Kiandra

Kiandra
Rumah Paviliun.


__ADS_3

"Kita sudah sampai...", ucap Boy menghentikan mobilnya tepat di halaman sebuah rumah besar yang cukup jauh dari pusat kota.


Nurma membuka kaca mobil dan memandang ke arah rumah di depannya.


Pandangannya berkeliling ke setiap penjuru rumah itu.


Memori masa lalu nya memunculkan bayangan masa kecil saat ia dan Queen masih berusia balita.


Bahkan sang kakek, pak Soedipjo masih ada dan tersenyum di tengah mereka.


Sang ayah nampak bercengkrama riang bersama sang paman.


Tak nampak terlihat sebuah dendam dan rasa tak suka di pandangan pamannya saat itu.


Mereka terlihat riang bersama layaknya keluarga seutuhnya.


Queen dan Kiandra pun nampak berlari riang ke sana kemari dengan bahagianya, tanpa ada rasa iri dengki diantara mereka.


"Apakah aku salah paviliun Nurma ....??, setahuku hanya ini paviliun milik pak Hatta yang pernah aku datangi", ucap Boy mencoba menebak sikap diam Nurma di sampingnya.


"Tak ada yang salah Boy, ini adalah tempat yang benar", ucap Nurma keluar dari mobil diikuti oleh Boy.


"Biar aku cari mbok Suti dulu ya, ia yang selama ini urus tempat ini", ucap Boy berjalan menuju ke arah halaman belakang paviliun itu.


Sementara Nurma, masih terkesima dengan pemandangan yang ia lihat setelah bertahun tahun lamanya tak pernah mengunjunginya.


Angin berhembus menerpa tubuh Nurma.

__ADS_1


Membuat nya memejamkan mata dan mengingat kembali masa masa kebahagian nya silam.


Klik, klik.....


Suara ayunan kayu yang bergoyang diterpa angin berhasil memikat perhatian Nurma.


Ia segera mendekat dan duduk di ayunan masa kecil nya itu.


Ia menoleh ki sisi kanan ayunan, terbayang dirinya sedang mencoba menghindar dari tangkapan Queen.


Ia kemudian menoleh ke sisi kiri ayunan.


Tercipta bayangan saat Queen mencoba sekuat tenaga untuk menangkap Kiandra kecil.


"Ayo tangkap aku..!!", seru Kiandra kecil berlari sambil tertawa di setiap langkahnya.


"Tunggu Kiandra...!!", seru Queen ikut berlari mengikuti langkah kaki Kiandra berlari.


"Andai saja saudara perempuan ku dan keluarga ku satu satu nya tidak serakah dan tak mencoba menghancurkan saudaranya sendiri", ucap Nurma sembari menyeka matanya yang basah.


"Selamat sore", ucap mbok Suti datang bersama dengan Boy.


Kiandra mencoba mendekat dan menatap wanita tua di hadapannya.


Ia mengingat masa muda wanita tua di hadapannya.


Mata Nurma alias Kiandra kembali berair saat mengingat bagaimana dulu mbok Suti sangat menyayangi ia dan Queen semasa kecil saat berlibur ke sana.

__ADS_1


Nurma seketika memeluk mbok Suti.


Membuat mbok Suti terkejut dan merasa aneh dengan sikap Nurma padanya.


"Mbak kenapa...??", tanya mbok Suti heran.


"Mbok apa kabar...??", seru Nurma tak bisa mengontrol emosinya.


"Mbok baik", ucap mbok Suti menatap Boy dengan wajah bingung.


"Gimana kabar Septi mbok...??, pasti dia udah dewasa sekarang", ucap Nurma penuh semangat.


"Septi baik, dia bahkan sudah punya 3 anak sekarang", ucap mbok Suti makin heran dengan wanita di hadapannya.


"Wah..!!, padahal aku belum menikah di usia ini mbok", seru Nurma tak sadar bahwa dirinya telah banyak bicara.


Boy yang sedari tadi mencoba memperingatkan Nurma kini mencoba berpura pura terbatuk batuk di hadapannya.


"Mbak kok bisa tau ya anak saya...??, mbak ini siapa..??", tanya mbok Suti penasaran.


Seketika Nurma terdiam.


Ia sadar telah banyak bicara di hadapan mbok Suti.


"Emm, gak apa apa kok mbok, aku cuma terlalu semangat bertemu mbok Suti langsung, karna selama ini aku hanya dengar cerita mbok dan Septi dari almarhumah Kiandra", ucap Nurma mencari alasan se logis mungkin.


"Oalah, jadi mbak ini temannya non Kiandra to, jadi kangen mbok sama non Kiandra, padahal majikan mbok non Queen sama orang tuanya", ucap mbok Suti.

__ADS_1


Lalu Boy menceritakan urusan mereka berkunjung ke sana.


"Kalau itu semua bisa membantu keluarga pak Sam saya akan bantu, mari silahkan masuk", ucap mbok Suti membukakan mereka pintu rumah paviliun pak Hatta.


__ADS_2