
Ketika hati mulai ragu, itu artinya kepercayaan sudah mulai memudar. Sabar lah, setiap ujian pasti akan ada jalan keluarnya. Ibarat ingin naik kelas. Kita harus ikut ujian dulu bukan? Nah, seperti itu juga kehidupan. Jika ingin naik kepanggung yang lebih tinggi. Maka harus siap dengan ujian-ujian berikutnya.
~Ketulusan Hati 2~
Rasa sakit kini mulai menjalar di dalam hatiku. Sudah dua hari Alan tidak pulang. Bahkan dia sama sekali tak memberi kabar. Kenapa dia melakukan ini? Seharusnya aku yang marah. Hiks, kenapa kamu begitu jahat Alan?
Ku hapus air mataku dengan kasar. Aku menghidupkan radio dengan volume yang cukup besar. Aku ingin melupakan semuanya. Tapi itu semua sia-sia. Ku lajukan mobilku untuk keluar dari pekarangan kampus.
Di gerbang, aku seperti melihat seseorang yang begitu aku kenal. Alan? Dia ada disini? Apa dia mencariku? Aku tersenyum senang. Aku hendak memarkirkan mobilku. Namun tiba-tiba aku melihat seorang wanita datang menghampiri Alan.
Jihan? Jadi Alan kesini hanya untuk menjemput Jihan? Dia sama sekali tidak memberiku kabar, tapi dia bisa jalan dengan orang lain. Apa maksud semua ini Alan? Apa kamu ingin mempermainkan hubungan kita?
Tak terasa air mataku jatuh. Aku menghapusnya dengan sangat kesal. Kenapa aku begitu cengeng sih? Hiks, ini sangat sakit Alan. Sakit.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menancap gas untuk meninggalkan tempat itu. Hatiku benar-benar hancur. Ingin sekali rasanya aku menghampiri Alan dan memukulnya sampai puas. Tapi itu tidak mungkin aku lakukan.
Saat ini aku hanya ingin menenangkan diri. Aku ingin memeluk bunda dan menangis dalam dekapan bunda.
Sesampainya di depan rumah bunda. Aku sedikit ragu untuk masuk. Bagaimana jika bunda menyuruh aku pulang? Bagaimana jika papah marah?
Ceklek!
Aku sangat terkejut saat pintu terbuka lebar. Disana bunda sedang menatapku.
"Bunda." ucapku langsung berhambur kepelukkan bunda. Tangisanku tak bisa aku kontrol.
"Eh, kenapa nangis? Masuk dulu ya?" ucap bunda. Aku hanya mengangguk pelan. Bunda membawaku masuk kedalam dengan begitu lembut. Aku sangat merindukannya.
"Bunda jangan suruh Ara pergi, Ara mau disini dengan bunda." ucapku saat kami sudah dikamar. Aku memeluk bunda dengan erat.
"Kamu bicara apa sih? Mana mungkin bunda mengusir anak bunda sendiri. Ada apa huh? Kenapa datang-datang menangis?" tanya bunda. Aku semakin terisak. Dadaku sangat sesak.
"Alan bunda, Alan marah dengan Ara." ucapku. Bunda mendorong tubuhku perlahan dan menghapus air mataku.
"Marah? Bagaimana bisa marah? Apa kamu buat kesalahan besar?" tanya bunda menangkup wajahku. Aku menggeleng.
__ADS_1
"Lalu?" Bunda menatapku lekat. Aku bingung harus bicara dari mana.
"Ara... Ara hanya meminta hak Ara sebagian istri bunda. Ara ingin menjadi istri seutuhnya. Tapi Alan malah pergi, Ara tidak tahu apa alasan Alan menolak. Apa Alan memang tidak mencintai Ara ya bun? Apa selama ini Alan cuma kasian sama Ara?" ujarku menatap bunda lekat.
"Sudah dua hari Alan tidak pulang dan tidak memberi Ara kabar. Tapi tadi Ara lihat Alan jemput Jihan. Alan jahat bunda." ucapku kembali memeluk bunda. Aku hanya ingin pelukan bunda. Aku mendengar bunda menghela napas berat.
"Jangan berprasangka buruk dulu sayang, mungkin Alan punya alasan yang sulit untuk dia katakan. Dia tidak pulang bisa jadi karena pekerjaannya. Kamu tahu sendiri bukan Alan saat ini masih dalam masa sulitnya. Dia harus membagi waktu antara kamu, kuliah dan pekerjaannya. Mungkin saja Alan masih menunggu waktu yang tepat untuk bicara sama kamu." ujar bunda. Aku mencerna semua ucapan bunda. Memang benar semua yang bunda katakan. Tapi kenapa Alan sama sekali tidak memberiku kabar? Apa salahnya mengirim pesan kalau dia tidak akan pulang beberapa hari. Itu lebih jelas.
Lalu bagaimana bisa dia bersama Jihan? Kenapa dia tidak menemuiku dulu. Dia pasti tahu aku ada di kampus.
"Jangan terlalu terbawa perasaan sayang. Itu tidak baik. Apa lagi pernikahan kalian baru seumur jagung. Pasti akan banyak ujian. Ketika hati mulai ragu, itu artinya kepercayaan sudah mulai memudar. Sabar lah, setiap ujian pasti akan ada jalan keluarnya. Ibarat ingin naik kelas. Kita harus ikut ujian dulu bukan? Nah, seperti itu juga kehidupan. Jika ingin naik kepanggung yang lebih tinggi. Maka harus siap dengan ujian-ujian berikutnya."
Aku kembali mencerna ucapan bunda. Apa itu benar? Apa saat ini aku sudah ragu dan kepercayaanku padanya mulai pudar? Ya Allah, Ara bingung. Tolong bantu Ara untuk melewati semua ini.
"Tapi bunda, Ara masih mau disini. Ara tidak mau pulang. Ara, Ara mau sama bunda." ucapku. Bunda semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya bunda faham. Kamu istirahat ya, bunda buatkan makanan dulu. Kamu pasti belum makan. Kamu sangat pucat. Jangan bilang dari kemarin tidak makan."
Memang benar, sejak Alan pergi. Nafsu makanku hilang.
"Kamu harus makan. Istirahat dulu. Bunda akan buatkan makanan untuk kamu." ucap bunda mencium keningku begitu penuh kasih sayang. Aku mengangguk. Bunda pun langsung beranjak pergi. Aku manatap punggung bunda yang mulai menghilang dibalik pintu.
Pikiranku kembali teringat pada Alan dan Jihan. Sedang apa mereka sekarang?
Ku rebahkan tubuhku dan ku tarik selimut hingga menutupi setengah tubuhku. Aku menatap foto pernikahanku dengan Alan. Benarkah ini hanya sebuah ujian dari-NYA? Kenapa begitu berat? Sakit sekali rasanya. Apa arti pernikahan ini bagi Alan? Apa selama ini dia menganggap aku sebagai istrinya atau hanya sebatas sahabat? Aku sendiri tidak mengerti.
Aku pejamkan mataku perlahan. Namun tak lama aku meraskan kasurku bergoyang. Karena tekejut aku langsung bangun.
"Papah?" ucapku menatap papah. Huh, aku kira siapa, ternyata papah.
"Maaf papah buat kamu tekejut. Papah sangat merindukan putri kecil papah." ucap papah mengelus kepalaku. Aku tersenyum dan langsung memeluknya.
"Ara juga sangat merindukan papah. Papah apa kabar?"
"Baik sayang. Kamu bagaimana, papah lihat kamu sedang tidak baik? Apa ada masalah dengan Alan?"
__ADS_1
Aku melerai pelukanku dan menatap papah lekat. Aku mengangguk.
"Hmmm... Anak papah sudah dewasa. Sudah punya suami, tapi masih saja menangis."
Aku kembali memeluk papah. Kehangatan papah selalu membuat perasaanku lebih tenang.
"Ara rindu papah." ucapku. Aku pejamkan mataku karena kepalaku sangat sakit. Pasti karena aku terus menangis.
"Papah boleh katakan sesuatu?" tanya papah, aku kembali membuka mataku. Ku angkat kepalaku untuk menatap papah.
"Jangan marah pada Alan, semua ini permintaan papah." ucap papah. Aku bingung dengan arah pembicaraan papah.
"Maksud papah?" tanyaku bingung.
"Papah yang meminta agar Alan tidak menyetuh kamu sampai umur kalian benar-benar matang. Papah minta maaf, ini semua demi kebaikan kamu. Papah tidak mau kejadian bunda kamu harus terulang. Papah tidak mau kehilangan putri papah."
Aku sangat terkejut mendengar pemaparan papah. Jadi ini alasan kenapa Alan tidak mau menyetuhku. Ya Allah, aku sudah salah sangka pada suamiku sendiri. Maafkan Ara ya Allah.
"Papah juga meminta pada Alan agar tidak mengatakan ini sama kamu Ara. Tapi papah tidak menyangka hal ini menjadi bumerang untuk hubungan kalian. Papah minta maaf, kamu boleh marah sama papah. Kamu boleh menghukum papah." ujar papah menarik tanganku dan memukulkan di pipinya. Aku langsung menahannya.
"Tidak pah, Ara tidak akan bisa marah sama papah." ucapku memeluk papah. Sekarang aku tahu apa masalahnya. Maafkan aku Alan.
"Ara tahu, papah melakukan ini karena papah menyayangi Ara kan?" ucapku memeluk papah dengan erat.
"iya sayang, papah cuma tidak mau kehilangan kamu." ucap papah mencium kepalaku.
"Tapi papah harus percaya pada Ara. Ara pasti... " Akhhh, kenapa kepalaku sangat sakit.
"Ara."
Aku mendengar suara papah semakin menjauh. Padahal aku masih dipelukan papah. Hah, sakit sekali, aku juga tidak bisa melihat dengan jelas.
"Ara....a.ra...a"
Suara itu semakin menjauh. Kepalaku juga sangat berat. Papah....
__ADS_1