
"Tambah dosis nya sus!, kita hampir kehilangan mereka!," perintah seorang dokter masih berusaha menyelamatkan Queen dan juga Romi.
"Denyut nadi nya semakin melemah dok!," seru seorang suster bergegas menyiapkan alat kejut jantung jikalau nanti benar benar di butuh kan.
"Periksa alat vital nya yang lain, panggil dokter spesialis luka dalam segera!," seru sang dokter dengan terus berkutat dengan gunting dan jarum serta yang lain nya.
Melihat monitor jantung Queen semakin melemah, sang suster segera mendekatkan alat denyut jantung yang sudah ia persiapkan.
"Sudah kamu atur daya kejut nya?," ucap dokter memastikan keamanan alat nya.
"Sudah dok," sahut sang suster.
Satu kali.
Dua kali.
Bahkan tiga kali.
Jantung Queen belum kembali stabil.
Sedangkan Romi sudah di tangani oleh dokter dan tim medis lain yang baru saja masuk ke dalam ruang igd.
"Tambah daya kejut nya!," perintah sang dokter segera di laksanakan oleh sang suster.
Sedangkan suster yang lain mencoba menjahit luka menganga di paha Queen.
Saat alat kejut itu hampir menyentuh dada Queen lagi, Queen mulai menunjukkan reaksi dan langsung memuntahkan cairan darah dari mulut nya.
"Kita bisa kehilangan dia kalau seperti ini. Suster siapkan ruang operasi untuk ibu Queen, dan biarkan pak Romi tetap di tangani dokter Surya di ruangan ini," ucap sang dokter bergegas memindahkan Queen ke ruang operasi.
"Mi, jalan pelan pelan!," seru Sofia mencoba menyusul langkah kaki sang mami yang begitu cepat menyusuri lorong rumah sakit.
Dengan sesekali memegangi dada nya yang sesak, ia terus mencoba melangkah secepat yang ia bisa untuk menemui putra kebanggaan nya itu.
"Kenapa kakak mu bisa sampai terlibat kecelakaan mengerikan seperti itu!, apa dia mau melihat mami mati berdiri," keluh nyonya Fena menambah kecepatan berjalan nya saat melihat keluarga Kiandra sudah nampak berkumpul di depan ruang igd.
__ADS_1
"Mi!," seru Sofia sama sekali tak dihiraukan oleh sang mami, bahkan nyonya Fena tak memperdulikan saat langkah kaki nya yang sedikit sempoyongan itu menabrak barang barang rumah sakit.
Nyonya Fena seketika berhenti di hadapan Kiandra, dan mencoba menuntut sebuah penjelasan bagaimana keadaan putra nya saat itu.
"Katakan pada ku nak, putra ku baik baik saja kan?," tanya nyonya Fena penuh harap.
"Mereka sedang di tangani oleh dokter tante, kita berdoa saja untuk kesembuhan mereka," ucap Kiandra membuat nyonya Fena bingung.
"Mereka?, si-siapa yang berada satu mobil dengan putra ku?," seru nyonya Fena menatap semua orang yang ada di sana, terutama ke arah bu Rara yang nampak sangat menyedihkan dengan infus yang menggantung di tangan nya.
"Queen tante," ucap Kiandra membuat nyonya Fena nampak begitu marah.
"Jadi anak mu yang saat itu bersama dengan anak ku?," tanya nyonya Fena hanya mendapatkan jawaban sebuah anggukan pelan dari bu Rara.
"Putri mu memang biang dari semua masalah!, kenapa Romi ku bisa semobil dengan wanita seperti itu!," seru nyonya Fena yang sejak awal memang tak suka dengan sosok Queen yang manja dan suka hura hura.
Mendengar hinaan itu bu Rara hanya terdiam sembari terus menatap pintu igd yang belum kunjung di buka oleh para dokter.
"Kenapa Rom?, kenapa kamu masih mengejar wanita jala*g itu," ucap nyonya Fena terduduk dan menangis di lantai.
Kiandra dan Boy hanya terdiam tanpa membela Queen yang memang ikut memiliki andil besar dalam semua permasalahan itu.
Tak berselang lama.
Pintu ruangan igd tiba tiba terbuka dan nampak beberapa suster tengah berusaha memindahkan sebuah Brankar dorong milik salah satu pasien mereka.
"Gimana keadaan anak saya sus?," seru bu Rara segera menghadang jalan sang suster.
"Permisi buk, kami harus segera menyelamatkan nya," seru sang suster kembali mendorong brankar pasien hingga dengan jelas menampakkan wajah Queen yang terlihat bercak darah di sekeliling mulut Queen.
"Queen!, anak ku!," teriak bu Rara tak kuasa membendung tangis histeris nya.
"Maaf buk, tolong, pasien dalam keadaan kritis," seru sang suster membuat Kiandra mencoba menahan bu Rara agar tak kembali menghadang jalan para suster.
"Lepaskan!, kalau bukan karna lelaki bejat itu, putri ku pasti masih bersama ku," keluh bu Rara membuat nyonya Fena bangkit dari duduk nya dan menarik rambut bu Rara.
"Apa kamu bilang?, putra ku lelaki bejat!, berani nya kau!," sentak nyonya Fena langsung mengangkat tangan nya.
__ADS_1
Plakk....
Sebuah tamparan segera mendarat di pipi bu Rara dengan cepat nya.
Sontak Kiandra segera berusaha melerai, namun di hadang oleh bu Rara sendiri.
"Kau berani menampar ku?," seru bu Rara menatap lekat lekat wanita paruh baya yang kini berada di hadapan nya.
"Mulut mu memang harus di beri pelajaran!," sentak nyonya Fena mencoba kembali mendorong bu Rara.
"Sebaik nya tutup dulu mulut mu itu dan dengarkan apa yang akan ku sampaikan ini," ucap bu Rara menerkam tangan nyonya Fena dengan erat nya.
"Lepaskan!," sentak nyonya Fena mencoba menepis tangan bu Rara dari pergelangan tangan nya.
"Kau lihat bayi itu?," seru bu Rara menunjuk ke arah bayi Ema yang terus di peluk erat oleh sang suster dari kejauhan.
"Jangan coba coba mengalihkan pembicaraan kita!," sahut nyonya Fena.
"Aku tidak mengalihkan apapun, aku hanya akan memberitahumu bahwa bayi itu adalah hasil dari perbuatan bejat putra mu yang telah menodai anak ku!," seru bu Rara membuat Kiandra kembali khawatir dengan nasib bayi Ema.
"Ema," seru Kiandra berusaha meraih bayi Ema dari dekapan sang suster.
Sedangkan nyonya Fena masih terdiam mematung dan syok dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut bu Rara.
"Cukup tante!," seru Kiandra membuyarkan lamunan nyonya Fena.
"Dia harus tahu Kin!, enak saja dia menjelek jelek kan Queen tapi ia tak sadar dengan kelakuan bejat anak nya sendiri!," seru bu Rara meluapkan semua kekesalan nya saat itu.
"Tidak mungkin!," ucap lemas nyonya Fena sembari menatap bayi Ema yang saat itu masih tertidur lelap dalam dekapan Kiandra.
"Jangan mencoba membela anak mu itu!, dia sudah berani menodai anak ku, menghancurkan masa depan nya, memaksa nya menjadi seorang ibu saat ia belum siap untuk itu, dan kini, putra mu lah yang harus di per salah kan!," sentak bu Rara membuat semua orang semakin berkumpul menyaksikan perdebatan mereka, bahkan para satpam rumah sakit sudah berada di sana untuk melerai kedua nya.
Sementara di tengah pertengkaran mereka, Queen dan Romi masih berusaha untuk bertahan hidup lebih lama lagi.
Sedangkan nyonya Fena seketika terduduk lemas dan menangis sejadi jadi nya.
Ia tak menyangka, putra kebanggaan nya telah menyembunyikan hal sebesar itu dari nya selama ini.
__ADS_1