Kiandra

Kiandra
Suara yang bungkam


__ADS_3

2 bulan sejak tender itu di mulai.


Awalnya semua berjalan dengan lancar, profit yang di dapat pun membuat semua perusahaan iri dibuatnya.


Sementara bagi Kiandra, kabar itu membuat namanya jatuh di kalangan pebisnis.


Pasalnya ia sempat menolak kesempatan besar yang menghampiri dirinya.


Pak Hatta pun sangat girang melihat itu semua.


Kesempatan itu akan ia gunakan untuk menjatuhkan Kiandra dan merebut posisinya.


Tapi hal tak terduga terjadi.


Setelah kabar keberhasilan tender yang menakjubkan itu.


Sebulan kemudian, kabar lebih menggemparkan kembali terjadi.


Perusahaan Adi Mulya terjerat kasus berat dan semua asetnya di sita oleh negara.


Membuat semua rekan bisnis yang sudah berinvest di tender miliknya malah ikutan bangkrut dan gulung tikar.


Karna kondisi yang berantakan itu, Kiandra maju menawarkan sebuah kesepakatan


Dengan berbagai perusahaan yang terancam bangkrut itu.

__ADS_1


Kiandra akan mengambil sisa saham dari perusahaan perusahaan yang telah terkena dampaknya, untuk menolong perusahaan yang masih bisa diselamatkan.


Akhirnya, beberapa perusahaan besar kini berada di bawah kendali perusahaan


Soedipjo, dan menjadikan perusahaan Soedipjo satu satunya Perusahaan terbesar di Jakarta.


Dengan keberhasilan Kiandra, mulut semua orang seakan bungkam, mereka yang dulu meremehkan Kiandra sekarang harus mengakui kehebatan dan ketepatan fillingnya.


Tapi bagi pak Hatta, itu merupakan sebuah tamparan keras baginya.


Yang membuatnya makin dendam terhadap Kiandra.


Jika aku tak bisa menghancurkanmu...!!, Aku akan hancurkan keluargamu, gumam pak Hatta dalam hati sambil meremas gelas kopi ditangannya.


"Pak, itu kopinya gak panas kena tangan..??", ucap seorang karyawan yang kebetulan sedang lewat di depannya.


Di lain tempat.


Boy sedang membawa serangkai bunga di belakang punggungnya.


Dengan niat ingin memberikan selamat pada bos mudanya yaitu Kiandra.


Ia berjalan dengan mantap melewati koridor kantor hingga sampai di depan pintu ruangan Kiandra.


Ia menarik nafas dalam dalam untuk mengumpulkan keberaniannya memberikan rangkaian bunga itu pada Kiandra.

__ADS_1


Saat ia ingin membuka pintu.


Bertepatan dengan Kiandra keluar dari ruangan dan menegurnya.


"Hai Boy, udah ditungguin juga, kita makan siang yuk", ucap Kiandra membuat keberaniannya kembali hilang, ia tak berani memunculkan bunga yang tersembunyi di belakang badannya.


"I, iiii, iya non", ucap Boy terbata bata merasa gugup akan dirinya sendiri.


"Itu apa Boy...??", seru Kiandra merasa Boy sedang memegang sesuatu di balik punggungnya.


"Sebenarnya.....", ucapan Boy terpotong saat gerombolan karyawan datang menghampiri mereka.


"Selamat ya buk, atas pencapaiannya", ucap seorang karyawan mengalungkan sebuah karangan bunga di leher Kiandra.


"Terima kasih", ucap Kiandra masih berfokus pada Boy yang lama lama hilang tertelan gerombolan karyawannya.


"Ini sebagai ucapan maaf kami karna sudah meremehkan ibuk", ucap seorang karyawan lain memberikan bermacam hadiah pada Kiandra.


"Iyaaaa, makasih, tapi...", ucap Kiandra bermaksud ingin mencari keberadaan Boy.


"Eh, ibuk mau kemana...??, kita udah bawa makanan buk, yuk kita makan di kantin, jangan nolak ya", ucap seorang karyawan bersama yang lainnya mengajak Kiandra berjalan ke arah Kantin.


Sementara Boy.


Terdiam dan tersenyum kecil di tempatnya berdiri.

__ADS_1


Menyaksikan Kiandra bersama semua karyawannya berlalu pergi dari hadapannya.


Boy, boy, bunga dari kamu gak bakal ada apa apanya di banding hadiah dari mereka, gumam Boy dalam hati meletakkan karangan bunga miliknya di meja sudut kantor dihadapannya.


__ADS_2