Kiandra

Kiandra
Tercipta nya sebuah jarak.


__ADS_3

"Ya ampun!, aku telat lagi!," keluh Kiandra segera menyelesaikan urusan dapur nya dan segera bergegas menata sarapan untuk Boy.


"Kok buru buru sayang?," tanya Boy bersiap untuk sarapan.


"Iya nih, aku telat lagi!, padahal ada meeting hari ini," sahut Kiandra sembari bergegas memakai jas kantor nya.


Mendengar ucapan Kiandra, Boy langsung kehilangan rasa lapar nya.


Ia merasa sudah saat nya menegur sang istri.


"Bisa gak kamu luangin waktu buat urus Ema!," keluh Boy membuat Kiandra bingung.


"Aku urus kok, kamu lihat sendiri kan, Ema sehat, bahagia, enggak kekurangan apapun" sahut Kiandra.


"Yang aku lihat kamu cuma kerja, kerja, dan kerja!," seru Boy mulai nampak marah.


Kiandra begitu tercengang dengan perubahan sikap yang ditunjukkan Boy akhir akhir ini.


Kiandra sontak mengingat saat diri nya larut malam harus bangun untuk menidurkan bayi Ema yang rewel.


Belum lagi ia harus memburu waktu kerja agar ia bisa secepat nya pulang dan merawat Ema dengan kedua tangan nya sendiri, namun kadang kala ada hal yang tak di sangka sangka membuat nya sering kali lembur.


Teringat juga ia harus bangun pagi setiap hari dengan jam tidur yang kurang di malam hari.


Hanya untuk menyiapkan sarapan dan bekal makan untuk sang suami dengan kedua tangan nya sendiri.


Mengingat semua rutinitas itu membuat Kiandra langsung menghela nafas panjang.


"Bilang ke aku, apa salahku kali ini sayang?," tanya Kiandra mencoba tak ikut terpancing amarah.


"Sudahlah!, aku mau berangkat," sahut Boy bangkit dari kursi nya.


"Tunggu!, setidak nya bawa bekal mu," seru Kiandra memegang tangan Boy dan memberikan kotak bekal makan untuk sang suami.


Namun Boy tetap bergegas menuju mobil nya tanpa tersenyum dan mencium Kiandra seperti rutinitas pagi nya sebelum ia berangkat ke perkebunan.


Kiandra hanya bisa menghela nafas lagi dan lagi, lalu memikirkan semua perkataan Boy kepada nya.


"Padahal sebelum ini, Boy yang mengerti aku di banding orang lain," keluh Kiandra berjalan menenteng kotak bekal nya menuju ke arah teras.

__ADS_1


Namun, saat diri nya sampai di teras.


Ia melihat mobil Boy yang masih berada di halaman.


"Kemana Boy?, kenapa mobil nya masih stay di situ?," ucap Kiandra mencoba mencari di mana kira nya Boy saat itu.


Pandangan Kiandra lalu terpusat pada Paviliun tempat Puja tinggal.


Ia seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Boy?," ucap Kiandra saat melihat Boy tersenyum sumringah sedang berada di teras Paviliun bersama Puja yang saat itu sedang menjemur bayi Ema.


"Sikap nya sangat berbeda saat berbicara dengan ku pagi ini," keluh Kiandra.


Sejak kapan Boy mau datang ke Paviliun?, pertanyaan dalam batin Kiandra mulai bermunculan.


Rasa curiga mulai menghantui diri nya.


Kenapa mereka terlihat begitu akrab?, sejak kapan Boy sedekat itu dengan Puja?, batin Kiandra.


Apa semua ini ada hubungan nya dengan Puja?, biang dari kemarahan Boy pada ku pagi ini?, dan semua tentang keluhan Boy tentang cara ku merawat Ema?, batin Kiandra terus bertanya tanya.


Puja yang melihat Kiandra menatap nya saat itu, segera memanfaatkan situasi yang ada.


"Kenapa sayang?," seru Boy ketakutan saat melihat bayi Ema yang menangis begitu kencang nya.


"Mungkin ia mau susu lagi, tolong dong Boy ambilin botol susu di meja samping," seru Puja membuat Boy mendekat semakin dekat lagi ke tubuh Puja.


Membuat hati Kiandra begitu sakit saat itu.


"Kalau memang itu rencana Puja, aku harus lebih pintar dari nya," ucap Kiandra memilih tak memancing keributan antara ia dan Boy, jika Kiandra nekat memarahi Boy dan Puja saat itu juga pasti jarak antara Boy dan diri nya akan semakin jauh.


Eh dia pergi!, baguslah, batin Puja memanfaatkan semua waktu sebanyak mungkin bersama Boy.


"Aku titip Ema ya Puja, makasih kamu udah mau bantu kami rawat Ema," seru Boy menyodorkan botol susu yang di maksud Puja.


"Santai aja lagi Boy, Ema bakal aman dengan ku, gak kayak bunda nya yang sedikitpun gak punya waktu buat dia," sahut Puja mencari muka di hadapan Boy.


"Mungkin Kiandra memang banyak kerjaan Puja, ya udah ya, aku pergi dulu," seru Boy bergegas kembali ke mobil nya.

__ADS_1


Kayak nya rencana ku mulai berhasil nih, batin Puja.


"Sus!, suster!," teriak Puja saat mobil Boy telah benar benar keluar dari gerbang rumah.


Dengan tergopoh gopoh, suster bayi Ema segera bergegas ke arah Puja.


"Kenapa sih mbak?," keluh sang suster ngos ngosan.


"Nih!, dia udah minum susu, sekarang tugas kamu buat urus bayi ini," seru Puja sembari menyerahkan Ema kepada sang suster.


"Daa, Ema!, makasih ya buat semua nya," seru Puja bergegas masuk ke dalam Paviliun.


"Ya ampun!, manis nya cuma kalau ada tuan Boy aja," keluh sang suster membawa bayi Ema menuju rumah besar.


Sang suster sebenar nya tahu tentang niat buruk Puja serta kerenggangan antara hubungan majikan nya.


Namun ia juga takut untuk mengungkap kan semua nya.


"Kasihan bunda mu Ema, padahal dia wanita hebat, saat semua tidur dia yang siap untuk kamu ya kan!, saat kamu sakit apa lagi, suster sampek gak berasa kalau rawat bayi, karna hampir semua di urus sama bunda Kiandra, mungkin bener waktu nya terbagi buat perusahaan tapi dia tetep rawat kamu sama rumah ini dengan baik lho, suster saksi nya," ucap sang suster berbicara seorang diri sembari memandikan bayi Ema.


"Tuan Boy juga keterlaluan!, dia kan kalau tidur biarpun ada gempa pun gak bakal berasa, seenak nya bilang nyonya Kiandra gak urus kamu sama sekali," keluh sang suster ikut kesal dengan semua drama yang di ciptakan oleh Puja.


"Sus!, dah gila ya!," seru bu Rara tak sengaja melintas.


"Eh, maaf nyonya," sahut sang suster tak berani bertingkah di hadapan bu Rara.


Tiba tiba, langkah kaki bu Rara terhenti saat melihat wajah bayi Ema.


Yang ternyata, itu adalah kali pertama nya bu Rara melihat wajah bayi Ema dengan sangat jelas.


Tanpa sadar, ia tersenyum ke arah bayi Ema.


Membuat sang suster pun merasa heran di buat nya.


Tumben tumbenan si mak lampir, batin sang suster terus melihat tingkah bu Rara yang seakan terhipnotis saat melihat bayi Ema.


"Cantik banget!, persis kayak Queen waktu bayi dulu, kayak pinang di belah dua tepat nya!," seru bu Rara kembali tersenyum saat bayi Ema balas tersenyum pada nya.


Namun, tak lama kemudian, ia pun tersadar dan kembali memasang wajah datar.

__ADS_1


"Ih!, kenapa sih aku ini!," keluh bu Rara bergegas pergi dari sana.


"Saraf kali ya," ucap sang suster langsung membuat bayi Ema kembali tersenyum.


__ADS_2