Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 55. Professor?


__ADS_3

Pernikahan itu harus diperjuangkan, karena tanpa perjuangan tak akan ada kebahagiaan. Saling melengkapi, mempercayai, mendukung, menghargai, dan saling mencintai itu termasuk dalam perjuangan cinta yang sejati.


~Ketulusan Hati 2~


Setelah melaksanakan salat isya, Ara dan Alan beranjak menuju pembaringan.


"Bi, besok Ara keluar dengan Jane ya?" tanya Ara bersandar di kepala ranjang sambil memeluk bantal guling.


"Kemana?" tanya Alan sembari membuka laptop.


"Mall, boleh ya bi?"


"Hmmm... Jam berapa?" tanya Alan lagi.


"Em, mungkin sekitar jam 2 siang. Sekalian belanja stok bahan dapur bi, udah mau habis di kulkas." ujar Ara.


"Ya, setelah itu langsung pulang. Jangan pergi kemana mana lagi," ucap Alan tanpa melihat sang istri.


"Ok, terimakasih bi." ucap Ara dengan semangat. Ia menarik selimutnya dan hendak tidur. Namun dengan cepat datahan oleh Alan.


"Siapa yang suruh tidur?" tanya Alan menarik selimut Ara.


"Ih hubby, jadi Ara mau ngapain lagi kalau bukan tidur? Kan hubby lagi sibuk dengan istri kedua hubby. Istri pertama harus ngalah dong," ujar Ara kembali menarik selimutnya.


"Hubby kerja sayang, lagian uangnya kan buat kamu juga." ujar Alan. Ara yang mendengar itu langsung membulatkan matanya.


"Jadi hubby gak ikhlas kasih nafkah buat Ara?" tanya Ara mengerucutkan bibirnya.


"Kalau gak ikhlas ngapain hubby nikahin kamu? hubby juga kerja untuk kamu sayang. Demi sesuap nasi, untuk kita dan calon anak kita kelak," ujar Alan mengusap kepala Ara. Ara yang mendengar perkataan suaminya langsung merona. Ia tersenyum sembari menatap wajah tampan suaminya.


"Hubby cinta Ara sejak kapan?" tanya Ara.


"Sejak kamu banyak bicara," jawab Alan asal.


"Ck, serius bi!" seru Ara sambil memukul lengan Alan. Alan tersenyum, ia mencium kepala Ara dengan cepat.


"Entah lah, hubby tidak tahu sejak kapan mulai mencintai kamu." ujar Alan. Ia kembali pokus pada laptopnya. Ara menyandarkan kepalanya di pundak Alan.


"Hubby, kalau nanti Ara jadi jelek. Hubby masih cinta kan sama Ara?" tanya Ara lagi.


"Tergantung," jawab Alan singkat. Ara yang mendengar itu langsung mencubit lengan suaminya. Alan pun tertawa sambil meringis kesakitan.


"Hmmm... Ara pengen nasi goreng bi," ucap Ara yang tiba tiba saja menginginkan nasi goreng super pedas. Alan mengernyit bingung, tidak biasanya Ara meminta sesuatu di malam hari.


"Kamu ngidam?" tanya Alan menyingkirkan laptopnya keatas meja. Dengan semangat Alan meletakkan telinganya di perut Ara. Ara yang terkejut hanya bisa berdiam diri.


"Bi, ngapain?" tanya Ara bingung.


"Kamu ngidam kan? Hubby sedang mendengarkan apakah anak kita berbicara," ujar Alan. Ara mendorong tubuh Alan agar menjauh darinya.


"Ck, Ara cuma pengen nasi goreng bi. Apa hubungannya dengan ngidam? Lagian Ara gak merasakan apapun," ujar Ara bangun dari tempat tidur. Alan sedikit kecewa dengan perkataan Ara. Ia menatap istrinya yang hendak keluar dari kamar.


"Semoga itu benar-benar terjadi sayang, aku sudah menantikan kehadirannya." Alan tersenyum sambil terus menatap punggung istrinya yang mulai menghilang di balik pintu.


Ara mulai sibuk sendiri di dapur dengan beberapa bahan masakan. Kerena menginginkan nasi goreng, Ara berniat untuk membuat nasi goreng kampung yang biasa sang bunda buat. Dengan hati-hati Ara merajang bawang dan beberapa buah cabai.


"Alhamdulillah," ucapnya saat pekerjaannya selesai. Ia membawa sepiring nasi goreng ke meja makan.


"Hmmm... Pasti enak banget. Bismillahirahmanirahim,"


Ara mulai memasukkan sesuap demi sesuap nasi goreng buatannya sendiri. Ia menikmati sendiri dan melupakan sang suami yang sedari tadi memperhatikannya di ambang pintu.


"Jadi kamu makan sendiri aja sekarang? Melupakan suami sendiri?" tanya Alan yang berhasil membuat Ara terkejut. Ara langsung menoleh, ia tersenyum saat melihat Alan berdiri sambil melipat kedua tangannya.

__ADS_1


"Hubby mau?" tanya Ara dengan santai.


"Tadinya tidak, tapi pas mencium aroma yang begitu enak perut hubby juga minta diisi," ujar Alan duduk di sebelah Ara.


"Hubby ambil sendiri aja ya di sana, Ara lagi makan." Ara terus makan tanpa memperdulikan suaminya. Alan menghela napas panjang, lalu berjalan untuk mengambil nasi goreng buatan istri tercinta.


"Mengabaikan suami itu dosa loh," bisik Alan tepat di telinga Ara. Alan tersenyum dan duduk di sebelah Ara yang kini sedang menatapnya.


"Emang Ara mengabaikan hubby gitu?" tanya Ara dengan polos.


"Ya, sana buatkan jus jeruk. Jangan pake es dan gula. Jeruknya di peras pake tangan, jangan pake alat." pinta Alan tanpa ragu. Mulut Ara sedikit terbuka, ia tak pernah mendengar Alan sebawel ini dalam meminta sesuatu.


"Hubby ngidam? Kenapa permintaannya aneh banget sih?" tanya Ara menatap Alan heran.


"Mau buatin tidak?" ucap Alan malah balik bertanya.


"Iya Ara buatkan, tapi yakin gak pake gula?" tanya Ara lagi untuk meyakinkan. Alan mengangguk antusias. Ara bangun dari duduknya dan langsung beranjak untuk membuatkan jus sesuai permintaan suaminya. Seulas senyuman terbit dari bibir mungil Ara.


"Ini jusnya, tanpa es, tanpa gula dan di peras dengan hati." ujar Ara meletakkan gelas berisi jus di meja. Ara kembali duduk dan melanjutkan makannya. Alan tersenyum dan langsung meneguk jusnya hingga tandas.


"Wah, manis seperti kamu." ucap Alan yang hampir membuat Ara tersedak.


"Manis? Dasar aneh," ucap Ara menggelengkan kepalanya. Tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi pada suaminya itu.


Setelah membereskan semuanya, Ara kembali ke kamar. Ia melihat Alan masih sibuk dengan benda pipih di pangkuannya. Ara merangkak keatas kasur, bersandar di pundak suaminya. Ara memejamkan matanya kerena rasa kantuk mulai menyerangnya. Perutnya yang kenyang menambah rasa kantuk semakin menjadi. Alan tersenyum saat melihat Ara tertidur di bahunya. Ia mengecup kening Ara dengan mesra.


"I love you, nice dream honey.. "


***


Pengunjung di mall terlihat cukup ramai. Di dalam keramaian tersebut terlihat Ara tengah berjalan bersama Jane. Mereka terlihat sangat senang, sesekali terlihat seulas senyuman dari bibir mereka.


"Wah sepatunya bagus, kita lihat yuk." Jane menarik tangan Ara dan membawanya ke dalam sebuah toko sepatu yang lumayan besar. Ara sangat yakin harga sepatu di sana cukup mahal.


"Ara, yang ini bagaimana?" tanya Jane begitu antusias sambil menunjukkan sepasang sepatu kets pada Ara.


"Kalau yang ini?" tanya Jane menunjukkan model lain. Ara kembali mengangguk. Jane sangat kesal, ia menatap Ara lekat.


"Jangan katakan kamu tidak tahu model yang bagus?" tanya Jane menatap Ara penuh selidik. Ara tersenyum kikuk, ia mengangguk pelan. Jane menepuk jidatnya tak percaya dengan istri sahabatnya ini.


"Sepertinya aku harus mengajarkanmu, ayok ikut." Jane menarik tangan Ara. Ia menunjuk beberapa sepatu sambil menjelaskan pada Ara. Ara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bagaimana mengerti?" tanya Jane. Ara tersenyum dan mengangguk.


"Ok, kita ketempat yang lain." ajak Jane kembali menarik tangan Ara. Mereka terus menyusuri beberapa toko pakaian dan berbagai aksesoris lainnya.


"Huh, capek juga." ucap Ara. Saat ini mereka sudah berada di sebuah restoran. Ara meletakkan beberapa paper bag dibawah meja.


"Hari ini kamu harus traktir aku, capek tahu jadi guru dadakan." omel Jane. Ara tertawa renyah.


"Ok, tidak jadi masalah. Pesanlah sesuka hati," ucap Ara. Jane terlihat sangat senang, ia langsung membuka menu dan memesan beberapa makanan.


Sambil menunggu pesanan datang, mereka pun mengobrol ria.


"Ra, mau tanya dong?"


"Tanya apa?"


"Em, kok bisa sih kamu begitu sabar ditinggal jauh sama suami? Pasti banyak banget cobaan kan?" tanya Jane begitu penasaran. Ara tersenyum mendengar pertanyaan Jane.


"Hmm...pasti banyak. Tapi kami selalu menanamkan kepercayaan satu sama lain, berjuang sama-sama. Pernikahan itu harus diperjuangkan, karena tanpa perjuangan tak akan ada kebahagiaan. Saling melengkapi, mempercayai, mendukung, menghargai, dan saling mencintai itu termasuk dalam perjuangan cinta yang sejati."


Jane terperangah mendengar penjelasan Ara. Sekarang ia mengakui jika sahabatnya itu benar-benar beruntung bisa mendapatkan istri sebaik Ara. Bahkan tidak jarang teman-temannya yang melakukan LDR, namun berujung dengan perpisahan.

__ADS_1


'Andai aku bisa seperti itu, apa aku bisa menjaga kepercayaan?' batin Jane.


"Semua orang bisa melakukan itu, asal hati kita ikhlas dan selalu sabar.' lanjut Ara. Ia tersenyum sambil menggenggam tangan Jane.


"Sepertinya aku harus belajar padamu, menjadi wanita penyabar." Jane ikut menggenggam tangan Ara.


Tak berapa lama pesanan mereka pun datang. Tanpa pikir panjang mereka langsung menyantap makannya masing-masing karena perut mereka terus memberontak meminta di isi.


"Ra, sepertinya aku harus ke toilet dulu. Tunggu sebentar ya?" ujar Jane yang langsung di jawab anggukan oleh Ara.


"Dasar, baru juga diisi sudah di buang lagi." ucap Ara menyapu bibirnya dengan tisu.


"Excuse me!" ucap seorang pria yang kini sudah berdiri di hadapan Ara.


Ara langsung mengangkat kepalanya, ia sangat terkejut saat melihat sosok yang pernah ia temui sebelumnya.Tapi ia bingung, dimana sebelumnya pria ini ia temui. Ara terus berpikir keras untuk mengingat pria itu.


"Maaf mengganggu, saya hanya ingin bicara sebentar." ujar pria itu duduk di hadapan Ara. Ara langsung panik, ia bangun dari duduknya.


"Tidak perlu takut, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Duduklah, jangan takut." ujar pria itu dengan tenang. Ara kembali duduk, ia melirik pria itu sekilas.


"Maaf, bisa bicara sekarang?" tanya Ara dengan cepat. Pria itu menatap Ara begitu lekat, membuat Ara semakin resah.


"Apa kau sudah menikah?" tanya pria itu. Ara sangat terkejut, sontak Ara langsung menunjukkan cincin di jari manisnya.


"Saya sudah menikah, suami saya juga disini." bohong Ara. Ia melihat kebelakang, berharap Jane cepat kembali.


"Aku tidak melihat pria bersamamu, apa kau sedang berbohong?" tanya pria itu mencari kebenaran di mata Ara. Ara langsung menunduk. Jane cepatlah kembali, batin Ara.


"Suami saya memang tidak ikut, tapi saya memang sudah menikah." ujar Ara meyakinkan pria itu. Namun pria itu masih tetap duduk disana.


"Beberapa bulan yang lalu aku pernah melihatmu di restoran x, aku mulai tertarik padamu." ucap pria itu tanpa sungkan. Ara sangat terkejut, ia kembali mengingat saat pertama kali datang ke sini. Seseorang terus memperhatikannya. Ya, itu adalah pria ini.


"Professor?" seru Jane yang baru tiba dan melihat pria yang saat ini duduk dihadapan Ara. Ara kembali terkejut saat mendengar panggilan Jane pada pria di hadapannya.


'jangan bilang dia adalah professor yang sering Alan bicarakan?'


"Jane, kau disini juga. Jadi yang tadi duduk disini itu kau?" tanya pria itu tersenyum lebar.


"Ya, anda sedang apa disini? Owh kalian sudah saling mengenal ya?" tanya Jane menunjuk Ara.


"Ya/tidak." Ara menjawab pertanyaan Jane bersamaan dengan pria itu. Jane mengernyitkan keningnya.


"Maksudnya kami baru saling mengenal," ujar sang Professor.


"Jane, bisa kita pulang sekarang. Alan sudah menghubungiku." Ara bangun dari duduknya. Professor yang mendengar ucapan Ara pun sangat terkejut.


"Alan? Maksudmu Arlan?" tanyanya.


"Ya Prof, dia adalah istri Arlan. Cantik bukan?" jawab Jane begitu semangat.


"Owh, ternyata dunia ini begitu sempit." gumam pria itu.


"Hah? Maksud anda Prof?" tanya Jane bingung. Ara menarik tangan Jane.


"Aku ingin pulang," ucap Ara mengambil beberapa barang belanjaannya. Jane yang melihat sikap aneh Ara ikut mengambil barang belanjaannya.


"I'm sorry prof, kami harus segera pulang. Permisi," ucap Jane yang langsung di tarik pergi oleh Ara.


"Ada apa?" tanya Jane saat mereka sudah berada di mobil milik Jane. Ara memasang sabuk pengaman, ia mengatur napasnya. Ara memijat keningnya, kepalanya terasa begitu pusing.


"Are you ok?" tanya Jane mulai cemas melihat keadaan Ara. Wajahnya terlihat pucat dengan keringat bercucuran di keningnya. Ara menatap Jane sambil menggeleng.


"Aku hanya lelah," ucap Ara menyadarkan kepalanya di kepala kursi. Ia menyentuh perutnya dan mengelusnya pelan. Jane menatap Ara dari balik cermin.

__ADS_1


'sepertinya dia benar-benar lelah, biarkan saja dia tidur.'


Mobil Jane pun melaju dengan kecepatan sedang. Jane memilih jalan pintas untuk mengantar Ara. Ia tahu saat ini saat ini Ara sedang butuh istirahat.


__ADS_2