
Ara terbangun saat merasa silau. Matanya terbuka perlahan untuk menyesuaikan cahaya. Ia melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 3 dini hari.
Kenapa lampu belum dimatikan?
Ara melempar tangannya kesamping. Namun, ia sangat terkejut karena tidak mendapatkan teman tidurnya di sana. Ara menajamkan pandangannya kesetiap penjuru kamar. Sosok itu belum juga terlihat. Hingga matanya tertuju pada lambaian gorden yang tertiup angin.
Ara bangkit dari tempat tidur. Menghampiri pintu balkon yang terbuka. Seulas senyuman terukir di bibir tipisnya. Kakinya terus melangkah menghampiri sosok yang sedari tadi ia cari. Ara memeluk mesra tubuh kekar milik suaminya. Menempelkan wajahnya dipunggung bidang Alan.
"Kenapa belum tidur?" tanya Ara semakin mengeratkan pelukannya.
"Hubby tidak bisa tidur, sayang." Alan memutar tubuhnya. Menatap wajah cantik Ara begitu dalam. Menyelipkan rambut panjang yang menutupi sebagian wajah cantik itu.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang hubby pikirkan?" tanya Ara mengusap wajah Alan dengan lembut. Alan tidak langsung menjawab pertanyaan Ara. Ia membenamkan wajahnya diceruk leher Ara. Menghirup aroma sakura yang masih menempel di tubuh istrinya.
"Sepertinya hubby harus melepaskan posisi ini, Arin lebih berhak atas semuanya. Mungkin kita akan memulai lagi dari nol, sayang. Apa kamu keberatan?" ujar Alan memeluk Ara begitu erat.
"Apa papa yang minta?" tanya Ara. Alan melepaskan pelukannya. Menatap netra coklat milik Ara.
"Tidak, tapi hubby merasa tidak enak dengan Arin. Saat ini kak Dio sudah sah menjadi menantu keluarga Digantara. Posisi ini lebih cocok untuknya. Dika semakin beranjak dewasa, sudah saatnya hubby melepaskan semuanya dan memulai dari awal."
Ara tersenyum lebar, ia melingkarkan tangannya di leher Alan. Mengecup bibir Alan dengan gemas.
"Kamu tidak keberatan?" Alan menaikkan sebelah alisnya melihat keceriaan di wajah Ara. Ara menggeleng pelan.
"Justru Ara bahagia, tidak ada lagi kesibukan hubby. Mari kita mulai sama-sama, kita merajut semuanya dari awal. Ara akan selalu mendukung apapun keputusan hubby," ujar Ara dengan begitu semangat. Alan merasa lega mendengar persetujuan istrinya.
"Terima kasih, sayang. Hubby kira kamu akan kecewa?"
"Tidak bi, Ara akan tetap mendukung apapun itu. Selama hubby bahagia," balas Ara. Alan tersenyum bahagia. Ia memeluk mesra istri tercintanya.
"Jangan khawatir, hubby akan tetap menjamin kebahagiaan kalian. Meskipun bukan dengan kemewahan."
"Ara juga tidak butuh kemewahan, Bi. Asalkan kita selalu bersama, maka Ara akan sangat bahagia." Ara memejamkan matanya. Merasakan kehangatan yang menyelimuti hatinya.
"Sudah, ayo tidur. Besok kita harus pulang pagi. Ara tidak mau terlambat. Ara sangat merindukan Ichal. Dua hari kita meninggalkan Ichal, sepertinya Ichal juga merindukan kita," ujar Ara melepaskan pelukan hangatnya.
"Baiklah tuan putri, sebaiknya kita juga memanfaatkan waktu yang sedikit ini."
__ADS_1
"Hubby, apa yang hubby lakukan?" pekik Ara saat tiba-tiba Alan mengangkat tubuhnya. Alan tergelak saat melihat wajah mengemaskan istrinya. Ara memukul dada Alan dengan kesal. Lama-lama jantungnya bisa copot, karena ulah Alan.
***
"Assalamualaikum," ucap Ara sedikit berlari memasuki rumah kedua orang tuanya. Mengabaikan Alan yang baru keluar dari mobil. Saat ini ia ingin langsung memeluk putranya. Ara sangat merindukan Ichal.
"Wa'alaikumusalam," ucap Bunda Dara menghampiri Ara bersama Ichal dalam gendonganya.
"Ya ampun anak umi, rindunya," ucap Ara mengambil Ichal dari Bunda Dara. Ara mengecup seluruh wajah Ichal dengan lembut. Ia benar-benar merindukan jagoan kecilnya.
"Apa Ichal rewel bun?" tanya Ara sambil mencium punggung tangan Bunda Dara.
"Alhamdulillah Ichal nggak rewel, anteng banget malah," balas Bunda Dara mengusap pipi gembul Ichal.
"Assalamualaikum," ucap Alan yang baru masuk.
"Wa'alaikumusalam," ucap bunda Dara dan Ara bersamaan. Alan mencium tangan Bunda Dara.
"Ini oleh-oleh untuk semuanya," ucap Alan memberikan beberapa paper bag berisi oleh-oleh dari Bali.
"Buat apa repot-repot?" tanya Bunda Dara membawa Alan dan Ara untuk duduk. Mereka pun mulai berbincang riang.
"Boleh, Bun. Alan akan pulang untuk mengambil beberapa keperluan," ujar Alan yang disambut senyuman oleh Ara.
"Ya sudah, sebaiknya kalian istirahat. Pasti capek kan? Bunda buatkan teh untuk kalian, ya?" Tawar Bunda Dara.
"Tidak usah, Bun. Ara bisa buat sendiri kok," ucap Ara tersenyum manis.
"Betul itu, Bun. Kakak kan udah tua, gak usah di manja terus," celetuk Azka yang tiba-tiba saja nimbrung. Ara memberikan tatapan membunuh pada Azka.
"Ih, emang salah apa manja sama Bunda sendiri?" Ketus Ara. Alan yang melihat itu tersenyum geli. Ia mengambil Ichal dari pangkuan Ara. Mencium gemas jagoan kecilnya.
"Ck, udah punya anak juga. Masih aja manja, kasian banget sih Ichal punya umi kayak kakak, Manjah benerrr .... "
"Sudah, kamu juga, Azka. Suka banget ganggu kakak," potong Bunda Dara. Azka tertawa geli. Ia sangat senang saat melihat wajah Ara yang sudah seperti kepiting rebus.
Ara bangun dari duduknya, menghampiri Azka yang masih tergelak. Memberikan pukulan maut.
__ADS_1
"Aduh, ampun bos. Sakit, beneran sakit kak," keluh Azka saat Ara terus memberikan cubitan diperutnya.
"Syukurin," ketus Ara. Ia duduk disamping Azka sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf deh, Kak. Janji gak ganggu lagu, btw aku mau minta hadiah spesial. Buat nikah nanti," pinta Azka memainkan kedua alisnya.
"Tidak ada hadiah, siapa suruh bikin kesel," omel Ara memukul lengan Azka. Azka tergelak sambil memeluk kakak kesayangannya.
"Ngeseslin, tapi sayang kan?" Azka menggoda kakaknya. Ia tahu, Ara akan melunak saat digoda oleh dirinya.
"Ih, siapa bilang?" kilah Ara. Kali ini ia tidak akan kalah.
"Sayang, jadi hadiah yang dibeli kemarin untuk siapa?" tanya Alan ikut nimbrung. Ara langsung memberikan tatapan tajam pada Alan.
"Hubby, kenapa ngomong sih? Kan gak kejutan lagi?" Ara sangat kesal dengan suaminya. Alan benar-benar membocorkan kejutan yang sudah Ara buat.
"Eh, katanya tadi tidak jadi kasih buat Azka? Terus buat siapa?" Alan kembali menggoda istrinya. Ia sangat senang saat melihat wajah merona Ara.
"Hubby, Ara marah. Jangan minta jatah, Ara tidak akan kasih!" hardik Ara. Bunda Dara dan Azka tergelak saat mendengar arah pembicaraan Ara. Sedangkan Alan hanya tersenyum geli.
Ara tersentak, ia baru sadar dengan ucapannya. Ia menutup mulutnya karena merasa malu.
"Sayang, kamu menggemaskan." Alan kembali menggoda istrinya.
"Hubby ... Ara ke--" Ucapan Ara terpotog saat Bunda Dara menggenggam tangannya.
"Sudah, jangan ganggu putri manja Bunda. Kamu juga, sudah punya anak tapi manjanya gak hilang," ujar Bunda Dara.
"Bunda, kapan lagi Ara bisa manja seperti ini?" protes Ara memeluk sang Bunda dengan manja. Bunda Dara tersenyum, mengusap kepala Ara dengan lembut.
"Sayang, Abi capek. Ke kamar yuk?" ajak Alan bangun dari duduknya. Ara melepaskan pelukannya.
"Bunda, Ara ke kamar dulu. Tidak usah buat minum. Ara buat sendiri jika mau," pamit Ara mengecup pipi Bunda Dara.
"Iya sayang," balas Bunda Dara.
Ara menatap Azka dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Tidak ada hadiah, beli sendiri!" Ara melenggang pergi, meninggalkan Bunda dan sang adik. Mereka menggelengkan kepalanya saat melihat sifat Ara yang tidak pernah berubah.