Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 57. Hubby Ngidam ya? (Ara)


__ADS_3

Suara gemercik air begitu jelas aku dengar, ku buka mataku perlahan. Aku melihat jam dinding, ternyata sudah hampir subuh. Ku sibak selimutku dan bergegas menuju kamar mandi.


"Bi, masih lama?" tanyaku sembari mengetuk pintu. Namun tak ada jawaban dari dalam. Lalu sayup-sayup aku mendengar suara aneh. Aku coba membuka pintu, syukurlah ternyata pintu tidak terkunci. Aku langsung bergegas masuk untuk melihat keadaan suamiku.


"Hubby!" Aku sangat terkejut saat melihat Alan terus muntah.


"Bi, hubby kenapa?" tanyaku sambil terus memijat tengkuknya. Rasa cemas mulai menyelimuti diriku. Apa Alan sakit?


"Hubby salah makan ya? Kok bisa muntah-muntah seperti ini sih?" tanyaku lagi. Syukurlah Alan sudah berhenti muntah.


"Tidak tahu, sejak tadi mual terus." jawabnya. Aku mengusap keringat yang membasahi wajahnya. Suhu tubuhnya juga tidak panas. Apa sebenarnya yang terjadi? Semoga Alan baik-baik aja. Aku sangat khawatir.


"Kita kerumah sakit ya? Ara takut terjadi sesuatu pada hubby," ucapku membantunya keluar dan duduk di tepi ranjang.


"Sayang, bisa duduk disini sebentar?" ucapnya memintaku untuk duduk di panggkuannya. Kenapa Alan sangat aneh? Tidak biasanya dia begitu manja.


"Hubby kenapa sih?" tanyaku, aku pun mengikuti keinginannya untuk duduk di panggkuannya. Ku tatap wajahnya yang sedikit pucat. Lalu Alan membenamkan wajahnya di leherku.


"Bi, sebaiknya hari ini tidak perlu ke kampus. Hubby di rumah aja ya? Ara khawatir," pintaku. Aku cuma tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Alan pun mengangguk pelan.


"Kamu sangat wangi," ucapnya.


"Wangi? Ara belum mandi bi, gimana mau wangi?" tanyaku heran.


"Hmmm... " gumamnya.


"Bi, sudah subuh. Solat dulu yuk?" ajakku. Alan terlihat mengangkat kepalanya dan menatapku lekat. Alan tersenyum, namun aku sangat terkejut saat tiba-tiba Alan mencium pipiku.


"Kamu sangat cantik sayang," ucapnya. Aku sedikit mendorongnya agar melepaskan diriku. Lalu aku bangun dari pangkuannya.


"Ara ambil wudhu dulu," ucapku langsung bergegas menuju kamar mandi.


Setelah selesai solat, seperti biasa aku mencium punggung tangannya. Hal yang paling aku sukai. Namun kali ini ada yang berbeda, Alan mencium dan mengelus perutku yang masih rata. Mungkin ini akan menjadi rutinitas baru setiap hari.


"Hari ini kita ke rumah sakit, hubby ingin tahu perkembangannya." Aku mengangguk. Aku juga ingin tahu kondisinya di dalam sana. Tapi, kenapa aku tidak merasakan hal yang aneh ya? Seperti ngidam atau apa lah itu. Katanya orang hamil muda sering pengen ini itu, tapi aku tidak merasakan itu. Ya Allah, tolong lindungi anak kami.


"Bi, kenapa Ara tidak seperti orang lain ya? Ara tidak ngidam apapun, Ara takut bi" ujarku.

__ADS_1


"Insha Allah tidak akan terjadi apapun, mungkin belum saatnya sayang." balas Alan mencium keningku. Aku menatapnya lekat, rasa cemasku masih ada.


"Kita akan tanyakan ini pada dokter, jangan khawatir."


Aku tersenyum dan mengangguk. Kamu harus yakin Ara, baby pasti baik-baik aja di dalam.


"Bi, Ara jadi teringat baby Zian. Pasti dia sedang bermain di syurga kan? Ara harap kita bisa dipertemukan kembali di syurga" ujarku. Aku sangat merindukannya. Ya, kami memberikannya nama Zian Alfatih Digantara. Walaupun tidak tahu jenis kelaminnya, tapi kami yakin Zian adalah anak yang tangguh. Mungkin saat ini Zian sedang melihat abi dan uminya dari syurga. Umi rindu Zian, semoga anak umi selalu sabar untuk menunggu umi dan abi di syurga sana. Umi dan abi sayang Zian.


Tanpa sadar air mataku mengalir begitu saja.


"Dia sedang tersenyum menatap kita sayang, Zian sangat senang akan mendapatkan seorang adik." ujar Alan menghapus air mataku.


"Ya, hubby benar." Aku memeluknya dengan erat.


***


Aku merasa geli saat dokter memberikan sesuatu seperti gel di perutku. Ya, dokter bilang haru melakukan USG untuk melihat perkembangan baby. Aku menggenggam erat tangan Alan. Mataku terus tertuju pada layar monitor yang akan memperlihatkan bayi kami, mungkin dia masih sebesar biji kacang, atau bahkan belum terlihat.


Sejak keguguran hari itu, aku selalu waspada dan berusaha untuk lebih peka terhadap perubahan dalam diriku. Hingga beberapa hari yang lalu aku merasakan ada sesuatu yang aneh, sudah hampir satu bulan aku terlambat datang bulan. Hingga aku tersadar jika di rahimku kini sudah hadir malaikat kecil. Jadi aku mencoba untuk meyakinkan dan melakukan tes kehamilan. Pada akhirnya benar aku positif hamil. Suatu kebahagiaan yang luar biasa. Menjadi seorang ibu adalah impian setiap wanita.


"Belum terlalu kelihatan, usianya baru memasuki lima minggu. Mungkin dua minggu kedepan kalian bisa kembali lagi. Janinnya sehat, dan usahakan nyonya Digantara banyak mengkonsumsi makanan yang sehat." ucap dokter yang bernama Stella. Aku tersenyum dan mengangguk. Lalu Aku turun dari atas ranjang dengan bantuan Alan.


Setelah menebus beberapa vitamin, kami pun langsung beranjak pulang.


"Bi, kita lupa tanya masalah ngidam. Apa Ara tanya bunda aja ya?" tanyaku menatap Alan lekat. Alan melajukan mobilnya dengan perlahan.


"Kamu sangat lucu sayang, memang kamu gak ngidam apa pun?" ujarnya. Aku langsung menggeleng. Memang benar, tidak ada yang aku inginkan saat ini. Alan tersenyum sambil mengusap kepalaku.


"Sayang, hubby ingin makan gado-gado. Tapi disini tidak ada yang jualan," ujarnya. Aku menatapnya heran. Kenapa hari ini Alan sangat aneh, apa mungkin... Ya Allah, kenapa Ara tidak sadar ya kalau Alan sedang ngidam. Tapi, kenapa Alan yang ngidam sih? Hihihi, mungkin ikatan batin baby sama abinya kuat banget makanya yang ngidam malah Alan. Aku tersenyum sambil mengelus perutku. Baik-baik di dalam ya sayang, umi sayang baby.


"Kok malah senyum sendiri sih?" tanyanya. Aku menggeleng pelan.


"Hubby ngidam ya?" ucap ku sambil menoel hidungnya.


"Ngidam? Apa iya?" tanyanya dengan ekspresi yang begitu lucu, aku terkekeh sambil mencubit pipinya.


"Sepertinya, sekarang Ara sudah tahu jawaban kenapa Ara tidak ngidam. Ternyata malah hubby yang ngidam," ujar ku.

__ADS_1


"Hmmm... Itu artinya hubby bisa mengurangi sedikit beban kamu," ujarnya sambil mengelus pipiku. Aku mengangguk, lalu ku sandarkan kepalaku di pundaknya.


"Ara akan buatkan gado-gado buat hubby. Tapi jangan marah ya kalau tidak enak, Ara kan baru belajar." ucap ku.


"Tidak jadi masalah, hubby rasa masakan kamu lumayan enak. Walaupun kadang asin," ungkapnya. Aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya.


"Kenapa hubby tidak pernah bilang, kan Ara bisa koreksi hasil masakan Ara." ucap ku. Huh, pantas saja Alan tidak pernah makan banyak. Istri macam apa sih aku ini? Jika tahu seperti ini sudah dari lama aku belajar masak. Apalah daya, waktu tak bisa kembali diulang. Mungkin aku harus belajar lebih giat, semuanya masih bisa diperbaiki.


"Hey, jangan melamun. Ayok, kita sudah sampai." Aku sangat terkejut saat Alan menepuk pundakku. Aku langsung turun dari mobil.


"Yang, hubby pergi ke kampus sebentar. Professor mengirim pesan, hubby harus ke sana," ujar Alan mengecup keningku. Aku mengangguk sambil menatapnya.


"Hanya sebentar, setelah itu langsung pulang." lanjutnya. Aku tersenyum dan kembali mengangguk.


"Hati-hati di jalan bi, salam untuk Jane." ucap ku. Alan tersenyum, lalu ia masuk kedalam mobil. Aku terus menunggu hingga mobilnya tak terlihat lagi.


"Ayok sayang, kita siapkan makan siang buat abi. Kasian abi belum makan dari pagi," ucapku mengajak baby bicara. Lalu aku langsung bergegas masuk ke rumah.


Entah berapa jam aku menghabiskan waktu di dapur. Semuanya sudah beres, tinggal menunggu suamiku pulang. Sambil menunggu sebaiknya aku membersihkan diri dulu. Setelah memasak semuanya jadi lengket.


Hmmm... Setelah ini apa lagi ya? Semua sudah beres. Alan kenapa belum kembali sih? Apa ada urusan penting ya? Huh, sabar Ara. Sebentar lagi suami kamu pulang kok.


Aku memperhatikan masakan yang sudah aku buat. Kenapa aku mendadak lapar banget ya? Padahal tadi sebelum ke rumah sakit aku sudah makan, dan itu lumayan banyak. Hah, ini pasti babynya sedang lapar kan? Tunggu abi sebentar ya sayang. Kita harus menunggu abi kamu dulu. Aku terus mengelus perutku.


Selang beberapa saat, aku mendengar suara pintu terbuka.


"Abi pulang sayang," ucapku sambil beranjak untuk membuka pintu.


"Maaf menunggu lama sayang, tadi ada sesuatu yang harus di selesaikan. Ini buat kamu," ujar Alan mencium keningku. Aku mengambil paper bag yang Alan berikan.


"Susu?" tanyaku heran. Kenapa Alan membeli susu? Aku kan tidak suka susu.


"Kamu harus minum, baby kita butuh asupan gizi yang lengkap." ujarnya. Aku hanya bisa menghela napas berat. Demi baby, aku akan melakukan apapun.


Kami pun beranjak menuju meja makan.


"Kamu tidak makan?" tanyanya menarik kursi dan duduk di sana.

__ADS_1


"Makan kok, Ara lapar banget bi. Tadi nunggu hubby lama," jawabku jujur. Perutku terus berbunyi sedari tadi. Aku menuangkan nasi di piringnya seperti biasa.


"Hmmm... Ya sudah, ayok makan." ajaknya. Lalu kami pun langsung menyantap hidangan sederhana yang sudah aku siapkan. Kebahagiaan itu cukup sederhana, tidak perlu sesuatu yang mewah ataupun megah. Yang penting selalu bersama dalam merajut asa, menyatukan rasa dan melindungi kesetian hingga akhir masa.


__ADS_2