
Karna sering menghabiskan waktu bersama, dan hanya Boy lah yang bisa menjadi pendengar yang baik untuknya.
Lambat laun Kiandra mulai merasakan benih benih cinta kepada Boy, bahkan juga sebaliknya, bahkan Boy sebenarnya telah memendam rasa pada majikannya itu sejak lama.
Kedekatan mereka malah membuat Puja semakin murka, ia yang pada dasarnya hanyalah gadis desa biasa malah berubah memiliki banyak rencana licik dan berbahaya hanya untuk memisahkan Nurma dan Boy.
Ketidaksukaan pada Kiandra alias Nurma makin menjadi jadi.
"Pasti Boy bakalan senang makan masakan aku, dan dia bakal lebih dekat ke aku ketimbang ke Nurma sialan itu", ucapnya sembari menenteng bekal yang ia bawa dari rumah untuk Boy.
Sementara, di rumah Boy.
Nurma sudah lebih dulu datang membawa sarapan untuknya.
"Hai...!!!", ucap Nurma sembari mendekati Boy yang tengah berolah raga di teras rumah.
"Hai...!!!, duduk Nurma", ucap Boy mengelap keringat di dahinya, dan mengajak Nurma duduk di teras rumahnya.
"Sarapan...??", tanya Nurma sembari menyodorkan sebuah kotak makan pada Boy.
"Wah...!!, jadi malu aku, non...., ehhh Nurma, maaf salah....", ucap Boy gugup karna mendapat perhatian dari Nurma.
"Jangan salah lagi ya...!!", ucap Nurma tertawa sembari mencolek hidung Boy, yang membuat Boy makin merasa tak karuan.
"Aku makan ya..", seru Boy mencium aroma masakan Nurma sembari mulai menyantapnya dengan lahap.
"Gimana...??", tanya Nurma.
"Emmmmm, gimana ya...??", seru Boy membuat Nurma makin penasaran.
"Gak enak ya..", ucap Nurma seketika cemberut.
"Enak kok Nurma, serius amat..!!", ucap Boy sembari tertawa bersama Nurma.
__ADS_1
Tiba tiba pandangan mereka saling bertemu.
Keheningan seakan mendukung dua sejoli itu untuk lebih dekat lagi.
Kedua jantung mereka sama sama berdetak kencang.
Ada perasaan rasa ingin memiliki diantara keduanya.
Perlahan mereka mulai mendekat.
Semakin dekat, bahkan nafas satu sama lain dapat mereka rasakan saat itu.
Puja yang melihat itu dari kejauhan merasa amat geram.
Ia marah sembari meremas bekal yang ia sengaja bawa untuk Boy.
"Beraninya kamu Nurma...!!", ucap Puja sambil membalikkan badannya, ia tak mau melihat lagi hal yang akan membuatnya semakin sakit hati.
Ia kemudian tersenyum sinis dan mengambil batu itu.
Ia lalu bersembunyi di semak semak, dan bersiap melempar batu itu pada Nurma.
Ketika kedua bibir mereka hampir menyatu, sebuah lemparan dari Puja berhasil mengenai dahi Nurma.
"Awhh!", seru Nurma kesakitan, memegangi dahinya yang berdarah.
"Mampus...!!, rasain tuh...!!, emang enak di cium batu..!!, sampek puas sosor tuh batu...!!, genit amat...!!", seru Puja sembari pergi dari sana.
"Kamu gak apa apa...??", tanya Boy membersihkan darah yang mengalir di dahi Nurma.
"Awhhh, pelan pelan..!!", seru Nurma merintih kesakitan.
"Woy...!!, keluar...!!", teriak Boy mencari sumber batu itu berasal.
__ADS_1
"Udah lah Boy, lebih baik kamu tolong aku ya", ucap Nurma menghentikan Boy, karna ia tahu siapa yang bisa melakukan ini padanya.
"Bentar ya, aku ambil P3k dulu", ucap Boy berjalan masuk ke rumahnya.
Tak lama ia keluar lagi dan segera merawat luka Nurma.
Nurma terus memandang wajah lelaki dihadapannya itu.
Dia baik, seperti yang di harapkan bunda dulu, dan perhatian seperti ayah, gumam Nurma dalam hati.
"Hei..??", ucap Boy heran menatap kembali wajah Nurma yang tiba tiba terdiam, bahkan saat lukanya dibersihkan ia tak mengeluh kesakitan sama sekali.
Tiba tiba pandangan mereka kembali beradu.
Kesunyian diantara mereka kembali memunculkan hasrat yang tadinya terhenti akhibat ulah Puja.
Semakin dekat dan semakin dekat.
Tanpa ragu, kedua bibir mereka kini bertemu.
Debaran diantara keduanya terus menambah mesra ciuman mereka.
Ciuman pertama bagi keduanya.
Dan juga cinta pertama untuk keduanya.
Sesaat kemudian, Nurma seakan tersadar dari hasratnya dan merasa amat malu.
"Emmm, aku pamit dulu", ucap Nurma bergegas pergi dari hadapan Boy.
"I, iiii, iyaaa", ucap Boy gugup.
Ya ampun Boy....!!!, apa yang kamu lakukan..!!, gumam Boy dalam hati merasa sangat malu.
__ADS_1