Kiandra

Kiandra
Keturunan satu satu nya.


__ADS_3

"Maaf bu, kami tim dokter sudah berusaha yang terbaik. Jika rahim ibu tak segera di angkat, mungkin nyawa ibu tak akan tertolong," ucap sang dokter terus terngiang giang di pikiran Queen.


"Kenapa kau mendengarkan gadis sialan itu dokter!, aku yang memiliki rahim, dan aku yang berhak mau aku apakan rahim ku itu!," sahut Queen mengingat kemarahan nya saat itu sembari berdecak kesal.


"Sudahlah Queen, lihatlah Ema, dia begitu lucu, apa kamu tak mau menggendong nya?," seru bu Rara membuyarkan lamunan Queen.


"Aku tak suka dia!, terlebih saat mengingat muka Romi!," keluh Queen membuang muka.


"Lihatlah dia sekali saja Queen, lihatlah!, dia begitu mirip dengan mu saat masih bayi dulu, dan pikirkan lagi akan keputusan mu itu, dia adalah anak mu satu satu nya, bagaimana hari tua mu saat tidak ada mami di sisi mu lagi nanti?," ucap bu Rara menyeka air mata nya.


Perlahan, Queen mulai luluh dan mau menatap bayi Ema.


Senyum kecil mulai hilang dan timbul di bibir nya.


Perasaan nya kian bimbang saat memikirkan ucapan sang mami.


Dia memang belum siap memiliki seorang anak, tapi hanya bayi Ema lah keturunan yang bisa ia miliki.

__ADS_1


"Tapi aku tak mungkin bersatu dengan Romi mi, dia sudah membenci ku apalagi keluarga nya, terlebih setelah mereka tahu semua nya," ucap Queen mulai menurunkan ego nya.


"Mereka sudah tahu sayang," ucap bu Rara membuat Queen terkejut.


"Iya!, mereka sudah tahu, dan mereka juga sudah mengetahui siapa Ema sebenar nya," seru bu Rara membuat Queen menatap sang mami dengan penuh harap.


"Lalu mi?," tanya Queen sembari memegang kedua tangan sang mami.


Sontak bu Rara hanya menggeleng dan menangis menjawab rasa penasaran Queen.


"Tapi, kita bisa usahakan bujuk mereka untuk terima kalian Queen!," seru bu Rara memberi harapan.


"Baiklah, kamu bisa pikirkan dulu saran mami barusan. Dan, boleh mami minta sesuatu sama kamu?," ucap bu Rara dengan serius nya.


"Katakan saja mi," sahut Queen singkat.


"Saat kamu kritis, mami sudah berjanji dalam hati, jika kamu selamat, mami akan ajak kamu bertemu papi dan minta maaf pada nya, kamu mau kan?," seru bu Rara membujuk.

__ADS_1


Sejenak, Queen terdiam memikirkan permintaan sang mami.


"Mami mohon, anggap ini adalah kesempatan hidup kedua untuk mu dan untuk mami, lupakan masa lalu sayang, kita juga sudah banyak salah sama papi mu" seru bu Rara tersedu sedu.


Namun hanya reaksi diam dan diam yang bu Rara dapat dari sang putri.


"Baiklah Queen, mami akan menunggu jawaban mu sampai kamu siap menjawab nya." ucap bu Rara mengusap air mata nya.


Seketika sebuah tangan mengusap lembut pipi nya.


Dengan binar, bu Rara menatap Queen yang berusaha mengusap air mata di pipi nya.


"Baiklah mi, kita temui papi setelah aku pulang dari sini," ucap Queen membuat sebuah senyuman terukir di bibir bu Rara.


"Terima kasih sayang," seru bu Rara menangis bahagia.


Sementara di luar pintu ruang rawat Queen, Kiandra mencoba menahan tangis nya saat mendengar percakapan ibu dan anak itu.

__ADS_1


Kiandra terduduk di kursi tunggu dengan gelisah dan takut.


Apa yang harus ku katakan pada mereka?, sedangkan saat ini mereka sudah mulai menyadari kesalahan mereka, jangan sampai mereka kembali seperti dulu lagi saat mengetahui kenyataan itu, batin Kiandra menangis dalam diam.


__ADS_2