
Sementara di kediaman Hatta Soedipjo, nampak sang paman sedang duduk dengan senangnya.
Pasalnya, sesuai janji dari pengacara keluarga Kiandra, hari ini adalah hari di mana surat wasiat keluarga dibacakan.
Bak kebakaran jenggot, dengan mata melotot dan mulut menganga.
Ia tak menyangka, surat wasiat dari sang kakak yang tak lain ayah dari Kiandra sudah di ganti menjadi surat wasiat Kiandra sebelum ia dinyatakan meninggal dalam kecelakaan.
Bahkan detak jantungnya seakan tiba tiba berhenti mendengar sebuah pernyataan dari sang pengacara tentang isi surat wasiat Kiandra yang saat itu sedang di bacakan.
Namanya beserta nama istri dan anaknya tidak ada yang tercantum di surat wasiat itu.
Hanya ada nama Nurma di surat wasiat itu.
Dengan keterangan singkat bahwa Nurma ialah saudara dan pewaris tunggal kekayaan Soedipjo.
"Anda jangan main main dengan saya...!!", seru pak Hatta marah sembari menarik kera baju sang pengacara.
"Tolong lepaskan pak...!!, saya di sini hanya melaksanakan tugas", ucap sang pengacara secara tegas.
__ADS_1
"Halahhh..!!, bilang saja anda juga tergiur dengan harta keluarga kami, jadi anda mengganti isi surat wasiat itu", ucap pak Hatta mengarang opini seenaknya sendiri.
"Jaga bicara bapak..!!, saya bisa laporkan ini semua dengan pasal pencemaran nama baik", seru sang pengacara Kiandra tak terima dengan tuduhan pak Hatta.
"Pak Satria...!!, cepat periksa surat wasiat itu...??", seru pak Hatta memberi perintah pada pengacaranya.
"Silahkan...!!", seru pengacara Kiandra tanpa rasa takut.
Pak Satria segera mengambil surat wasiat dari tangan pengacara kepercayaan keluarga Kiandra yaitu pak Yura.
Ia meneliti dengan seksama keaslian stempel, tinta, tanda tangan beserta materai yang ada.
Mendengar penuturan dari sang pengacaranya, pak Hatta kembali terlihat pucat pasi.
Ia amat terkejut dengan apa yang telinganya dengar.
"Ini asli pak..!!"
Seakan ucapan itu terus terngiang ngiang di telinga pak Hatta.
__ADS_1
"Bagaimana pak...??, jika bapak sudah selesai, bapak bisa keluar dari kantor saya sebelum saya benar benar melaporkan bapak atas pencemaran nama baik", ucap pak Yura membuka pintu keluar untuk pak Hatta dan sang pengacara.
Karna merasa amat malu, pak Hatta dan pengacaranya bergegas pergi dari sana tanpa berbicara dan menoleh lagi kebelakang.
Sementara, pak Yura yang telah melihat mobil pak Hatta pergi dari kantornya, dengan segera menginformasikan kepada Boy tentang semuanya lewat panggilan telfon.
"Semua aman Boy...!!, saya minta kamu terus lindungi dia", ucap pak Yura segera menutup panggilan telfonnya.
Sedangkan di perjalanan, pak Hatta masih tak percaya dengan apa yang terjadi hari itu.
Dalam sekejap, aku pikir aku telah mendapatkan segalanya, tapi nyatanya...., perjalananku masih panjang, sebelum harta itu aku genggam, aku tak akan pernah mundur..!!, entah siapa itu Nurma...??, jika perlu aku akan menemukan dan melenyapkannya juga, gumam pak Hatta dalam hati.
"Kalau bapak mau, saya akan mengusahakan perubahan surat wasiat itu bagaimanapun caranya, kita akan cari titik lemah dari surat kuasa itu", ucap pak Satria.
"Kamu urus sesuai caramu, aku urus sesuai caraku", ucap pak Hatta terus memikirkan cara untuk menemukan di mana Nurma berada dan seperti apa rupanya.
"Maksud bapak...??", tanya sang pengacara tak mengerti.
"Sudahlah..!!, jangan banyak bicara..!!, urus saja tugasmu...!!, saya minta semuanya beres...!!, jika tidak..!!, jangan sekali kali menghadap saya tanpa saya minta..!!", seru pak Hatta membuat pak Satria bungkam dan terdiam di sepanjang jalan pulang.
__ADS_1