Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 58. Waktu Tidak Bisa Diputar Kembali


__ADS_3

Waktu adalah dimensi yang tidak dapat di ulang ataupun di mundurkan. Waktu akan terus berjalan tanpa perduli apapun. Apa yang terjadi maka akan tetap terjadi. Semua yang sudah berlalu tak akan bisa kembali lagi.


Seorang gadis cantik terlihat sedang terduduk di depan jendela. Menyaksikan taburan bintang yang tak beraturan. Menatap sang rambulan yang tengah tersenyum riang.


"Tuhan, kenapa dunia ini begitu sempit?" gumam gadis itu sembari memeluk dirinya sendiri.


"Aku tahu, setiap manusia memiliki takdir masing-masing. Tapi aku bingung dengan takdirku. Aku jatuh cinta padanya, tapi kenapa semuanya malah menjadi serumit ini?" ujarnya. Ia mengusap lengannya sendiri saat merasakan hawa dingin mulai menusuk tulangnya.


"Aku sangat mencintainya, sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Aku sudah jatuh hati," lanjutnya. Ia memejamkan matanya dan membiarkan angin malam menyapanya dengan lembut.


***


"Arin, mau kemana pagi-pagi?" tanya Nissa saat melihat Arin sudah rapi.


"Arin ada janji dengan Azka ma," jawabnya malas. Ia menarik kursi dan segera duduk di sana.


"Azka? Mau kemana sayang?" tanya Nissa lagi. Arin mengambil roti selai yang sudah disiapkan, ia menggigitnya perlahan.


"Kantor ma, Azka butuh bantuan Arin. Lagian hari ini jadwal kuliah Arin lagi kosong." jawab Arin.


"Ya sudah, habiskan sarapannya." ujar Nissa. Ia terlihat sibuk menyuapi Dika yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


"Dika, makan yang banyak. Supaya cepat besar," ujar Arnold yang baru saja muncul sambil mengusap kepala Dika. Ia duduk di kursi kebesarannya sambil menatap Arin yang memasang wajah masam.


"Papa, Dika bisa menggambar robot loh. Kata buk guru, Dika boleh ikut lomba menggambar." oceh si kecil Dika dengan mulut yang di penuhi makanan.


"Habiskan dulu sayang, baru bicara." ujar Nissa menyapu bibir mungil Dika dengan tisu.


"Wah, anak papa memang pintar. Papa akan berikan hadiah untuk Dika," ujar Arnold memcubit pipi Dika dengan gemas. Dika terlihat senang dan bersorak riang. Nissa tersenyum bahagia saat melihat semua itu.


"Arin, bagaimana dengan kuliah kamu?" tanya Arnold pada Arin. Arin menatap Arnold lekat.


"Seperti biasa pa, lancar." jawab Arin. Ia meneguk jus hingga setengah.


"Besok ada acara di kantor papa, jika kamu mau belajar. Boleh ikut besok," ujar Arnold. Arin menatap sang papa lekat.


"Arin belum terbiasa pa dengan kantor papa," balas Arin.

__ADS_1


"Jika tidak sekarang kapan lagi? Besok semua klien akan datang, ini kesempatan kamu untuk belajar menjadi seorang pembisnis handal. Dalam keluarga kita tak mengenal wanita atau lelaki untuk menjadi seorang pengusaha," jelas Arnold sedikit membujuk putrinya.


'Semua klien? Itu artinya kak Dio juga ada disana, sepertinya tak ada salahnya aku coba.'


"Em, boleh deh pa. Besok Arin ikut papa, harap bimbingan papa." ujar Arin dengan wajah sumringah. Arnold dan Nissa pun saling melempar pandangan. Sejak tadi wajah putrinya terus di tekuk, lalu seketika langsung berubah ceria.


"Hmmm... Lanjutkan makannya," ujar Arnold. Lalu tak ada lagi pembicaraan diantara mereka.


Setelah selesai sarapan, Arin langsung berpamitan untuk pergi. Setelah mendapatkan izin, ia pun langsung bergegas pergi karena Azka sudah menunggunya.


Arin sedikit berlari saat melihat mobil Azka sudah terparkir di depan rumah.


"Udah lama?" tanya Arin saat masuk kedalam mobil.


"Lumayan," jawab Azka singkat. Lalu ia pun melajukan mobilnya.


"Az, dapat kabar kan dari kak Alan sama kak Ara?" tanya Arin.


"Ya, kak Ara sedang mengandung." jawab Azka. Pria yang satu ini memang terkesan cuek, namun memiliki kepedulian yang tinggi. Arin sudah tahu itu semua. Satu tahun terus bersama, membuat Arin tahu betul sifat asli Azka yang sebenarnya.


"Senangkan? Sebentar lagi aku bakal jadi aunti dan kamu jadi uncle. Pasti lucu deh babynya, apa lagi mirip kak Alan." celoteh Arin. Azka yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.


"Ya, semoga mereka cepat pulang." ucap Arin.


"Bagaimana?" tanya Azka ambigu. Arin menatap Azka penuh tanda tanya.


"Pria idaman kamu," ucap Azka. Tak ada yang mereka sembunyikan satu sama lain. Jadi Azka maupun Arin sudah tahu rahasia masing-masing.


"Hmmm.. Ya seperti itu, tidak ada perkembangan." jawab Arin lemas.


"Jika jodoh tidak akan kemana," ujar Azka. Arin mengangguk pelan.


"Papa tidak akan setuju, bagaimana pun kak Dio adalah kakaknya kak Alan. Mana mungkin papa setuju, lagian kak Dio tidak pernah melihatku." curhat Arin. Azka yang mendengar itu hanya bisa tertawa.


"Ih, jangan ketawa. Gak ada yang lucu," rengek Arin mengerucut bibirnya.


"Dasar bucin," ujar Azka sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Biarin, dari pada kamu joku. Jomblo gak laku, woeee... " balas Arin menjulurkan lidahnya. Azka yang mendengar itu kembali tertawa. Hal yang paling ia sukai dari Arin adalah sifat riang dan humornya yang selalu membuat dirinya tertawa.


***


Musim gugur telah usai dan musim dingin kini mulai bergulir. Butiran salju mulai turun perlahan, seperti hamburan kapas yang tertiup angin.


Tangan lentik mulai terulur untuk merasakan sengatan dingin salju pertama yang jatuh menimpa sang bumi.


"Sayang, kenapa diluar? Ini sangat dingin, kamu masih flu. Ayok masuk," ujar pria tampan merangkul pinggang wanita yang masih setia bermain salju.


"Sebentar lagi bi, ini adalah impian Ara. Melihat secara langsung salju pertama jatuh ke bumi. Sangat indah, lihat bi." Ara terlihat senang sambil menunjukkan salju di tangannya.


"Hubby tahu, tapi ini sangat dingin. Tidak baik untuk kesehatan kamu," ucap Alan mengecup pucuk kepala Ara. Ara tersenyum.


"Baiklah, ayok." Mereka pun masuk kedalam rumah. Ara melepaskan hoodie miliknya dan memilih masuk kedalam selimut. Ia mengusap hidungnya yang masih sedikit gatal karena terkena flu. Pergantian musim memang rentan membuat orang sakit, termasuk Ara. Sudah dua hari ia terkena flu.


"Bi, besok Ara mau keluar ya? Ara mau jalan-jalan," ujar Ara menatap Alan penuh harap.


"Tidak, kamu masih sakit. Di rumah lebih baik, besok hubby ada meeting sampai sore jadi tidak bisa menjaga kamu. Jika bosan, hubby akan menyuruh Jane menemani kamu." tungkas Alan. Ara memgerucutkan bibirnya, ia sangat ingin keluar rumah. Yang tepatnya ia ingin bermain salju seperti kebanyakan orang.


"Sayang, abi tidak memberi izin kita keluar. Gimana dong, jangan marah ya?" ucap Ara mengelus perutnya.


"Jangan jadikan dia sebagai alasan, tetap dirumah. Setelah kamu sembuh baru bisa keluar, ini demi kesehatan kamu sayang. Saat ini kamu tidak sendiri, pikirkan anak kita. Jika kamu sakit, dia akan ikut sakit. Paham?" Alan mengelus kepala Ara dengan lembut. Ara menatap Alan lekat, lalu ia mengangguk pasrah.


"Ya sudah, kamu harus istirahat." lanjutnya. Alan mencium kening Ara dengan mesra. Alan juga membantu Ara untuk tidur, ia membenarkan selimut Ara.


"Bi, hari ini hubby pergi lagi? Apa hubby masih sering mual?" tanya Ara menggenggam tangan Alan.


"Ya, hari ini hubby harus menyelesaikan revisian. Besok deadline pengumpulan tesis pada Professor Luis. Jaga diri di rumah, jangan melakukan pekerjaan berat ok? Hubby baik-baik aja, mualnya sudah sedikit berkurang" jawab Alan.


"Ara cemas, hubby terlihat kurus." Ara menyentuh pipi Alan dengan lembut.


"Tidak apa, istirahat lah. Hubby pergi dulu, cuma sebentar."


"Hati - hati bi," ucap Ara mencium tangan Alan. Alan tersenyum, ia mencium perut Ara dengan penuh kasih sayang.


"Assalamualaikum," ucap Alan langsung beranjak pergi.

__ADS_1


"Wa'alaikumusalam," balas Ara. Ara memeluk dirinya sendiri sambil menatap punggung Alan yang hilang di balik pintu. Ia menatap sekeliling kamar, rasanya sangat membosankan. Ara terlihat menarik napas panjang. Lalu ia pun menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Matanya mulai terpejam perlahan. Sejak hamil, ia sering mengantuk dan lelah. Bahkan ia sangat mudah sakit.


__ADS_2