Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 35. Sebelum Perpisahan (Ara)


__ADS_3

Waktu begitu cepat, detik terus berubah menjadi menit. Hari terus berganti seakan tak sabar untuk memisahkanku dengannya.


Besok adalah hari keberangkatannya. Aku harus melepaskannya untuk waktu yang cukup lama. Tapi aku harus kuat dan yakin. Aku bisa melewati semuanya. Betapa bahagianya menjadi ikan itu. Dia terlihat senang karena bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya. Mereka terlihat tak memiliki beban apapun.


"Sayang, kamu kenapa melamun terus? Jika seperti ini, aku jadi ragu untuk pergi." ucap seseorang yang berhasil membuatku terkejut.


"Enggak kok, Ara cuma sedang liat ikan. Hubby sudah makan?" kataku berpindah duduk di pangkuannya. Aku memelukknya dengan erat. Aku memejamkan mataku untuk menikmati kehangatannya. Aku tidak tahu kapan bisa meraskannya lagi.


"Seharusnya hubby yang bertanya, kenapa sayang tidak makan?" tanyanya. Aku membuka mataku dan tersenyum. Aku meneliti setiap inci wajahhya.


"Ara tidak lapar, Ara cuma mau pelukan hubby." ucapku terus menatapnya. Pandangan kami pun saling terkunci.


"Hubby harus janji, selalu kabari Ara. Apapun yang terjadi, janji ya?" ucapku menatapnya lekat.


"Ya, hubby janji. Tapi sayang juga harus berjanji, jaga diri baik-baik. Jangan terlambat makan dan apapun yang sayang lakukan katakan pada hubby Ok?"


Aku menatapnya semakin dalam. Aku mengangguk dan kembali memelukknya dengan erat.


"Ara pasti rindu hubby," ucapku. Aku menenggelamkan wajahku di lehernya.


"Sayang, bisa tidak siang ini tidak perlu ke kampus? Hubby ingin menghabiskan waktu berdua."


Aku tersenyum dan mengangguk. Aku juga ingin menghabiskan hari ini hanya bersamanya. Kenapa begitu berat ya allah untuk melepaskannya? Kuatkan hati ini ya allah.


Hiks. Aku tidak sanggup menahan sesak di dadaku. Tangisanku tumpah begitu saja dalam pelukkanya. Aku tidak bisa menahannya lagi.


"Menangislah jika itu membuat kamu lega sayang, hubby akan mendengarkan apapun keluhan kamu." ucapnya. Aku meraskan kecupan hangat di keningku.


"Hubby, Ara... Ara tidak bisa tidur tanpa pelukan hubby." ucapku menatapnya lekat.


"Hubby tahu," ucapnya menarik kepalaku untuk bersandar di dadanya. Aku bisa mendengar suara gemuruh jantungnya. Apa hubby juga meraskan hal yang sama.


"Maaf, Ara masih saja cengeng." ucapku mencengkram bajunya.


"Tidak apa, karena tidak ada di dunia ini istri yang manja dan cengeng seperti kamu sayang. Hanya kamu seorang, milikku." ujarnya yang berhasil membuat hatiku menghangat. Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut kami. Kami terdiam sesaat, merasakan setiap guncangan di dada masing-masing.


"Sayang, tolong jaga jarak dengan bos kamu di kantor. Aku akan sangat cemburu." ujarnya yang berhasil membuatku terkejut. Aku mengangkat kepalaku untuk menatap wajahnya. Aku tersenyum.


"Ara belum masuk kantor bi, tapi hubby sudah cemburu? Bagaimana nanti?" tanyaku sambil tertawa. Tapi aku senang saat melihat Alan cemburu. Dia terlihat sangat manis.

__ADS_1


"Intinya tolong jaga jarak, hubby tidak suka jika dia dekat-dekat dengan kamu." ucapnya mengusap pipiku. Aku tersenyum dan mengangguk. Aku sendiri bingung, bagaimana bisa aku tidak mencari tahu dulu siapa atasan tempatku magang. Bahkan jika Alan tak mengatakannya, aku tidak akan pernah tahu.


"Hubby tenang aja, Ara akan menjaga jarak 100 meter." ucapku sambil terkekeh. Alan ikut tertawa.


"Bi, Ara lapar. Tapi hubby yang suap ya?" pintaku, aku menatap wajah Alan lekat-lekat. Yang paling aku sukai itu bagian bibirnya. Bibirnya sangat manis, apa lagi saat Alan tersenyum. Bisa-bisa aku meleleh.


"Sayang," panggilnya yang berhasil membuatku terkejut.


"Ada apa? Apa ada yang aneh dengan wajah hubby sampai bengong begitu?" tanyanya. Aku tersenyum malu.


"Wajah hubby terlalu tampan, apa lagi bibir hubby. Bikin gemes." ucapku sambil memainkan bibirnya. Entah kenapa aku sangat senang saat menyetuh bibirnya. Padahal sangat sering aku melakukan hal itu.


"Katanya lapar? Ayok makan, dari kemarin hubby perhatikan sayang hanya makan sedikit." ujarnya mengelus pipiku. Aku mengangguk pelan.


"Ara tidak selera makan," ucapku kembali memeluknya. Rasa lapar yang tadi muncul pun kini sudah hilang lagi. Aku sendiri bingung, sudah beberapa hari ini nafsu makanku berkurang. Mungkin karena aku terus memikirkan Alan. Bagaimana jika disana dia tidak menjaga dirinya dengan baik. Siapa yang akan menyiapkan pakaiannya? Ck, jika memikirkan itu pasti kepalaku terasa sakit.


"Kita makan di luar, bagaimana?" tanya Alan. Aku sedikit berpikir, aku memutar kepalaku untuk memikirkan makanan apa yang enak.


"Makan bakso sepertinya enak, ayok bi. Ara mau makan bakso." ujarku saat tiba-tiba bayangan bakso yang super enak itu lewat dalam kepalaku.


"Bakso? Ini masih pagi sayang. Mana ada bakso sepagi ini." ucap Alan. Benar juga ya, tapi aku ingin makan bakso. Entah lah, aku sudah membayangkan bakso itu masuk kedalam mulutku.


"Baiklah tuan putri, mari kita mulai mencari keberadaan sang penjual bakso." ujar Alan menangkup wajahku. Aku mengangguk antusias. Aku bangun dari panggkuannya dengan semangat.


"Bakso, I'm coming." ucapku dengan penuh semangat. Aku melihat Alan tersenyum dan menggenggam tanganku. Lalu kami pun langsung berangkat untuk mencari si tukang bakso.


Sudah hampir satu jam aku dan Alan berkeliling Jakarta. Tapi satu pun aku tidak melihat penjual bakso. Aku sangat kecewa.


"Bi, kita pulang aja yuk. Sepertinya memang belum ada yang jualan bakso." ucapku tanpa semangat. Aku menatap keluar jendela. Keinginan untuk makan bakso pun masih besar. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku sangat menginginkan bakso.


"Nanti siang kita cari lagi ya? Senyum dong." Aku menatap Alan dan berusaha untuk tersenyum. Tapi aku masih sangat kecewa. Rasa kecewa yang begitu mendalam.


"Ara capek, pulang aja ya bi. Ara mau tidur aja." ucapku menganti posisi dudukku menghadap Alan. Aku menatap Alan lamat-lamat. Apa aku sudah menyusahkan Alan? Tapi aku sama sekali tak pernah mendengar keluhan yang keluar dari mulutnya untukku. Aku sangat bahagia bisa mencintai dan dicintai Alan. Aku merasa diriku adalah wanita yang paling beruntung di dunia. Mendapatkan suami yang tampan dan sangat mencintaiku.


"Hubby, I love you. Ara mau cium bibir hubby? Boleh?" tanyaku sambil tersenyum. Aku bisa melihat Alan sangat terkejut mendengar ucapanku.


"Kamu sehat kan? Jangan bilang kamu kesambet gara-gara gak dapat bakso." ucap Alan. Aku tersenyum.


"Ara serius hubby, boleh tidak? Kalau tidak boleh, Ara bakal nangis." ucapku sambil menarik lengan bajunya.

__ADS_1


"Sayang, ini di jalan. Hubby sedang menyetir. Kalau kamu minta saat di kamar sih tak jadi masalah. Lebih juga boleh." ujarnya tanpa malu. Aku mencubit lengannya cukup kuat. Alan terlihat meringis karena ulahku.


"Sejak kapan hubby jadi mesum seperti ini?" tanyaku dengan penuh selidik.


"Sejak ada kamu." ucapnya tanpa ada beban. Aku membuka mulutku tak percaya. Lalu tak lama Alan pun tertawa. Bibirku tertarik saat wajah Alan berseri seperti itu. Perasaan bahagia juga menyelimuti hatiku. Aku ingin terus melihat senyuman dan tawanya.


"Bi, boleh tidak?" tanyaku lagi. Aku masih menginginkannya. Aku melihat kedua alisnya terpaut.


"Kamu sangat aneh sayang, di rumah aja ya? Ini di jalan, aku tidak mau terjadi sesuatu." ujarnya mencubit pipiku. Huh, ada rasa kecewa di hatiku saat Alan menolak keinginanku. Tapi Alan benar, tidak seharusnya aku meminta hal konyol.


Sepanjang perjalanan aku memilih untuk diam, aku bingung harus bicara apa lagi. Apa yang aku inginkan tak terpenuhi, itu rasanya sakit sekali. Hiks, kenapa aku ingin menangis? Aku memalingkan wajahku keluar jendela. Air mataku lolos begitu saja, aku menghapusnya perlahan agar Alan tak melihatnya.


Sesampainya di rumah. Aku langsung turun dan masuk ke rumah. Aku meninggalkan Alan dan sedikit berlari menuju kamar.


"Kak Ra," panggil Arin saat aku hendak membuka pintu kamar. Aku langsung menoleh.


"Ya, ada apa Arin?" tanyaku menatapnya penuh tanda tanya.


"Kakak kenapa? Arin perhatikan kakak dari kemarin sangat aneh. Apa karena kak Alan mau pergi ya? Jangan sedih dong kak, nanti Arin juga ikut sedih." ujarnya langsung berhambur kepelukkanku.


"Maaf," ucapku memeluknya dengan erat. Aku tidak bisa membohongi diriku. Aku memang sangat sedih jika mengingat hal itu.


"Kakak cuma belum bisa menerima keadaan. Tapi kakak akan berusaha kuat kok." ucapku mengusap kepalanya.


"Arin janji, Arin akan selalu menemani kakak. Supaya kakak tidak kesepian." ujarnya sambil menatapku. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Terimakasih." ucapku dengan tulus. Apa aku begitu terlihat menyedihkan, kenapa semua orang menyadarinya? Tak ada yang bisa aku sembunyikan dalam diriku.


"Ekhmm... Sweet banget." ucap seseorang yang berhasil membuat aku dan Arin terkejut. Aku melepaskan pelukan Arin dan menatap orang itu. Siapa lagi kalau bukan suamiku. Aku melihat Arin tersenyum dan langsung memeluk Alan.


"Kakak jangan terlalu lama ya disana, nanti Arin dan kak Ara rindu. Jangan nakal dengan wanita di sana. Arin tidak suka." ujar Arin. Aku tersenyum mendengar hal itu.


"Hanya kalian wanita yang ada di hatiku." ucap Alan menatapku. Aku tersenyum padanya.


"Sekolah yang rajin, selesaikan dengan cepat agar kamu bisa cepat kerja di kantor papa." ucap Alan.


"Tidak mau, Arin tidak mau kerja di tempat papa. Arin mau jadi dokter. Perusahaan papa kan ada kakak yang kelola." ujar gadis itu dengan bibir yang mengerut.


"Ck, dasar keras kepala." ucap Alan mengusap kepala Arin. Aku sangat bahagia melihat kedekatan mereka. Untung Azka laki-laki, kalau perempuan mungkin setiap hari aku peluk. Jangankan aku peluk, ku sentuh kepalanya saja dia sangat marah. Hihi...

__ADS_1


__ADS_2