Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 12. Milikku Seutuhnya (Alan)


__ADS_3

Saat ini aku merasa dunia hanya milikku sendiri. Gadis yang selama ini aku impikan sudah benar-benar menjadi milikku seutuhnya. Kini ikatan diantara kami semakin kuat melalui ucapan sakral yang mengikat kami satu sama lain.


Saat aku membuka mata, yang pertama aku lihat adalah wajah cantik seorang gadis yang kini sudah sah menjadi istriku. Wajahnya begitu tenang dan damai. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Ku tatap setiap inci wajahnya. Mungkin hal ini akan menjadi rutinitasku setiap pagi.


"Sayang, apa masih ingin tidur?" ucapku menekan hidungnya. Dia sedikit bergerak, namun seakan enggan untuk membuka matanya.


"Ara, Ara sayang." panggilku lagi. Namun dia sama sekali tak bergeming. Apa anak ini memang susah untuk bangun ya?


"Bunda, Ara masih ngantuk. Tunggu lima menit lagi." ucapnya tanpa membuka mata. Tanganya terus bergerak untuk mencari selimut. Aku menarik selimut dan menjauhkannya.


“Ck, bunda jangan ganggu Ara. Ara masih ngantuk." rengeknya mulai bangun. Tapi matanya masih tertutup. Ingin sekali rasanya aku tertawa lepas. Tapi aku menahannya, aku masih ingin mengerjainya.


Dia membuka matanya perlahan. Aku menyandarkan tubuhku di kepala ranjang. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihatku.


"Kenapa Alan ada disini? Ya allah apa Ara masih mimpi?" ucapnya sambil menepuk pipinya. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucunya. Lalu matanya membulat sempurna. Ia juga membenarkan posisi duduknya.


"A... Alan?" ucapnya terlihat seperti orang bingung. Ia juga melihat kearah jam dinding.


"Ada apa? Katanya masih mau tidur. Sana tidur lagi." ucapku menatapnya lekat. Ia menghela napas dan menundukkan kepalanya.


"Alan, Ara minta maaf. Tadi malam Ara ketiduran. Kenapa gak bangunin Ara?" ucapnya menatapku dengan tatapan sendu. Aku tersenyum dan menarik tangannya. Aku memeluknya dengan erat.


"Sudah aku katakan, dalam persahabatan tidak ada kata maaf." ucapku menghirup rambutnya yang wangi.


"Saat ini Ara mau jadi istri kamu, bukan sahabat. Jadi sekali lagi Ara minta maaf." ucapnya membalas pelukkanku. Aku tersenyum.


"Tidak perlu minta maaf. Aku yang salah, sudah membuat kamu lama menunggu." ucapku. Ku dorong tubuhnya perlahan dan ku tatap mata teduhnya.


"Kenapa tidak bangunkan Ara?"


"Aku tidak tega, kamu terlihat begitu nyenyak." ucapku mencubit hidungnya pelan.


"Apa tadi malam Ara lasak? Atau ganggu kamu tidur?" ucapnya begitu khawatir. Aku tersenyum dan menggeleng.


"Alan, emm... Itu, emm... " Aku mengernyit bingung karena dia bicara tidak jelas.


"Ada apa? Sudah jangan banyak bicara lagi. Ayok ke kamar mandi." ucapku.


"Mau apa?" tanyanya panik.


"Ambil wudhu sayang, memangnya kamu pikir mau ngapain?" ucapku sambil tertawa. Benar-benar menggemaskan.


"Owh, Ara kira mau ngapain. Ya udah, Alan duluan aja. Ara mau beresin tempat tidur dulu." ucapnya beranjak turun.


"Sebaiknya kita wudhu sama-sama. Ini sudah terlambat sayang." ucapku langsung mengangkat tubuh rampingnya. Ara sangat terkejut dengan apa yang aku lakukan.

__ADS_1


"Aaaaa... Turunin Alan... Nanti jatuh." ucapnya sambil memegang bajuku dengan erat. Aku tersenyum dan tak menghiraukan permintaannya. Aku menurunkan dirinya saat sudah sampai di kamar mandi.


Usai mengabil air wudhu, aku membentangkan sejadah. Ku lihat istriku sudah siap di belakangku. Dia tersenyum manis, aku pun membalas senyumanya.


Menjadi seorang imam yang baik adalah impian setiap laki-laki. Begitu pun denganku. Aku memang bukan laki-laki yang agamis, tapi aku tidak pernah melupakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Aku juga akan terus belajar untuk menjadi imam yang yang baik untuk istriku dan calon anak-anakku kelak.


Ku angkat kedua tanganku untuk memanjatkan doa pada sang Rabb. Aku terus memanjatkan doa agar pernikahan ini diberikan keridhoan dari-NYA hingga kami memiliki anak cucu, bahkan hingga azal yang memisahkan kami.


Ku balik tubuhku untuk menatap cantiknya wajah bidadari syurgaku. Aku tersenyum saat melihat sang bidadari juga menyunggingkan seulas senyuman yang begitu meyejukkan hati. Sentuhan tangannya membuat darahku berdesir hangat. Bibirnya yang begitu lembut menyetuh punggung tanganku, aku merasa dunia seakan berhenti berputar. Masyaallah, inikah nikmat cinta yang sebenarnya? Nikmat yang tak bisa aku utarakan dalam sebuah ikatan suci.


Aku hendak manarik tanganku, namun dengan cepat ditahan olehnya. Aku juga sangat terkejut saat tanganku menempel sempurna di pipi halusnya.


"Tangan Alan hangat, Ara suka. Pinjam sebentar ya." ucapnya sambil terus meminkan tanganku di pipinya. Jika seperti ini bisa-bisa aku khilaf.


"Ara, bisa lepas sebentar? Ini masih pagi, aku tidak mau terjadi sesuatu pada kita." ucapku menatapnya lekat. Namun dia malah tersenyum.


"Apapun yang terjadi, Ara sudah siap lahir batin." ucapnya tanpa ragu. Jujur aku sangat tekejut. Aku tersenyum sambil mengelus kepalanya.


"Jalan-jalan pagi? Kamu mau ikut?" ucapku sambil melipat sejadah dan meletakkannya di tempat semula.


"Alan." panggilnya. Aku pun menoleh, dia masih dalam posisi yang sama.


"Ada apa?" tanyaku sambil membuka peci. Aku duduk di tepi ranjang sambil terus menatapnya. Dia bangun dari duduknya dan beralih duduk di sebelahku. Aku tersenyum dan kembali mengusap kepalanya.


"Alan, Ara benar-benar udah siap untuk jadi istri seutuhnya. Ara tidak akan menolak. Ara..." aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya. Aku tahu apa maksud dari pembicaraannya. Ada alasan tersendiri bagiku untuk tidak meminta hakku secepat ini. Banyak hal yang harus aku pertimbangkan.


"Masih banyak waktu untuk kita, aku harap kamu mengerti." ucapku memeluknya lembut. Dia sama sekali tak bersuara. Aku sedikit khawatir jika ia akan salah faham. Tapi aku juga bingung harus menyampaikannya bagaimana. Aku akan mencari waktu yang tepat.


"Apa Alan benar-benar mencintai Ara?"


Huh, jadi dia masih belum sadar juga atas semua yang aku lakukan. Gadis ini benar-benar tidak peka.


"Cinta itu tak selamanya harus diungkapkan melalui kata-kata Ara, cinta juga bisa diungkapkan melalui perbuatan yang kita lakukan pada orang yang kita cintai." jelasku. Aku ingin dia mengerti perasaanku tanpa harus mengucapkan ungkapan yang sering membuat orang terlena.


Aku mendorong tubuhnya perlahan, ku tatap matanya dalam-dalam.


"Lihat mataku, apa ada orang lain disana?" ucapku. Dia menatap mataku cukup lama.


"Gak keliatan Alan, Ara gak lihat apa-apa disana." ucapnya yang berhasil membuatku kesal setengah mati. Aku menghela napas dalam. Ku tarik tengkuknya dan ku hadiahi kecupan hangat di keningnya.


"Sudah, ayo bersiap jika mau ikut." ucapku beranjak dari sana. Aku mengganti pakaianku menjadi pakaian santai.


Ada apa dengannya, kenapa dia masih berdiam diri disana. Apa yang dia pikirkan sebenarnya? Gadis ini memang sulit ditebak.


"Sayang, mau sampai kapan melamun terus hah?" ucapku menarik dagunya. Ia sedikit tekejut dan menatapku lekat.

__ADS_1


"Jadi ikut atau tidak?" tanyaku lagi. Dia mengangguk dan bangun dari duduknya.


"Alan, tapi Ara tidak punya celana. Baju Ara semuanya gamis." ucapnya menatapku bingung.


"Pakai apa yang biasa kamu pakai." ucapku. Ara tersenyum dan mengangguk. Huh, dia selalu membuatku gemas.


"Ayok, Ara sudah siap." ucapnya begitu semangat. Dia terlihat sangat cantik. Aku mengangguk dan menggenggam tangannya.


"Loh mau pada kemana?" tanya bunda saat kami keluar dari kamar. Aku menatap Ara sekilas.


"Jalan-jalan pagi bun, biar sehat." ucapku mengeratkan genggaman tanganku.


"Owh, ya sudah. Hati-hati, jaga anak bunda jangan sampe hilang ya." ucap bunda. Aku tersenyum menatap istriku.


"Ih bunda, memangnya Ara mau hilang kemana?" ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya. Aku hanya bisa tersenyum melihat hal itu.


"Siapa tahu aja kamu belok kerumah tetangga." gurau bunda. Ara yang mendengar itu semakin mengerucutkan bibirnya.


"Bunda tenang aja, Alan bakal ikat Ara biar gak lepas." ucapku sambil menunjukkan genggaman tanganku pada bunda. Bunda tertawa renyah saat melihat itu.


"Ya sudah, sana pergi." ucap bunda menepuk lenganku dan langsung beranjak pergi. Aku menatap istriku.


"Ayok." ucapku yang di jawab anggukkan dan senyuman manisnya. Kami pun langsung beranjak menuju taman berlari.


Suasana taman tempat biasa orang-orang berlari pun masih sangat sepi karena memang masih agak gelap. Baru satu dua orang yang terlihat. Aku menoleh kearah istriku yang terus diam. Entah kenapa dia begitu diam, tidak seperti biasanya.


"Kamu tahu, kemarin semua tanaman di tetangga sebelah pada mati gara-gara ada orang terus malamun." ucapku membuka pembicaraan. Dia menatapku dengan raut wajah bingung.


"Memangnya bisa? Apa hubungannya melamun sama tanaman mati?" tanyanya sambil menatapku. Aku tertawa mendengar pertanyaan darinya. Aduh, istriku ini memang benar-benar polos.


"Jangan pikirkan hal itu, apa tidak dingin?" ucapku. Dia menggeleng.


"Kan ada tangan hangat Alan, jadi Ara gak kedinginan." ucapnya sambil mengangkat tanganku yang terpaut dengan tangannya. Aku tersenyum dan mengusap kepalanya. Dia sangat manis.


"Ara mau setiap hari seperti ini, bisa terus dekat sama suami Ara." ucapnya sambil tersenyum menatapku.


"Tapi sepertinya suami kamu bakal bosan kalau setiap hari melihat wajah jelek kamu." gurauku. Mendengar ucapanku dia langsung menghentikan langkahnya dan melepaskan genggamanku.


"Ih Alan jahat, Ara kan cantik dari lahir." rengeknya dengan bibir maju beberapa inci. Aku tertawa sambil menaikan kedua bahuku. Aku pun berjalan meninggalkannya yang masih kesal.


"Alan... Ara benci Alan." teriaknya. Aku yakin dia sangat kesal. Biar saja, aku ingin tahu berapa lama dia akan bertahan.


Satu, dua, tiga... Aku tersenyum saat mendengar suara derap kakinya yang mulai mendekat.


"Ih Alan, jangan tinggalin Ara. Ara takut, ini kan masih agak gelap." ucapnya menautkan kedua tangannya di lenganku. Aku tersenyum lebar. Pagi ini adalah pagi yang paling indah dan akan menjadi sejarah bagiku. Awal yang indah untuk memulai hidup yang baru.

__ADS_1


'Ingat, jangan terlalu lama bermain dengan dosa. Menjalin hubungan dengan ikatan halal itu lebih indah dari pada bermain cinta tanpa pembuktian yang nyata.'


__ADS_2