Kiandra

Kiandra
Dokumen tersembunyi.


__ADS_3

"Mbok..!!, mbok panggil siapa barusan...??", seru Boy berfikir bahwa ia sedang salah dengar.


Sementara Nurma tak bisa berkata kata melihat binar mata dari mbok Suti yang sedang menatap nya.


"Jangan berbohong pada wanita tua ini, naluri seorang wanita gak bisa di bohongi..!!", ucap mbok Suti kembali memeluk Nurma sembari menangis tersedu sedu.


"Kiandra sudah tiada mbok", ucap Nurma mencoba menahan air matanya.


"Mbok pernah merawat non di masa kecil, mbok sudah anggap non anak mbok sendiri, apakah non gak menganggap mbok seperti ibu non sendiri..??", seru mbok Suti membuat tangisan Nurma pecah.


"Mbok...!!", seru Nurma sembari memeluk dengan erat mbok Suti.


"Mbok sangat terpukul saat mendengar kabar kematian non, bagaimana non bisa tega terhadap wanita tua ini...?", ucap mbok Suti lalu menatap ke arah Boy.


"Maafkan kami mbok, ini yang terbaik demi menyelamatkan non Kiandra", ucap Boy menunduk.


Lalu Nurma dan Boy menceritakan semua yang telah terjadi.


Mulai dari dalang di balik kecelakaan yang menimpa Kiandra beserta orang tuanya.


Serta rencana pak Hatta yang ingin mengambil semua dari tangan Nurma.


"Mbok memang agak tak suka dengan sifat pak Hatta bahkan semenjak kakek non pak Soedipjo masih ada, tapi mbok tak menyangka dia bisa sekejam itu", ucap mbok Suti mengusap wajah Nurma dengan perasaan iba.


"Sekarang mbok sudah tau semuanya, tolong jaga rahasia ini sampai aku bisa menjatuhkan paman", ucap Nurma.


"Pasti non", ucap mbok Suti memberikan setumpuk dokumen tersembunyi yang telah mereka temukan di brangkas pak Hatta.

__ADS_1


Nurma segera membacanya satu persatu.


Ia begitu tak percaya dengan apa yang ia temukan.


"Jadi, apa isinya...??", seru Boy penasaran.


"Ini bukan hanya bisa menjatuhkan paman Boy, ini bahkan bisa membuatnya terseret ke jalur hukum", ucap Nurma terus membaca isi dokumen di tangannya.


"Lalu, apa yang akan non lakukan...??", tanya mbok Suti.


"Aku masih punya satu hal lagi mbok, semoga itu bisa menjadi barang bukti yang bisa membawa keadilan bagi ku dan orang tua ku", ucap Nurma mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku nya.


"Ponsel...??", seru Boy heran.


"Aku sudah menyadap ponsel pak Hatta, ponsel yang aku curigai di gunakan hanya untuk menghubungi orang orang suruhannya", ucap Nurma merasa amat yakin dengan rencananya.


Tin....tin..


Seketika suara klakson mobil mengagetkan mereka bertiga.


"Apakah pak Hatta akan berkunjung kemari hari ini mbok..??", seru Boy bergegas menuju jendela.


"Mbok gak tahu, biasanya mereka mengabari dulu sebelum datang", ucap mbok Suti ketakutan.


"Astaga..!!", seru Boy saat melihat pak Hatta dan kedua preman nya telah berada di teras rumah.


Dengan cepat dan hati hati, Boy mencoba memutar kunci pintu untuk memperlambat mereka.

__ADS_1


"Mbok bisa lewat pintu belakang kan...??, perlambat mereka sebisa mbok", ucap lirih Boy.


Segera, mbok Suti menurut dan bergegas keluar dari pintu belakang sesuai instruksi Boy.


"Kita juga harus pergi Boy", ucap Nurma manarik tangan Boy.


"Tunggu..!!, kamu bilang belum saat nya kita menghancurkan pak Hatta bukan..??", seru Boy sembari menunjuk ke sebuah benda.


Sementara di luar.


Mbok Suti sedang bergegas menyambut pak Hatta.


"Selamat datang pak", ucap mbok Suti.


Pak Hatta hanya menatap mbok Suti dan segera berjalan menuju pintu masuk paviliunnya.


"Buka pintunya...!!", perintah pak Hatta pada kedua preman nya.


"Terkunci bos..!!", seru sang preman tak bisa membuka pintu di depannya.


"Biar saya buka kan", ucap mbok Suti mengeluarkan kuncinya dari saku bajunya.


"Makin tua makin lelet kamu Suti...!!, dari tadi kek..!!", ketus pak Hatta kesal.


"Maaf pak", ucap mbok Suti sengaja mencoba satu persatu kunci di tangannya.


"Heh nenek tua...!!, sudah berapa lama sih kamu kerja di paviliun ini..??, kuncinya aja gak ngerti yang mana..??", seru seorang preman.

__ADS_1


"Maaf saya sudah pikun", ucap mbok Suti terus mencoba mengulur waktu seperti yang Boy perintahkan.


__ADS_2