Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 70. Tidak akan pernah berubah


__ADS_3

"Bodoh! Kenapa kamu tidak mendengar ucapan papa? Jika seperti ini, semua rencana kita gagal total!" Suara itu menggema di seisi ruangan. Pria paruh baya itu menatap anaknya penuh kekecewaan.


"Maaf pa, keadaan darurat. Tidak mungkin saya membiarkan semuanya begitu saja," ujar sang anak sambil menunduk.


"Kita beralih pada plan B. Rencana kita sudah tercium musuh. Bersiaplah untuk menanggung risiko besar," ujar pria paruh baya itu melangkah pergi.


"Grace, ikut denganku," lanjut pria paruh baya itu pada seorang wanita yang sedari tadi berdiri di depan pintu.


"Baik tuan," ucap wanita itu berjalan di belakangnya.


Sedangkan pria muda masih tetap di ruangan tadi. Ia duduk di sofa, menopang kening dengan kedua tanganya. Ia memejamkan matanya. Kepalanya seperti mau pecah. Memikirkan semua permasalahan.


"Sial!" umpatnya dengan kesal. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak bisa menahan sakit di hatinya lagi.


Pria itu sangat terkejut saat tiba-tiba ia merasakan ada yang mengusap punggungnya.


"Sabar, semuanya akan baik-baik saja. Yakinkan dalam hati kamu," ucap seorang wanita paruh baya itu dengan lembut.


"Ma. Bagaimana jika aku gagal?" tanya pria itu begitu prustasi. Wanita paruh baya itu tersenyum sambil terus mengusap punggung putranya.


"Semua belum berakhir, perjuangkan dengan hati yang tulus. Semua ini akan berakhir," ujar wanita paruh baya. Pria itu mengangguk pelan. Matanya masih memancarkan ketakutan yang mendalam.


***


Ooeekk... Ooeekk...


Suara tangisan bayi kini memenuhi seisi ruangan.


"Sayang, kenapa menangis sih? Jangan buat umi bingung," ucap Ara berusaha untuk menenangkan Junior yang sedari tadi terus rewel. Bayi mungil itu masih terus menangis. Ara semakin bingung.


"Ya ampun, kenapa dengan cucu omah huh?" tanya Nissa yang baru saja masuk. Ara menatap Nissa lekat.


"Mama, Ara bingung. Junior terus menangis," Ara mengadu pada Nissa.


"Sini biar omah yang gendong," ucap Nissa mengambil Junior dari gendongan Ara.


Ara sedikit meringis saat merasakan perih di bagian perutnya.


"Arin, bantu kakak kamu membenarkan posisi tidurnya," titah Nissa pada Arin yang sedang sibuk dengan laptopnya. Arin menatap Ara tajam. Ia berdecak kesal sambil bangun dari duduknya. Membantu Ara untuk tiduran.


"Terima kasih," ucap Ara. Arin tidak menjawab, ia langsung bergegas menuju tempat semula. Ara yang melihat itu hanya bisa menghela napas berat. Sejak saat itu, sikap Arin benar-benar berubah.


"Lusa, dokter bilang kamu sudah bisa pulang," ucap Nissa.


"Alhamdulillah," balas Ara penuh rasa syukur. Ia sudah sangat bosan terus berada di rumah sakit.

__ADS_1


Ara menatap Junior yang sudah sedikit tenang di gendongan Nissa.


"Ma, bunda belum kembali?" tanya Ara.


"Belum, mungkin sebentar lagi. Biarkan bunda kamu istirahat, kasian siang malam terus jaga kamu dengan Junior," ujar Nissa. Ara tersenyum sambil mengangguk.


"Ma, apa sudah ada kabar tentang Alan?" tanya Ara memasang wajah penuh harap. Nissa menggeleng. Ara terlihat kecewa.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Alan tidak ingin menemui kita? Apa salah Ara, Ma?" ujar Ara sambil menangis. Nissa yang mendengar itu langsung duduk di samping Ara.


"Alan melakukan ini pasti ada alasan tersendiri, mama juga tidak tahu," balas Nissa mengecup kening Ara.


"Sudah, jangan menangis. Kasian Junior," lanjut Nissa. Ara menatap Junior yang sudah terlelap.


"Umi minta maaf," ucap Ara mengecup pipi Junior dengan lembut.


"Assalamualaikum," ucap seseorang sambil membuka pintu. Ara, Nissa dan Arin pun langsung menoleh.


"Jihan?" ucap Ara sambil tersenyum senang.


"Selamat sayang," ucap Jihan menghampiri Ara.


"Terima kasih," ucap Ara. Jihan memeluk Ara dengan lembut.


"Dia sangat lucu, mirip sekali dengan Alan," ujar Jihan mencubit pelan pipi Junior. Ara hanya bisa tersenyum.


"Tidak apa-apa," ucap Ara berusaha untuk tersenyum. Jihan menyentuh kedua tangan Ara.


"Aku salut, kamu orang yang sangat sabar. Bisa melewati semua ini, Ra," ucap Jihan. Ara yang mendengar itu langsung memeluk Jihan. Ia kembali menangis.


"Aku terlalu lemah Ji, aku tidak bisa seperti ini. Aku masih butuh Alan," ucap Ara semakin terisak. Jihan terlihat menarik napas panjang.


"Maaf, tidak seharusnya aku membahas tentang Alan," ucap Jihan memeluk Ara dengan lembut. Ia membiarkan Ara terus menangis. Sebagai seorang wanita, ia tahu seperti apa yang saat ini Ara rasakan.


Satu jam berlalu, kini Ara hanya tinggal berdua dengan Arin. Sedangkan Junior tengah terlelap. Nissa harus segera pulang karena suaminya akan pergi ke luar kota. Sedangkan Dara, ia masih belum menampakkan diri.


Ara menatap Arin yang sedang bermain ponsel di sofa.


"Arin...," panggil Ara. Arin yang merasa terpanggil hanya melirik Ara sekilas.


"Arin, kamu masih marah soal malam itu?" tanya Ara. Namun Arin sama sekali tidak bicara.


"Semua di luar dugaan Arin, kakak tidak tahu jika....


Belum selesai Ara berbicara. Arin sudah terlebih dahulu ke luar. Ara menghela napas berat. Ia menarik selimut. Menatap langit-langit rumah sakit.

__ADS_1


"Kenapa semuanya seperti ini? Cobaan ini begitu berat," ucap Ara mengusap pipinya yang sudah basah. Ia melirik Junior yang masih terlelap di sampingnya.


"Jangan pernah tinggalkan umi," ucap Ara pelan. Ara terus memperhatikan wajah Junior. Wajah yang begitu mirip dengan sosok yang sangat ia rindukan.


Selang beberapa waktu, seorang suster masuk.


"Mbak, sekarang waktunya untuk suntik vitamin," ucap sang suster. Ara mengangguk. Suster memberikan suntikan di lengan kiri Ara.


"Sudah, satu jam kedepan jangan menyusui dulu ya, Bu," ucap suster.


"Ya, terima kasih," balas Ara. Suster itu mengangguk.


"Saya pamit dulu," ucap suster langsung beranjak pergi. Ara menatap pintu yang mulai tertutup.


"Sayang, buka mata dong. Umi kesepian," ucap Ara mengelus pipi Junior. Ara mengecup mesra pipi Junior.


"Maaf sayang, umi belum bisa memberi kamu nama. Umi sudah berjanji, jika abi yang akan memberikan kamu nama. Doakan supaya abi cepat pulang, bisa menggandong kamu. Ya, sayang?" ujar Ara. Ia mengelus kening Junior dengan lembut.


Ara begitu asik memainkan pipi Junior. Hingga tanpa sadar, seorang suster masuk membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Mbak, silahkan di makan. Supaya mbak cepat sehat," ujar suster. Ara tersenyum ramah.


"Iya sus, biarkan saja di situ. Nanti saya makan," balas Ara sambil mengelus kening Junior.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Permisi," ucap suster itu langsung bergegas pergi. Ara melihat nampan di meja. Matanya berbinar saat melihat jus mangga kesukaannya.


"Pasti bunda yang pesan," ucapnya mengambil jus yang terlihat begitu menyegarkan.


Tidak lama pintu kembali terbuka.


"Bunda," ucap Ara tersenyum senang. Ia cukup merasa bosan sendirian. Ara meletakkan kembali gelas jus diatas meja.


"Bunda, kenapa lama sekali? Ara kesepian," protes Ara sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bunda harus urus papah dan adik kamu yang akan pergi ke luar kota, mereka memberi tahu bunda sangat mendadak," ujar Dara sambil meletakkan buah diatas meja.


"Luar kota? Kok bisa barengan? Mama bilang Papa Arnold juga keluar kota?" tanya Ara bingung.


"Mungkin memang kebetulan bareng. Kenapa belum makan?" ucap Dara saat melihat makanan diatas meja masih utuh.


"Ara mau di suap bunda," ucap Ara sambil tersenyum lebar.


"Ck, dasar manja. Sudah punya anak juga," ucap Dara mengusap kepala Ara. Ara tersenyum manis.


"Sampai kapan pun, Ara tetap anak bunda. Jangan pernah bosan dengan sikap manja Ara, Bun. Ara sayang bunda," ujar Ara memeluk Dara dengan lembut. Dara yang mendengar itu tersenyum. Ia tidak habis pikir. Putrinya masih saja belum berubah. Dara mengecup kening Ara begitu dalam.

__ADS_1


Tolong lindungi putri dan cucu hamba selalu, ya Allah. Jika benar menantu hamba masih ada tolong kembalikan ia, jangan pisahkan mereka. Berikan mereka kebahagiaan dunia akhirat.


__ADS_2