Kiandra

Kiandra
Teras panti asuhan.


__ADS_3

Di tengah deras nya hujan.


Romi terus melajukan mobil nya tanpa henti dengan perasaan yang amat tertekan.


Ia tak tahu harus kemana dan melakukan apa.


Sementara ponsel nya terus saja berdering.


Sang adik terus saja menelfon nya yang tak kunjung kembali ke rumah sakit.


"Ayah benar benar takut Cantika", keluh Romi terus melajukan mobil nya menelusuri jalanan sepi malam itu.


Tiba tiba, ponsel yang sudah terdiam cukup lama kembali berdering kembali.


Dengan kesal Romi mengangkat panggilan ponsel nya dengan nada tinggi dan langsung meluapkan amarah nya.


Saat sebuah suara menjawab amarah nya.


Suara nya seketika menjadi gugup dan mencoba mengatur nafas nya.


"Maaf Rio, aku kira kau orang lain", sahut Romi merasa bersalah karna memarahi seseorang dengan seenak nya.


"Ya , ya !, aku tak akan melupakan acara besok, tenang lah", seru Romi meyakinkan rekan nya.


"Iya aku ingat tempat nya, panti asuhan Paradipta kan ?", sahut Romi lagi.


Saat itu juga ia terdiam dan menatap ke arah Cantika yang masih tertidur pulas.


"Itu dia !", seru Romi menutup panggilan ponsel nya dan segera menambah kecepatan mobil nya menuju ke suatu tempat.


Tak berselang lama.


Romi menghentikan mobil nya di sebrang jalan.

__ADS_1


Nampak hujan masih betah dengan guyuran nya.


Romi meraih Cantika dan menciumi nya sampai puas sembari menangis sesenggukan.


"Ini yang terbaik sayang, ayah janji akan sering sering mengunjungi mu, dan ayah janji akan mencari cara untuk bisa membawa mu kembali pulang", ucap Romi menutup kembali tas jinjing nya dan bergegas menerobos deras nya hujan.


Romi lalu berhenti di sebuah teras rumah.


Bangunan itu nampak nyaman dan tenang.


Di depan rumah nampak tertulis dengan jelas *Panti asuhan Paradipta*.


"Ini lah yang ku cari", ucap Romi segera meletakkan tas berisi sang anak di depan pintu dan bergegas pergi dari sana.


Romi kembali ke dalam mobil nya dengan perasaan kacau dan sesak di dada.


"Ayah dan ibu mu sama saja !, kami tak bisa melakukan yang seharusnya kami lakukan untuk mu", keluh Romi marah dengan diri nya sendiri.


Tepat tengah malam.


Cantika terdengar menangis kencang.


Ingin rasa nya Romi turun dari mobil dan membuatkan nya susu.


Tapi itu mustahil ia lakukan saat itu.


"Ayolah !, kenapa tidak ada yang terbangun di sana ?", keluh Romi.


Tak berselang lama, nampak lampu panti kembali menyala dan seseorang membuka pintu dengan tergopoh gopoh.


Ia begitu terkejut saat membuka tas di hadapan nya yang tak lain ialah tas berisi bayi.


"Akhir nya", seru Romi merasa sedikit lega.

__ADS_1


"Buk !, ada bayi !", teriak wanita itu sembari membopong cantika di dekapan nya.


Namun Cantika mungkin begitu haus sehingga ia terus saja menangis dengan kencang nya.


"Masyaallah, bayi siapa ini ?", seru seorang wanita lagi keluar dari dalam panti.


Lalu salah satu wanita itu kembali masuk ke dalam rumah dan kembali keluar membawa sebotol susu.


"Minumlah sayang", ucap salah satu wanita membuat Romi menangis.


Seketika Cantika berhenti menangis saat kedua wanita itu memberi nya sebotol susu.


"Kenapa masih ada yang tega membuang bayi nya, padahal banyak di luar sana pasutri yang sulit sekali hanya untuk mendapatkan momongan", keluh wanita itu terus menimang nimang Cantika di pelukan nya.


"Aku terpaksa buk, tolong jaga anak ku", ucap Romi menyeka air mata nya.


Tiba tiba, Cantika kembali menangis dengan kencang nya.


"Lho !, kenapa lagi sayang ?, kamu juga gak pup tuh !", seru wanita itu mengecek popok Cantika.


"Dia mungkin ngrasain sesuatu kali", ucap seorang wanita lagi.


"Atau mungkin orang tua nya masih ada si sekitaran sini buk", seru wanita itu segera membuat Romi ketakutan.


Kedua wanita itu seketika memusatkan pandangan nya ke arah mobil Romi yang berada jauh di sebrang jalan.


"Buk, mungkin dia !", seru wanita itu seketika membuat Romi menancap gas nya dan dengan cepat melesat meninggalkan tempat itu.


Kedua wanita itu segera menghentikan lari nya yang sia sia.


"Biar dah neng, mungkin dia memang sudah berniat membuang bayi ini", ucap salah satu wanita itu.


"Kasihan sekali bayi ini", ucap nya lalu kembali masuk ke dalam panti.

__ADS_1


__ADS_2