
"Enggak !, aku udah turuti semua kemauan kamu !, 9 bulan aku cuma ada di dalam rumah ini, mengandung, melahirkan !, dan kini kamu mau suruh aku urus bayi itu !, gila kamu !", sentak Queen membuat suasana rumah semakin tegang.
"Tapi ini anak kita Queen !, lalu siapa yang akan merawat nya !", seru Romi membuat Puja mulai menyingkir, ia tak mau diri nya terseret lebih jauh dengan permasalahan mereka.
"Jangan bawa bawa aku", keluh Puja memilih meninggalkan mereka berdua yang terus saja bersitegang.
"Pokok nya aku gak mau !, kamu sendiri yang maksa buat pertahanin bayi itu, dan sekarang itu tanggung jawab kamu", seru Queen semakin lantang bersuara.
"Tega kamu ya, lihat bayi ini !, dia masih merah, mungkin rasa sakit saat melahirkan nya pun masih kamu rasakan", seru Romi tak menduga kalau Queen bisa sekejam itu pada darah daging nya sendiri.
"Bodo amat !, lusa aku mau pulang ke rumah orang tua ku, dan jangan ganggu hidup ku lagi", sentak Queen sembari berkacak pinggang.
Ucapan Queen membuat Romi menghela nafas dan mencoba meredam emosi nya.
"Ini yang terakhir kali nya Queen, kamu mau atau tidak pulang ke keluarga ku dan kita menikah, tutup cerita ini dan kita fokus membesarkan anak kita", ucap Romi dengan amat serius.
"Ini jawaban ku yang terakhir kali nya juga Rom !, aku gak sudi nikah dan jadi ibu bayi itu", sentak Queen bergegas masuk ke dalam kamar nya sembari menutup pintu kamar dengan amat kencang nya.
Membuat bayi mereka seketika itu langsung menangis dengan kencang nya.
Keterlaluan !, suatu saat kamu akan bersujud hanya untuk berharap menikah dengan ku Queen, keluh Romi dalam hati.
"Cup, cup sayang, maafin mama ya, kamu pulang sama ayah ke rumah Oma, dia pasti akan menerima kamu dan sayang sama kamu", ucap Romi meninggalkan rumah itu dan bergegas menancap pedal gas nya.
Dalam perjalanan pulang, pikiran nya terus terngiang ngiang ucapan buruk yang terlontar dari mulut Queen.
"Bisa bisa nya aku mencintai wanita seperti itu", keluh Romi dalam hati.
Lalu pandangan nya terarah pada putri kecil nya yang sedang tertidur pulas.
Senyum nya kembali merekah saat menatap bayi nya yang begitu cantik dan sehat tanpa kekurangan apapun juga.
"Cantik sekali kamu sayang, gimana kalau ayah kasih nama kamu cantika", seru Romi tak bisa membendung rasa bahagia nya.
Lalu pikiran nya beralih ke masalah lain nya.
"Mami memang mengharap kan cucu, tapi bukan dengan cara seperti ini, terlebih aku belum menikah dengan Queen, bagaimana aku menjelaskan ini pada mami ?", keluh Romi merasa bimbang di sepanjang jalan menuju rumah nya.
"Tapi tak apa, mami pasti menerima Cantika sebagai cucu nya, terlebih setelah dia melihat begitu cantik dan menggemaskan nya cucu nya ini", ucap Romi membulatkan tekad untuk memberitahukan semua itu pada sang mami.
Malam itu hujan begitu deras nya, dan perjalanan Romi masih begitu jauh dari rumah.
__ADS_1
Tiba tiba, telfon nya berdering.
Ia begitu terkejut hingga hampir menabrak pembatas jalan saat menerima sebuah panggilan dari sang adik.
"Mami di mana sekarang dik ?", seru Romi nampak gelisah.
Sembari melajukan mobil nya kembali, ia mengikuti arahan dari adik nya.
"Baik, kakak akan segera kesana", seru Romi bergegas mempercepat laju mobil nya.
Beberapa jam kemudian.
Mobil nya telah berhenti di sebuah parkiran rumah sakit sesuai informasi yang dia dapat dari sang adik.
Melihat Cantika, langkah nya terhenti.
"Aku tak mungkin meninggalkan nya di dalam mobil", ucap Romi bergegas mengambil tas jinjing nya dan memasukkan Cantika ke dalam nya.
"Tenang ya sayang, kita lihat situasi Oma di dalam, sementara itu kamu sembunyi dulu", ucap Romi membuat Cantika semakin tertidur pulas.
Romi bergegas masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ke ruang igd.
"Kak !", seru sebuah suara yang sudah menunggu nya di depan ruang igd.
"Mami masih di tangani dokter kak", seru sang adik.
"Apa yang sebenar nya terjadi pada mami sih Sofia ?", seru Romi terduduk di ruang tunggu rumah sakit.
"Mami mendapat kabar kalau ada salah satu hotel kita yang terbakar kak, mami langsung koleps dan pingsan", seru Sofia membuat Romi seketika itu juga langsung memandang ke arah tas yang berisikan Cantika.
Sesaat kemudian, dokter keluar dari ruang igd dan segera menemui mereka.
"Gimana kondisi mami saya dok ?", seru Romi seketika.
"Kondisi nya sudah stabil, tapi dia masih lemah, jantung nya tidak kuat menerima hal hal yang membuat nya syok, jadi tolong, jaga dia baik baik ya, saya permisi", ucap dokter membuat Romi terduduk kembali di kursi nya.
"Kakak kenapa ?", seru Sofia kembali khawatir melihat kondisi kakak nya.
"Kakak gpp", ucap Romi masih dengan raut wajah nya yang gelisah.
Lalu bagaimana dengan nasib putri ku ?, gumam Romi dalam hati.
__ADS_1
Tanpa sadar, Sofia cukup lama mengamati tas besar yang kakak nya bawa tanpa pernah ia lepaskan itu.
"Tumben kakak bawa tas sebesar itu ?, kakak habis ngapain ?", tanya Sofia sembari meraih tas itu.
"Jangan !, ini barang pribadi kakak", seru Romi menepis tangan Sofia.
"Emmm", timpal Sofia singkat.
Tak berselang lama, suster nampak keluar dari ruang igd dan menemui mereka.
"Kalian bisa masuk sekarang, tapi biarkan ibu kalian beristirahat ya", ucap suster menjelaskan.
"Terima kasih dok ", seru Sofia.
"Ayo kak !", seru Sofia menarik tangan sang kakak.
"Kamu masuk aja dulu, biar kakak selesaikan administrasi nya, dan ya, kakak mau pergi keluar sebentar, kamu jaga mami ya", ucap Romi beranjak dari tempat duduk nya.
"Memang kakak mau kemana ?", tanya Sofia heran dengan tingkah kakak nya itu, biasa nya ia yang akan paling khawatir saat terjadi apa apa pada mami mereka.
"Bentar aja", seru Romi bergegas menuju ke tempat administrasi.
Saat menyelesaikan administrasi rumah sakit, tiba tiba terdengar suara Cantika dari dalam tas.
Membuat suster clingukan mencari asal suara bayi.
"Ruangan bayi kan jauh dari sini, suara siapa itu ?", seru seorang suster terus memandang kesekeliling nya.
"Mungkin di luar sus, kalau begitu saya permisi", seru Romi segera menyelesaikan pembayaran dan segera bergegas keluar dari rumah sakit.
Jangan sampai mereka menemukan mu sayang, gumam Romi dalam hati langsung bergegas menerobos deras nya hujan untuk masuk ke dalam mobil nya.
Romi segera membuka tas nya dan memberi Cantika sebotol susu formula yang ia selalu siapkan setiap hari nya.
"Tenang ya sayang", seru Romi mencoba menyandarkan kepala nya di kursi kemudi.
Ia begitu bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat itu.
Kini ia berada di dua pilihan sulit.
Jika ia tetap pada rencana nya mengenalkan Cantika pada keluarga nya, itu akan mengancam nyawa sang mami.
__ADS_1
Tapi di sisi lain, ia tak mungkin merawat Cantika seorang diri dan terus menyembunyikan keberadaan nya.
"Sial !", sentak Romi kembali melajukan mobil nya meninggalkan area rumah sakit.