
Huh, hari ini cukup melelahkan. Setelah menyelesaikan masalah kantor, kini aku harus kembali ke kampus untuk menyelesaikan tugas akhirku. Sudah aku targetkan tiga bulan kedepan aku sudah bisa mendapatkan gelar magister. Kembali ke Indonesia adalah hal yang paling ku tunggu. Sebagus apapun disini, namun tetap negara orang. Tanah airku yang aku cintai... Begitulah adanya.
"Permisi," ucapku saat melewati beberapa orang yang sedang berdiri didepan perpustakaan. Aku langsung masuk kedalam, mengambil beberapa buku yang akan aku jadikan sebagai referensi. Setelah mendapatkan beberapa buku yang cukup bagus, aku langsung beranjak menuju ruangan Professor. Seperti biasa, disana lah tempatku bermain. Ku letakkan beberapa buku diatas meja.
"Hey, dari mana saja kau?" tanya Marchel duduk diatas mejaku. Aku menatapnya tajam agar ia enyah dari mejaku.
"Seperti yang kamu lihat," jawabku. Ku buka laptop kesayanganku dengan hati-hati.
"Jane mana? sejak pagi aku tidak melihat batang hidungnya?" tanya Alex sembari mengambil pulpen di meja.
"Dia sedang mengajak istriku belanja, biarlah dia sedikit bersantai." jawabku seadanya.
"Hmmm... Akrab juga mereka, sepertinya istrimu pandai memikat hati semua orang," ujar Michael. Ck, memang dia kira istriku pemikat hati apa?
"Bukan memikat, dia pandai bergaul. Dia sangat menyukai banyak teman," ujarku.
"Wow, itu artinya aku bisa menjadi teman baiknya." ucapnya.
"Coba saja jika bisa," ujarku dengan santai.
"Ok, akan aku cobak." ucapnya langsung beranjak menuju mejanya. Aku menggeleng dan kembali pokus pada tulisanku.
Selang beberapa saat, aku melihat pintu terbuka dan menampakkan sosok panutan yang begitu aku kagumi. Ya, siapa lagi kalau bukan Professor Luis.
"Siang Prof." ucap kami serentak.
"Arlan, ikut denganku kedalam." ujarnya beranjak masuk kedalam ruangan pribadi beliau. Aku menutup laptopku dan langsung ikut masuk.
"Ada yang bisa saya bantu Prof?" tanyaku saat sudah berada di dalam ruangannya. Professor mengangkat tangannya untuk menyuruhku duduk. Aku mengikuti perintahnya. Ku lihat ia menatapku sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Sebenarnya apa yang akan beliau sampaikan? Sepertinya sangat penting.
"Arlan, kali ini saya ingin membahas masalah pribadi. Saya harap kamu tidak keberatan," ujarnya. Masalah pribadi? Apa Professor sedang jatuh cinta?
"Ya, saya tidak akan keberatan selagi prof berkenan," balasku.
"Selama ini kamu banyak mengajarkan saya tentang cinta, saat ini saya sedang jatuh cinta dengan seseorang. Tapi sayang, dia sudah memiliki pasangan. Bagaimana pendapat kamu? Apa cintaku salah?"
Hmmm... sudah aku tebak beliau memang sedang jatuh cinta. Professor ini seperti abg saja, padahal usianya sudah hampir kepala empat. Tapi jujur, walaupun umurnya sudah begitu matang. Tapi wajahnya masih seperti pria seumuranku.
"Seperti yang sudah saya katakan dulu prof. Cinta tidak pernah salah, karena yang salah itu manusianya sendiri. Menempatkan cinta pada tempat yang salah. Cinta adalah fitrah semua manusia, semua orang memiliki cinta dan berhak jatuh cinta," jelasku padanya.
"Cinta anda tidak salah prof, hanya saja waktu anda jatuh cinta yang tidak tepat. Seharusnya anda mencari tahu dulu siapa wanita itu sebelum anda menempatkan hati anda padanya. Mungkin dia sudah memiliki cinta yang lain, dan dia sangat mencintai pasangannya." lanjutku.
"Hmmm...lalu bagaimana jika aku benar-benar terlanjur menaruh hati padanya? Apa aku harus tetap mempertahankan cinta itu?"...
Huh, ku tarik napas panjang. Apakah prof benar-benar tidak tahu apapun tentang cinta? Apa selama ini ia tak pernah merasakan cinta? Benar-benar seperti anak yang baru beranjak dewasa.
"Jika saya jadi anda, saya akan langsung menjauh. Tak seharusnya saya mencintai milik orang lain, karena cinta tidak bisa dipaksa prof." jawabku sebisa mungkin. Aku sendiri bukan ahli dalam hal cinta. Jadi aku menjawab sebatas yang aku tahu. Aku menatap Professor Luis yang masih terdiam.
"Istri kamu ada disini?" tanyanya yang berhasil membuatku bingung. Bagaimana beliau bisa tahu?
__ADS_1
"Ya, sudah beberapa bulan dia ada disini," jawabku dengan jujur.
"Apa kamu sangat mencintainya?" tanyanya lagi. Aku tersenyum mendengar pertanyaan yang tak seharusnya beliau tanyakan lagi.
"Jika anda menanyakan hal itu seribu kali, maka saya akan menjawab lebih dari seribu kali jika saya sangat mencintai istri saya." jawabku lagi.
"Saya harap anda mendapatkan cinta yang tulus, karena anda orang yang begitu baik. Saya yakin, begitu banyak cinta yang menunggu anda." lanjutku.
"Hmmm... Aku harap seperti itu. Kau sangat beruntung dan lebih cepat dariku. Aku merasa kalah darimu," ujarnya menatapku lekat. Aku tersenyum mendengar perkataannya yang terlalu berlebihan.
"Anda juga sangat beruntung," ucapku sambil tersenyum.
"Tak seberuntung dirimu." Prof Luis bangun dari tempat duduknya.
"Prof, sebaiknya anda cepat melupakan wanita itu. Sebelum anda benar-benar jatuh ke dalam jurang yang lebih dalam. Melabuhkan cinta di dermaga yang sudah berpemilik akan sulit untuk ditemukan, karena cinta sang pemilik lebih mendominasi sang dermaga. Pemilik itu lebih memahami luar dalam dermaga tersebut." Aku mencoba menjelaskan padanya. Sepertinya beliau sudah salah menempatkan cintanya.
"Ya kamu benar, aku akan melupakannya. Sepertinya aku sudah mendapatkan jawaban tepat darimu. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu, maaf aku mengganggumu Arlan." Ujarnya. Ia menatapku lekat, aku mengangguk pelan. Setelah berpamitan, aku langsung beranjak keluar.
Waktu berjalan begitu cepat, aku melihat keluar jendela yang menunjukkan jika hari sudah hampir malam.
"Aku harus pulang, istriku sudah menunggu." ujarku pada Alex dan Marchel yang masih berkutat dengan laptop masing-masing. Mereka hanya mengangguk, aku menggeleng dan langsung beranjak untuk pulang.
Aku membuka pintu perlahan. Namun aku sangat terkejut saat melihat keadaan rumah yang masih gelap. Kemana dia? Apa belum pulang? Bukankah aku sudah mengatakan padanya untuk langsung pulang.
Aku berjalan untuk menghidupkan lampu. Namun aku kembali terkejut saat melihat keadaan rumah yang sedikit berantakan. Ada apa ini?
"Ara," panggilku dan berjalan menuju kamar. Aku membuka pintu kamar, semuanya masih sangat rapi. Sama sekali tak menunjukkan keberadaan istriku. Kemana dia? Kenapa membuatku sangat khawatir. Ku tutup kembali pintu kamar perlahan. Saat kakiku hendak melangkah, sayup-sayup aku mendengar suara seseorang dari arah dapur.
Aku bernapas lega saat melihat dirinya baik-baik saja, aku melangkah untuk menghampirinya.
"Kenapa membuatku khawatir?" Ku kecup keningnya dengan lembut.
"Selamat ulang tahun hubby, maaf Ara telat ngucapin. Habis tadi malam Ara ketiduran, jadi gagal deh kasih kejutannya." ujarnya. Aku tersenyum dan kembali mengecup keningnya.
"Kamu sudah cukup membuat aku terkejut sayang," ucapku mengusap kepalanya.
"Ayok dimakan dulu kuenya, Ara yang buat sendiri loh kuenya."
Aku tersenyum dan menatap kue yang yang ada di tangannya. Bahkan aku sendiri tak ingat jika hari ini adalah hari kelahiranku.
"Apa itu enak? Pasti tidak enak." gurauku ingin mengerjainya.
"Bi, belum juga hubby coba." ucapnya dengan bibir yang mengerucut. Aku tertawa dan mengecup bibirnya yang begitu menggemaskan. Aku terus menatapnya yang tengah memotong kue, dia terlihat semakin cantik.
"Ini, hubby habiskan ya? Ara kecewa kalau hubby tidak makan," ucapnya sambil memberikan sepotong kue padaku.
"Sepertinya makan dari tangan orang lain lebih enak," kataku sambil menatapnya.
"Seperti anak kecil saja," ucapnya. Namun ia tetap menyuapiku. Dengan senang hati aku melahap kue dari tangannya. Sangat enak, lebih enak dari kue yang sering aku makan di luar sana. Tapi tunggu! Kenapa perutku seperti di putar. Aku menutup mulutku saat Ara ingin menyuapiku lagi.
__ADS_1
"Kenapa bi? Tidak enak ya?" tanyanya. Aku langsung menggeleng. Aku berlari menuju wastafle untuk memuntahkan isi perutku. Rasanya benar-benar sangat mual.
"Bi, hubby kenapa? Sakit? Kok bisa muntah-muntah gini sih? Apa tadi hubby salah makan?"
Aku menggelengkan kepalaku, rasanya aku tidak memakan apapun yang aneh tadi siang. Ku basuh mulutku dengan air saat rasa mual itu sudah menghilang.
"Mungkin cuma masuk angin," ucap ku berjalan menuju meja makan. Aku menarik kursi dan duduk di sana.
"Hubby pucat, Ara ambil minyak kayu putih dulu ya?" ucapnya hendak pergi. Namun dengan cepat aku menahan tangannya.
"Tidak perlu, tetap disini." Ku tarik dirinya dalam pangkuanku. Entah lah, saat ini aku hanya ingin menatap wajahnya.
"Bi, sebaiknya hubby mandi. Setelah itu istirahat," titahnya sembari mengusap wajahku. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Ayok, biar Ara siapkan air untuk hubby." Ia bangun dan menarik tanganku. Aku mengikutinya dari belakang.
"Sudah siap bi, sana mandi dulu. Setelah itu hubby harus istirahat, apa mau Ara buatkan makan?" ujarnya yang langsung aku jawab dengan gelengan. Perutku sepertinya sedang tidak enak. Aku langsung masuk ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa penat.
Aku keluar dari kamar mandi, namun aku tak melihat keberadaan istriku. Aku juga melihat bajuku sudah berada di atas ranjang. Dia memang istri idaman, tak salah aku begitu mencintainya.
"Sayang," panggilku keluar dari kamar. Aku tersenyum saat melihat bayangan dirinya dari arah balkon. Aku berjalan perlahan menghampirinya. Namun langkahku kembali terhenti saat melihat penampilannya yang sudah berbeda dari yang tadi, ia juga mengenakan jaket milikku. Kenapa dia berganti pakaian?
Ku lingkarkan kedua tanganku di perutnya. Aku juga menjadikan bahunya sebagai sandaran. Aroma strawberry menyeruak masuk dalam hidungku.
"Sedang apa?" bisikku. Ku kecup pipinya dengan lembut.
"Melihat indahnya malam," jawabnya sembari mengelus tanganku.
"Disini tidak dingin, kenapa memakai jaket?" tanyaku heran. Aku memutar tubuhnya perlahan. Aku menatap netra indah itu begitu dalam. Mencari sebuah ketenangan.
"Lihat kebawah," ucapnya sedikit berbisik. Aku menatapnya bingung. Aku mengikuti gerakan tangannya yang membuka resleting jaket. Aku kembali menatapnya bingung, aku tak mengerti maksudnya.
"Lihat kaus yang Ara pakai bi," ucapnya yang terlihat begitu senang. Aku kembali menjatuhkan pandangan pada pakaiannya. Tidak ada apa-apa, hanya ada tulisan 'Hy daddy'. Tunggu! Apa jangan-jangah...
"Kamu hamil?" tanyaku dengan semangat. Semoga itu benar-benar terjadi. Ara mengangguk antusias. Hah, apa ini sedang mimpi? Ya Allah, aku berharap ini bukan mimpi.
"Bi, kenapa malah bengong? Tidak senang ya?" tanyanya yang berhasil mengembalikan kesadaranku. Aku menatap wajahnya untuk mencari sebuah kebohongan. Namun aku sama sekali tak menemukan itu.
"Jadi ini nyata?" ucapku langsung memeluknya. Ku kecup kepalanya berkali-kali. Aku sangat bahagia, sebentar lagi akan ada yang memanggilku ayah. Oh, aku benar-benar bahagia. Terimakasih ya Allah, ini adalah kejutan yang luar biasa. Sungguh indah hadiah darimu.
"Hmmm... Ini nyata bi. Dia ada disini," balasnya. Aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Ku kecup mesra keningnya.
"Terimakasih," ucapku. Ara tersenyum dan menarik tanganku, ia meletakkan di perutnya.
"Dia rindu abinya," ucapnya. Aku tersenyum dan kembali memeluknya.
"Hubby sangat bahagia sayang, ini adalah hadiah paling indah yang pernah hubby dapatkan, terimakasih. I love you so much... "
"Love you to," balasnya mencium pipiku. Rasa syukur tak henti-hentinya aku ucapkan pada sang maha kuasa. Aku akan menjaganya dengan baik, mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Ku angkat tubuhnya untuk dibawa ke kamar. Ku baringkan tubuhnya perlahan diranjang. Ku tetap netra indah miliknya yang begitu memenangkan hati. Perlahan ku kecup keningnya dengan lembut.
__ADS_1
"Sehat selalu di dalam sayang, abi menunggu kehadiran kamu." Aku mengecup perutnya yang masih rata. Apa seperti ini kah rasanya akan menjadi seorang ayah? Perasaan bahagia bercampur haru saling melengkapi satu sama lain. Ingin sekali rasanya aku berteriak dan mengatakan jika aku sangat bahagia. Ya Allah, aku benar-benar sangat bahagia.
Bersambung...