aku kaget lah, kaget kamu bakal nikah secepat ini. Apa lagi dengan orang lain.
"Kaget aja, kamu mau nikah dalam waktu dekat. Aku kira kamu mau nunggu wisuda dulu." ucapku menatapnya sambil tersenyum.
"Niat baik kenapa harus di tunda." ucapnya tanpa menoleh. Aku hanya mengangguk dan menatap jalanan yang masih lumayan sepi.
"Apa Jihan sudah di sana?" tanya ku penasaran.
"hmmm." jawabnya sambil mengangguk. Aku pun ikut mengangguk.
"Semua sudah beres kan? Undangan sudah di sebar?" tanyaku lagi. Aku sangat canggung jika terus diam.
"Hmmm"
Ish, cuek banget sih. Huh, aku tahu bentar lagi kita gak akan bisa sedekat ini lagi. Tapi tolong, jangan cuekin aku.
"Lan, kamu marah ya aku banyak tanya?" tanyaku lagi. Mungkin saja dia cuek karena aku banyak sekali bertanya.
"Enggak.
Tuh kan, sepertinya dia memang marah karena aku banyak tanya. Ya sudah, aku diam aja deh. Sesekali aku melirik Alan dengan ujung mataku. Dia masih tetap sama dengan wajah datarnya. Hah, aku tidak bisa seperti ini.
"Alan aku mau ngomong sesuatu. Boleh?" ucapku membalikan posisi dudukku menghadap Alan.
"Kan dari tadi juga kamu ngomong." ucap Alan tanpa melihat kearah ku. Aku sangat kesal.
"Alan, kamu kenapa sih? Aku tahu kamu mau nikah, tapi jangan cuekin aku dong. Aku gak bisa kayak gini. Aku mau kita tetap seperti dulu. Aku dan kamu, tetap menjadi sahabat. Apapun akan kita hadapi sama-sama. Jangan cuekin aku Alan." aku keluarkan semua yang mengganjal di hatiku. Aku tidak mau hubungan yang sudah lama terjalin harus pecah di tengah jalan.
"Kamu sangat berisik." aku sangat terkejut mendengar Alan mengucapkan hal itu. Alan tidak pernah mengatakan itu sebelumnya. Alan benar-benar berubah. Aku memalingkan wajahku kearah jendela. Aku tidak mau dia melihat air mataku. Ku usap pipi ku perlahan agar dia tak melihatnya.
"Turun, kita sudah sampai." ucapnya keluar dari mobil. Aku sangat terkejut dan langsung ikut turun. Alan menatapku lekat. Aku langsung menunduk.
"Ayok masuk." ucapnya menarik tanganku.
"Alan, lepasin tangan Ara. Jihan akan salah sangka jika kita seperti ini. Alan aku mohon." ucapku mulai panik saat Alan sama sekali tak menghiraukan ucapanku.
"Selamat datang, silahkan masuk." ucap salah seorang wanita cantik sambil menunjuk sebuah ruangan. Aku melihat gaun-gaun pengantin yang sangat indah terpajang disana.
Saat ini kami sudah berada di sebuah ruangan yang cukup besar. Ada beberapa kamar ganti disana. Tapi tunggu! Dimana Jihan? Kenapa aku sama sekali tidak melihatnya.
"Mbak, yang saya pesan kemarin." ucap Alan pada wanita yang sepertinya karyawan di sini.
"Ini mas, silahkan dicoba dulu."
Wah, cantik sekali gaunnya. Eh, kenapa gaunnya sangat tertutup? Bukannya Jihan sangat menyukai gaun yang modern seperti di tv itu ya? Ah mungkin Alan tidak mau Jihan mengespos tubuhnya.
"Nih, sana cobak." Alan memberikan gaun itu padaku. Eh, kenapa aku yang harus mencobanya?
"Alan, kenapa aku yang harus cobak. Jihan mana?" tanyaku sambil melihat kearah pintu, siapa tahu aja Jihan sudah datang.
"Jangan banyak bicara, sana masuk." ucap Alan mendorong tubuhku masuk kedalam ruang ganti.
Ck, kenapa aku yang harus mencobanya sih? Ukuran tubuhku dengan Jihan kan sangat jauh berbeda. Alan, kenapa kamu jahat banget sih. Kenapa kamu lakukan ini? Jika seperti ini, aku merasa diriku yang akan menikah. Aku menghela napas dalam-dalam.
__ADS_1
Aku mulai mengganti baju ku dengan gaun indah ini. Rasanya sangat aneh, aku merasa menjadi seperti pengantin sungguhan. Aku berputar untuk melihat gaun yang aku kenakan. Begitu pas ditubuhku. Ini seperti sudah di pesan jauh-jauh hari. Andai aku yang berada di posisi Jihan. Pasti aku sangat bahagia.
"Ara, kamu gak pingsan kan di dalam?" teriak Alan dari luar. Aku sangat tekejut.
"Enggak kok, ini udah selesai." ucapku sambil merapikan jilbabku.
Aku membuka tirai penutup dengan pelan. Alan menatapku begitu lekat. Ia melihat penampilanku dari ujung kaki hingga kepala. Jantung ku berdetak tak karuan saat Alan menatapku sperti itu.
"Cantik." ucapnya sambil tersenyum.
"Mbak, sepertinya ini cocok. Yang satu lagi juga saya ambil ya." ucap Alan pada mbak-mbak yang tadi bawain gaunnya.
"Alan, kok bajunya pas banget di aku sih? Kan ukuran aku sama Jihan beda banget." ucapku sambil melihat gaun yang aku kenakan.
"Jangan banyak tanya, sana ganti lagi. Kasian bajunya kalau kelamaan kamu yang pake." ucap Alan yang berhasil membuat aku sangat kesal.
"Tadi kan kamu yang suruh cobak. Alan jahat!" ucapku langsung masuk lagi kedalam ruang ganti. Aku sangat kesal. Dia yang maksa aku buat pake gaun ini, dan tadi apa dia bilang? Keterlaluan.
"Hey, mukanya jangan di tekuk gitu. Jelek tahu gak?" ucapnya saat aku keluar dari ruang ganti.
"Bodo." ucapku kesal sambil memberikan gaun yang tadi aku cobak pada Alan. Aku pun beranjak keluar dari sana. Aku sudah terlanjur kesal.
Aku hentakkan kakiku beberapa kali, aku benar-benar kesal. Jika seperti ini, aku tidak akan mau ikut. Aku melihat kesekeliling tempat ini. Lalu pandanganku langsung tertuju pada gerobak kecil yang berdiri tak jauh dariku.
"Huaaaaaaa... Es serut, aku sudah lama gak makan es serut." teriakku dan langsung berlari kesana. Sudah hampir 3 tahun aku tidak pernah jajan jajanan semasa kecil.
"Mang, dua ya. Satu sirupnya rasa strawberry aja ya. Yang satu lagi campur." ucapku dengan semangat.
"Aaaasiap neng." ucap si mamang begitu lucu. Sepertinya si mamang ngefans banget deh sama bang Atta. Sampe niruin segala.
"mamang fans ya sama bang Atta?" tanyaku.
"Iya neng, siapa tahu aja saya juga bisa terkenal kayak dia." ucap si mamang yang berhasil membuatku tertawa.
"Ini neng, 15 ribu aja."
Aku mengambil uang pecahan 50 ribu dari tasku.
"Ini mang, ambil aja semuanya. Sahabat saya mau nikah, jadi itung-itung merayakan kebahagiaan." ucapku sambil memberikan uang itu pada si mamang Aaaasiap.
"Wah, makasih neng. Semoga pernikahannya lancar dan jadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Aamiin."
"Aamiin, makasih mang. Saya pamit dulu." ucapku yang langsung tancap gas. Sepertinya Alan sudah menungguku.
Tuh kan bener, dia udah nungguin. Aku sedikit berlari menghampiri Alan yang sedang bersandar di mobilnya.
"Nih." ucapku memberikan satu cup es serut yang tadi aku beli pada Alan.
"Kamu masih makan kayak ginian? Kayak anak kecil." ucapnya kembali memancing keributan.
"Kalau gak mau ya udah, aku bakal habisin semuanya." ucapku kesal.
"Aku cuma bercanda, sini aku mau juga." ucap Alan mengambil es di tanganku.
"Katanya gak mau, padahal mah doyan juga." ucapku masuk ke dalam mobil. Begitu pun dengannya ikut masuk kedalam mobil.
"Bismillahirrahmanirrahim." Aku mulai menyantap es yang berhasil membuat tenggorokanku segar. Ya ampun, enak banget. Mungkin efek udah lama gak makan yang beginian.
"Habis ini mau kemana lagi?" tanyaku sambil terus menikmati es yang super enak ini.
"Toko cincin." ucapnya. Aku mengangguk.
"Oh iya, kenapa Jihan tidak ikut? Mau buat kejutan ya?" tanyaku lagi saat kembali mengingat Jihan.
__ADS_1
"Ra, jika kita sedang berdua jangan bahas orang lain bisa?" ucap Alan yang berhasil membuatku bingung. Kenapa dengan Alan? Apa jangan-jangan mereka sedang marahan. Ya ampun, udah mau nikah juga masih marahan.
"Iya deh maaf. Sebaiknya kalian cepet baikan deh. Jangan sampe pas nikah masih marahan." ucapku menatap Alan sambil tersenyum. Alan membalikan tubuhnya dan menatapku lekat. Apaan sih Alan ini? Aneh banget.
"Kamu ini kenapa jadi bodoh gini sih?"
Apa? Aku bodoh. Enak aja dia bilang aku bodoh.
"Alan! Siapa yang bodoh? Enak aja kamu bilang aku bodoh. Aku itu perempuan paling pintar tahu gak." ucapku tak terima dengan perkataan Alan padaku. Enak saja dia bilang aku bodoh. Kalau aku bodoh mana mungkin aku bisa menyelesaikan sekolahku dengan cepat. Maaf ya aku jadi sombong, ini semua gara-gara Alan sih.
"Jangan bilang lagi kalau Ara bodoh. Gak suka tau! Ayok jalan, sini es nya. Gak jadi Ara kasih buat Alan." ucapku mengambil es dari tanganya. Punyaku sudah habis. Kebetulan punya Alan masih banyak, jadi aku ambil aja deh. Aku kembali memakan es milik Alan.
Aku menoleh ke arahnya karena dari tadi belum juga jalan.
"Kenapa liatin Ara gitu? Marah ya es nya Ara ambil?" tanyaku sambil mengigit sendok es.
"Ck, habiskan." ucapnya. Dia langsung menanancap gas mobilnya. Tidak ada lagi pembicaraan. Aku menghidupkan radio karena merasa sangat bosan. Huaaaaaaa... Lagu BCL, cinta sejati. Aku suka banget. Aku membesarkan speakernya dan mulai mengikuti lagunya.
Aku melihat es di tanganku sudah mau habis. Aku melihat Alan yang sedari tadi diam. Aku menyendok es dan mengarahkannya ke mulut Alan. Pasti dia bakal nolak, Hehe.
Hap! Apa? Dia menerima suapan dariku? Ya ampun, kenapa aku jadi malu gini. Aku dengar dari orang-orang. Kalau cewek sama cowok minum atau makan dari bekas mulut si cewek atau cowok itu namanya ciuman secara tidak langsung. Huaaa... Kenapa aku gak kepikiran dari tadi. Aku menutup bibirku dengan tangan.
Bunda, papah, maafkan Ara. Ara tidak sengaja.
"Kamu kenapa? Mual? Pipi kamu juga sangat merah. Kamu sakit?" tanya Alan terlihat panik. Aku langsung menyingkirkan tangan dari bibirku dan menggeleng.
"Beneran? Pipi kamu merah banget Ara." ucap Alan menghentikan mobilnya ditepi jalan. Aku terus menggeleng. Alan membalikan tubuhnya menghadap padaku. Alan menyetuh kening dan pipiku beberapa kali. Jantungku berdetak hebat.
"Aku tidak apa-apa Alan." ucapku menunduk. Ini salah, tidak seharusnya Alan melakukan itu. Aku mendengar Alan menghela nafas berat.
"Sebaiknya kita tunda saja ke toko cincinnya. Sepertinya kamu... "
"Aku tidak apa-apa Alan." potongku. Aku tidak mau jadwal yang sudah Alan buat hari ini hancur karena kesalahanku.
"Beneran?" tanyanya manatap ku penuh khawatir. Aku tersenyum dan mengangguk. Andai kita bisa terus seperti ini Alan. Aku sangat senang melihat kamu begitu perhatian padaku.
"Ya sudah." ucapnya sambil mengusap kepalaku. Lalu dia pun kembali melajukan mobilnya. Aku memalingkan wajahku ke jendela mobil.
Jangan seperti ini Ara. Jaga persaan kamu. Ini salah. Alan bukan milik kamu, sebentar lagi dia akan menjadi milik orang lain.
"Ra, cobak kamu lihat ini." ucap Alan sambil menyodorkan sebuah undangan yang sangat cantik.
"Undangan? Cantik." ucapku membolak balikan undangan yang Alan berikan.
"Buka Ara." ucap Alan yang terlihat kesal. Kenapa harus aku buka? Alan jahat banget sih, pasti dia mau pamer. Dengan kesal aku membuka undangan itu sambil menatap Alan. Aku alihkan pandanganku pada undangan. ARLAN DIGANTARA DAN DILLARA CHALISTA PUTRI PRATAMA.
Ck, memang nya ada apa dengan undangan ini? Aku pun kembali menatap Alan. Alan pun menatapku sebentar.
Tunggu! Aku kembali menatap nama di undangan. WHAT!? Apa aku mimpi. Kenapa ada namaku disini? Bukannya...
"Alan apa maksudnya ini? Jadi... "
Aku melihat Alan mengangguk dan tersenyum lebar.
Hah, jangan bilang ini mimpi. Aku menepuk pipiku. Sakit. Jadi ini nyata. Tapi kenapa...
"Kalian ngerjain Ara?" tanya ku menatap Alan lekat. Alan menaikan kedua bahunya. Aku mendengus kesal. Bagaimana bisa semua orang berhasil mengerjai aku. Aku kembali mengingat saat fitting baju. Pantas saja gaun itu begitu pas di tubuhku. Bunda dan tante Nissa juga begitu semangat kemarin. Jadi aku sudah salah faham. Betapa bodohnya aku.
Aku kembali menatap undangan pernikahan. Aku menyentuh namaku dan Alan bergantian. Ya Allah, terimakasih. Jadi ini semua adalah jawaban dari setiap doaku. Tak sadar air mataku jatuh mengenai undangan.
Ternyata benar, setelah hujan akan ada pelangi yang indah. Air mata yang terus aku tumpahkan akan menjadi sebuah senyuman. Terimakasih ya Allah.
Aku menatap Alan yang masih pokus menyetir. Aku tersenyum. Terimakasih calon imamku.
__ADS_1