
Aku terus menunduk, rasanya aku ingin berteriak dan mengatakan jika aku tidak rela di tinggal seperti ini. Aku mengangkat kepalaku saat sebuah tangan menyetuh pundakku. Mama.
"Jangan seperti ini sayang," ucap mama duduk disebelahku. Aku menatap mama lekat. Hiks, air mataku kini sudah tak bisa terbendung lagi.
"Mama, Ara tidak kuat." ucapku memeluk mama. Aku melepaskan semua beban di dadaku. Lalu aku merasakan seseorang menyentuh pipiku. Aku mengangkat kepalaku dan melihat Alan sudah berdiri disana.
"Masih ada waktu satu jam, ikut lah denganku sebentar." ucapnya. Aku melepaskan pelukan mama dan menyetujui ajakan Alan.
Alan menggenggam tanganku, begitu hangat. Aku menatap Alan yang masih terdiam. Aku tahu, dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Perasaan berat untuk ditinggalkan dan meninggalkan.
Alan membawaku kesebuah tempat yang cukup sepi. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Aku sendiri bingung harus bicara apa. Aku duduk di sebelahnya. Ku letakkan tangan hangatnya di pipiku.
"Hubby, jaga diri baik-baik disana. Jangan lupa solat dan makan harus teratur. Jangan sering bergadang." kataku sembari mencium tangannya. Aku menatap wajahnya.
"Kamu juga, jaga diri baik-baik." ucapnya mengecup keningku cukup lama. Aku memejamkan mataku. Ku buka mataku perlahan saat Alan melepaskan kecupannya.
Aku tersenyum dan menyetuh pipinya. Ku kecup kedua matanya dengan lembut. Hingga berakhir dibibirnya. Ku pejamkan mataku kembali saat Alan menyapu bibirku dengan lembut.
"Aku menunggumu." bisik nya. Aku membuka mataku dan mata kami pun saling bertemu.
"Hmmm..." jawabku sambil mengangguk.
"Sayang, ingat untuk selalu menghubungi hubby. Apapun itu, ok?"
Aku tersenyum dan mengangguk. Aku memeluknya dengan hangat.
"I love you hubby." ucapku. Aku mengeratkan pelukanku.
"Biarkan seperti ini beberapa saat." pintaku. Aku melingkarkan kedua tanganku. Ku sandarkan kepalaku di dadanya. Meraskan detak jantungnya yang sudah seperi alunan musik untukku.
Suara pesawat terbang membangunkan mimpiku. Aku membuka mataku, ku angkat kepalaku untuk menatapnya.
"Maaf, Ara tertidur." ucapku. Alan tersenyum dan mengecup bibirku.
"Kenapa kamu sangat sering tidur huh?" tanyanya.
"Tadi malam hubby tidak membiarkan Ara tidur dengan baik. Salah hubby." ujarku. Memang benar, semalam aku tidak bisa tidur karena ulahnya.
"Begitu ya? Hubby lupa." ucapnya mencubit hidungku.
"Ck, hubby mah pura-pura lupa." ucapku sambil mengerucutkan bibirku. Aku mengeluarkan ponselku dan menunjukkan sesuatu padanya.
"Hubby sangat tampan," ucapku. Aku memang sengaja memasang wallpaper fotonya saat ia sedang tersenyum. Aku mengambilnya saat Alan sedang bicara dengan beberapa temanya. Ya, saat hari wisudanya beberapa hari yang lalu. Foto itu terlihat sangat alami.
"Kapan kamu ambil ini?" tanya Alan mengambil ponselku. Aku menatapnya dan tersenyum.
"Saat hubby tak menyadarinya. Ara sengaja mengambilnya. Habis saat itu hubby sibuk sendiri sih." jawabku apa adanya.
"Hmmm... Tidak jadi masalah, tapi lain kali kamu harus bayar." ujarnya. Aku sangat terkejut dan langsung menatapnya tajam.
"Bayar? Cuma foto aja bi. Hubby pelit." ucapku sambil mengerucutkan bibirku. Aku menatapnya kesal.
__ADS_1
"Kan foto gratisnya ada disini." ucapnya sambil menunjuk hatiku. Aku tersenyum. Aku sama sekali tidak terpikir tentang hal itu.
"Terus, di sini ada foto Ara tidak?" tanyaku sambil menekan dadanya. Alan tersenyum dan mengangguk.
"Sudah hampir penuh, mulai dari potret saat kamu kecil samapai sekarang ada disini." ucapnya menyetuh tanganku yang masih berada di dadanya.
"Ara juga punya, yang paling Ara ingat itu saat hubby menangis karena mainan hubby Ara rusak. Saat itu hubby sangat lucu." ujar ku. Bayangan saat kecil dulu kembali berputar di ingatanku.
"Hmmm.. Lalu si cengeng terus menangis sepanjang hari karena bibirnya di gigit semut. Itu sangat menggemaskan." ujarnya. Aku tertawa saat mengingat masa itu. Bagaimana tidak, bibirku terasa sangat sakit dan bengkak karena gigitan semut. Aku tidak tahu kalau buah jambu yang aku makan ada semutnya. Saat itu Alan yang memetiknya untukku.
"Hubby ingat tidak saat kita ke puncak dulu? Saat itu Ara terjatuh dan kaki Ara terkilir. Hubby menggendong Ara, saat itu Ara sangat bahagia. Disitu lah Ara menyadari, jika Ara menyukai Hubby." sambungku. Aku menatap Alan yang juga tengah menatapku. Aku sangat senang bisa kembali mengingat masa-masa indah dulu. Kenangan dimana awal kebersamaan aku dan dirinya.
***
Aku terus menatap punggung tegap itu yang mulai menghilang di balik dinding kokoh. Air mataku mengalir deras. Hatiku juga terasa hampa.
"Tidak apa-apa." ucap bunda merangkulku. Aku terus menatap pintu itu dengan tatapan kosong. Dia benar-benar pergi. Ku sandarkan kepalaku di pundak bunda.
"Ara mau ikut bunda pulang." ucapku memeluk bunda erat.
"Iya sayang," ucap bunda mengecup kepalaku.
"Kita pulang sekarang?" tanya bunda. Aku mengangguk pelan. Bunda pun membawaku pergi. Aku juga sudah meminta izin pada mama, malam ini aku akan menginap di rumah bunda.
Sepanjang perjalanan aku hanya menatap jalanan yang cukup ramai. Berbanding terbalik dengan hatiku yang terasa kosong. Ku sentuh cincin yang melingkar di jari manisku. Aku mengecupnya dengan lembut. Aku sudah merindukannya.
"Kapan kamu mulai magang sayang?" tanya bunda membuyarkan lamunanku.
"Bunda, Ara merindukan Alan." ucapku memeluk bunda. Aku mulai menangis di pelukkan bunda.
"Sayang, jangan seperti ini. Jika kamu terus bersedih, bagaimana dengan Alan disana? Dia tidak akan tenang dan akan terus memikirkan kamu. Kamu mau Alan sakit? Tidak kan? Kamu harus menjadi kekuatan untuk suami kamu, jangan jadi istri yang lemah." ujar bunda. Aku menatap bunda lekat.
"Maafin Ara bun, Ara sudah tebiasa dekat dengan Alan. Ara tidak pernah menyangka jika ini sangat menyakitkan. Tapi Ara janji, Ara akan kuat bun. Ara janji. Jadi izinkan hari ini Ara menangis di pelukan bunda." uajarku. Hatiku sangat perih. Aku ingin meluapkan semuanya. Aku menangis sesegukan di pelukan bunda. Bunda terus mengelus punggungku dan mengecup kepalaku. Aku akan meluapkan emosiku semuanya, agar besok aku bisa kembali seperti biasa.
'Hubby, jaga diri dengan baik disana. Ara janji, Ara juga akan menjaga diri Ara disini. Ara sangat merindukan hubby. Padahal baru beberapa menit hubby pergi, tapi Ara sangat merindukan hubby.'
***
Ku awali hari ini dengan senyuman. Aku keluar dari kamar dengan suasana hati yang lebih baik dari kemarin. Walaupun mataku masih sedikit bengkak.
"Pagi pah, bun, and my little brother." sapaku. Aku duduk di sebelah bunda yang tengah menuangkan nasi untukku.
"Kak, berhenti memanggilku my little brother. Aku sudah dewasa," ujar Azka tak terima dengan panggilan sayangku. Aku terkekeh mendengarnya.
"Tapi bagi kakak, kamu masih sama. My little brother." ucapku penuh penekanan. Aku bisa melihat wajah Azka yang mulai kesal.
"Sudah jangan ribut, ayok sarapan." ajak bunda sambil menuangkan lauk di piringku.
"Terimakasih bunda, Ara sangat lapar. Bismillahirrahmanirrahim." Aku menyantap sarapan pagiku dengan semangat. Saat ini aku sedang menunggu kabar dari suamiku. Aku tahu dia sudah sampai tujuan. Mungkin Alan masih istirahat, perjalanan ke Amerika bukanlah perjalanan yang singkat. Jadi aku akan sabar menunggu kabar darinya.
"Ara, mau berangkat dengan papah?" tanya papah. Aku mengangguk antusias. Kebetulan kantor tempat aku magang tak jauh dari kampus.
__ADS_1
"Azka, Ara, papah tunggu di depan." ucap papah beranjak dari meja makan. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Dek, weekend nanti kerumah nenek yuk. Kakak udah lama banget gak kerumah nenek. Mau ya? Harus mau." ajakku sedikit memaksa. Azka menantapku tajam. Aku hanya bisa tersenyum.
"Tergantung, kalau gak ada pertandingan basket di sekolah." ucapnya datar. Hal itu berhasil mengalahkan semangatku luntur. Aku mengerucutkan bibirku dan menatapnya lesu.
"Iya deh, akan Azka usahakan." imbuhnya yang berhasil membuatku senang.
"Yey, makasih sayang. Ya sudah, ayok berangkat. Papah udah nunggu kita." ucapku. Aku menyambar tas milikku dan langsung beranjak keluar.
"Kak, menurut kakak aku ambil kedokteran atau arsitek? Azka bingung." Aku menoleh kearahnya dan mengambil kertas yang ia pegang. Saat ini kami sudah berada di perjalanan menuju rutinitas masing-masing.
"Em.. Ikuti kata hati kamu. Menurut papah bagaimana?" tanyaku menatap papah yang sedang fokus menyetir.
"Papah tidak pernah menuntut kalian harus kemana, papah serahkan masa depan kalain pada diri kalian masing-masing." jawab papah. Jawaban itu tak pernah berubah sejak dulu. Aku tersenyum senang.
"Hmmm... Azka lebih tertarik dalam bidang kedokteran. Azka akan mengikuti jejak paman. Kalau tidak salah, kiki dan kaka juga akan kuliah disini." ujar Azka yang berhasil membuatku terkejut. Pasalnya mereka tak pernah mengatakan apapun padaku.
"Benarkah? Itu artinya mereka akan tinggal di sini? Wah, ini kabar bahagia." Aku sudah membayangkan bagaimana suasana rumah nenek yang akan di penuhi cucu-cucunya.
"Oh iya pah, katanya om Ilham juga mau pulang ya dari Singapura?" tanyaku menatap papa.
"Ya, dia akan pindah kesini. Bagaimanapun dia harus mengurus perusahaan kakek kamu," jawab papah.
"Hmmm... Itu artinya keluarga kita benar-benar akan berkumpul kembali. Sudah lama sekali Ara tidak bertemu dengan Isabel, pasti dia semakin cantik. Apalagi si kecil Dino, dia pasti sudah sebesar Azka." ujar ku sambil membayangkan wajah mereka. Terakhir kali aku mendapat kabar dari mereka itu lebaran tahun lalu. Itu pun hanya sebatas video call. Kesibukan benar-benar mejauhkan jarak diantara kami.
"Ara, disini bukan kantornya?" tanya papah. Aku langsung mengangguk. Ya, saat ini kami sudah berada di depan kantor yang lumayan besar. Walaupun tak sebesar kantor milik keluarga Digantara.
"Kalau begitu Ara turun pah, terimakasih sudah mengantar Ara. Assalamualaikum papah." ucapku sambil mengecup punggung tangan papah.
"Wa'alaikumusalam." jawab papah. Lalu aku menoleh kebelakang.
"Kakak duluan, belajar yang benar." ucapku. Azka mengangguk dan mencium tanganku. Aku pun langsung beranjak turun. Aku melambaikan tanganku saat mobil papah beranjak pergi.
Huh, semangat Ara. Ini adalah hari pertama untuk mu dan harus meninggalkan kesan baik. Tanpa ragu aku langsung masuk kedalam gedung. Aku tersenyum senang karena ternyata beberapa temanku sudah hadir.
"Assalamualaikum semuanya, aku terlambat ya?" tanyaku.
"Wa'alaikumusalam, enggak Ra. Lima belas menit lagi kita di suruh masuk ke ruangan. Biasa, penyambutan." ujar salah seorang temanku. Aku mengangguk dan ikut duduk bersama mereka.
"Ra, Alan beneran keluar negeri ya? Terus kalian LDR an dong?" tanya Clara.
"Mau bagaimana lagi? Sudah tradisi keluarganya. Aku tidak bisa menolak." ucapku tetap tersenyum.
"Huh, kalau aku jadi kamu pasti gak akan kuat. Apalagi disana banyak banget cewek cantik dan kamu tahu sendiri kan kehidupan disana seperti apa?" ujar Clara. Aku tertawa renyah mendengar perkataannya.
"Itu kamu, kalau aku sih Insha allah kuat. Lagian disana dia menuntut ilmu, aku juga percaya padanya. Dia bukan tipe pria hidung belang." kataku sambil tersenyum. Aku sangat percaya Alan pasti akan menjaga jarak dengan wanita disana. Aku tahu betul sifatnya.
"Beruntung banget Alan bisa punya istri seperti kamu Ra." ucapnya. Aku hanya bisa tersenyum.
Tak berapa lama kami pun di panggil untuk masuk keruangan. Aku sangat gugup. Bismillahirrahmanirrahim, semoga semuanya diberikan kelancaran. Semangat Ara, kamu pasti bisa.
__ADS_1