
Sejak pembacaan surat wasiat peninggalan Kiandra.
Dalam fikiran Pak Hatta hanya ada satu tujuan, yaitu menemukan gadis bernama Nurma yang di anggap sahabat bahkan saudara oleh Kiandra.
Semua ia lakukan demi mencari keberadaan Nurma.
Bahkan ia menyewa banyak detektif untuk mencari keberadaan Nurma.
Berhari hari, bahkan berbulan bulan, pak Hatta masih fokus mencari siapa wanita bernama Nurma itu sebenarnya.
"Gobl*k...!!, mana hasil kerja kalian...!!!, gak ada untungnya dong aku bayar kalian...!!", seru pak Hatta sembari berkacak pinggang di depan semua mata mata suruhannya.
"Ma.., maaf bos, kami sudah temui semua wanita bernama Nurma di kota ini, tapi tak ada yang memiliki hubungan atau bahkan kenal dengan keluarga Soedipjo, terutama dengan Kiandra", ucap seorang detektif itu.
"Kalau gini gimana coba...!!, malah bikin tambah pusing..!!, makan gaji buta kalian...!!, sekalian aja aku pecat kalian...!!", seru pak Hatta emosi.
"Aduh..!!, jangan lah bos", ucap detektif yang lain dengan nada memohon.
"Oke, aku kasih satu kesempatan lagi, dalam satu minggu ini kalian harus berhasil temukan Nurma yang di maksud dalam surat wasiat itu", ucap pak Hatta.
"Baik bos, terima kasih bos", ucap mereka dengan perasaan lega.
__ADS_1
"Lebih baik kalian pergi dari hadapanku, atau aku akan berubah fikiran", ucap pak Hatta membuat semuanya keluar dari rumah pak Hatta dengan tergesa gesa.
"Gimana pi...??", ucap bu Rara menghampiri pak Hatta setelah semua orang suruhan suaminya pulang.
"Nihil...!!", ketus pak Hatta merebahkan dirinya di sofa.
"Terus gimana dong pi..??, gimana kalau kita selamanya gak bisa temukan dia...??, bisa hilang semua harta itu", keluh bu Rara.
"Emang mami aja yang pusing..!!, papi lebih pusing lagi, apalagi semua keuangan perusahaan kini ada yang mengawasi dan di kontrol oleh pengacara si sialan Kiandra itu, ucap pak Hatta memijat keningnya yang seakan mau pecah.
"Terus gimana dong pi...??, shopping mami, arisan mami, sosialita mami, kan gengsi dong pi kalau dompet tipis", ucap bu Rara pusing dengan kehidupannya sendiri.
"Bisa gak sih mi, hemat dikit...!!, kita itu lagi berjuang untuk harta itu, dan biayanya juga gak sedikit..!!", seru pak Hatta memperlihatkan kekesalannya pada sang istri yang sebelumnya belum pernah ia tunjukkan selama masa pernikahan mereka.
"Hah...!!!!, lama lama bisa gila aku", seru pak Hatta memukul semua barang yang ada di sampingnya.
Tiba tiba pandangannya tertuju pada Boy yang sedang melintas di halaman depan.
Entah kenapa, otak pak Hatta seketika menyadari sesuatu.
"Boy..??, mungkin juga...??", ucap pak Hatta segera bergegas menelfon seseorang.
__ADS_1
"Aku tahu kamu harus mulai pencarian mu lagi dari mana", ucap pak Hatta lalu memutus panggilan telfonnya.
Tak berapa lama, Boy masuk dan menghampiri pak Hatta di ruang keluarga.
"Pak, ini kunci mobilnya, besok saya jadi ambil cuti untuk beberapa hari", ucap Boy menyerahkan kunci mobil ke tangan pak Hatta.
Pak Hatta terus saja memandangi Boy, seakan ia yakin bahwa Boy tahu tentang siapa dan di mana Nurma berada.
"Pak...??", ucap Boy membuat lamunan pak Hatta buyar.
"Eh iya, maaf, saya lagi banyak masalah di kantor, silahkan kalau kamu jadi ambil cuti", ucap pak Hatta.
"Terima kasih pak", ucap Boy.
"Kalau saya boleh tahu, kamu tak pernah melewatkan masa cuti bulanan mu apa alasannya...??, apa orang tua mu..??", tanya pak Hatta mencoba mengorek sebuah informasi dari Boy.
"Iyaa pak, saya ingin habiskan waktu lebih banyak dengan keluarga", ucap Boy tanpa curiga sedikitpun.
"Padahal komisi untuk tak mengambil cuti sangat besar lho", ucap pak Hatta.
"Maaf pak, saya tetap ingin mengambil cuti", ucap Boy.
__ADS_1
"Baiklah kalau kamu bersikeras, kamu boleh pergi", ucap pak Hatta mengakhiri pertanyaannya agar Boy tak curiga padanya.
Kalau pencarian besok membuktikan bahwa kamu terlibat, awas kamu..!!, gumam pak Hatta dalam hati.