
"Sebaik nya kamu bawa dia pergi dari sini!," sentak nyonya Fena saat itu juga.
Saat ia menatap wajah Queen, kemarahan dan rasa sakit nya mulai muncul kembali.
Betapa sakit hati nya mengingat bahwa Queen lah penyebab hidup putra kebanggaan nya hancur.
Bahkan sekarang, Romi hanya bisa duduk di kursi roda nya.
Tuk bicara pun ia merasa malas, sejak kecelakaan itu tak ada senyum lagi di bibir nya.
Lelaki yang dulu begitu pekerja keras, lugu, pintar dan penuh akan canda tawa kini meredup hingga tak lagi tersisa sedikit cahaya pun dalam diri nya.
"Mi, coba lakukan ini demi kak Romi," ucap Sofia menenangkan sang mami.
Setiap kali Sofia menatap sang kakak, ia merasa sang kakak tidak hanya lumpuh fisik saja, tapi juga perasaan dan jiwa nya.
Ia butuh penyemangat dan sosok yang memang ia inginkan di sisi nya.
"Kamu masih waras kan Sofia!, memang mami lakukan ini untuk siapa!, untuk kakak mu!, kasihan Romi kalau harus terus berurusan dengan wanita jala*g ini!," sentak nyonya Fena mencoba mengusir Queen dari rumah nya.
"Kamu lihat sendiri kan!, dia gak mau aku masuk ke rumah nya!," sentak Queen sembari menarik paksa tangan Ema dari sisi Sofia.
Membuat anak yang mulai tumbuh dan bisa berjalan itu menangis ketakutan.
"Cantika!," seru Romi tiba tiba sudah berada di belakang nyonya Fena.
Ada senyuman yang terukir dari bibir Romi yang tak bisa di ungkap kan dengan kata kata.
Dengan berlinang air mata ia mulai memutar sisi kursi roda nya dengan susah payah menuju Ema serta Queen.
__ADS_1
Sementara nyonya Fena hanya terdiam menatap putra nya yang begitu bahagia nya saat itu.
"Queen, kamu datang!, ayo kita masuk!. Bibi! Buatin minuman!," seru Romi sembari menenangkan Ema dan mengajak Queen untuk masuk ke dalam rumah nya.
Namun Queen hanya terdiam menatap Romi selayak nya nyonya Fena.
"Ayo Queen, kakak ku ngajak kamu masuk," ucap Sofia membuyarkan lamunan Queen.
Sesaat ada perasaan aneh yang melintas di hati Queen.
Namun ia masih ragu tuk mengartikan nya.
Apa aku pernah di perlakukan seperti ini oleh seorang lelaki?, batin Queen dalam hati.
Romi begitu bahagia dan senang hingga menangis saat aku datang, batin Queen lagi sembari mengikuti Romi yang berusaha mengajak nya masuk ke dalam rumah.
Dalam kondisi nya yang seperti itu pun, Romi dengan susah payah meletakkan Ema di pangkuan nya, aneh nya Ema juga tak keberatan akan hal itu.
Tanpa menjawab, ia segera berjalan masuk ke dalam rumah dengan pandangan yang terus tertuju pada sang putra.
"Queen, aku senang kamu baik baik saja, makasih ya kamu udah mau jenguk aku," seru Romi kembali mengusap air mata nya.
Membuat Queen hanya terus diam memperhatikan nya.
Pandangan nya kini tertuju pada kedua kaki Romi yang benar benar berada di kursi roda.
Tak bergerak bahkan tak menapak sedikitpun ke lantai.
Tiba tiba sudut pandang Queen seakan mulai berubah.
__ADS_1
Ia mampu memandang yang tak pernah ia lihat sebelum nya.
Ia merasakan yang tak pernah pernah ia rasakan sebelum nya.
Naluri seorang wanita yang sudah menjadi ibu pun mulai muncul dalam diri nya saat menatap momen bahagia di depan nya, saat Romi bermain dengan ceria nya bersama Ema yang tak lain adalah anak dari nya dengan Romi.
Walaupun itu semua bisa terjadi karna sebuah siasat licik Romi.
Senyum Ema perlahan menyihir nya, ia begitu bahagia dan ingin terus tersenyum hanya dengan melihat senyuman Ema.
Dia begitu manis dan cantik, kenapa aku baru menyadari nya sekarang?, batin Queen mulai menikmati kebersamaan Ema dan Romi.
Namun sisi gelap nya kembali menguasai diri nya.
Bisikan dari bagian hitam dalam diri nya mulai menghasut nya untuk tak lemah.
Ia langsung kembali tak peduli dan tak mau tahu apa yang coba alam jelaskan pada nya.
"Aku kesini karna Sofia, jika dia gak bawa aku secara paksa, aku gak sudi datang kemari," keluh Queen membuat senyum Romi perlahan memudar.
Melihat semua itu nyonya Fena kembali geram dan ingin memberi pelajaran pada Queen.
Namun lagi lagi, usaha nya di hentikan oleh Sofia.
"Mi, biarkan mereka selesaikan masalah mereka sendiri," ucap Sofia membuat nyonya Fena terpaksa menurut.
"Aku minta maaf jika itu yang terjadi, tapi aku tetap tak menarik ucapan terima kasih ku pada mu karna telah datang mengunjungi ku bersama Cantika, semangat hidup ku seakan terisi kembali setelah sempat meredup dan hampir mati," ucap Romi kembali tersenyum dan menciumi Ema dengan penuh kasih sayang.
Queen hanya bisa tercengang melihat reaksi Romi kala itu.
__ADS_1
Memang ada lelaki se sabar itu?, mustahil, batin Queen seakan tak percaya.