
"Astaga!, aku ketiduran," keluh Queen segera beranjak dari ranjang sembari menggendong Ema untuk pulang.
Namun saat tangan nya menyentuh kulit Ema, Queen terdiam dan mencoba meraba kening Ema.
"Dia demam?," ucap Queen tak yakin.
Pasal nya ini kali pertama nya ia merasakan merawat seorang anak.
Ia perhatikan tubuh Ema yang mulai sedikit bergetar kedinginan.
Wajah nya juga pucat serta tak merespon saat Queen mencoba membangunkan nya.
"Ema?," ucap Queen masih bingung harus bagaimana.
Bersamaan dengan itu, nyonya Fena kebetulan melihat Queen saat melintas di depan kamar tamu.
"Dia kenapa?, kok aneh gitu wajah nya?," ucap nyonya Fena mencoba mendekat.
Belum sempat nyonya Fena bertanya, pandangan nya tiba tiba tertuju pada sang cucu.
Dengan sekilas pandang, nyonya Fena langsung mengerti apa yang sedang terjadi pada Ema.
"Romi!," teriak nyonya Fena dengan cepat menggendong Ema dengan raut wajah yang begitu gelisah.
Ia segera menatap Queen yang masih terkejut dengan reaksi nyonya Fena saat itu.
__ADS_1
"Dasar wanita tak berguna!, anak sampai panas tinggi begini cuma bisa liatin!," sentak nyonya Fena membuat Queen tahu apa yang sebenar nya terjadi pada Ema.
Tidak seperti biasa nya yang selalu menjadi wanita pemarah, Queen saat itu malah tak menjawab bahkan tak marah sedikitpun, ia malah terlihat khawatir melihat nyonya Fena yang begitu mengkhawatirkan kondisi Ema.
"Ada apa Mi?," seru Romi dengan cepat segera mendekat dengan bantuan Sofia.
Romi serta Sofia begitu bingung melihat raut wajah sang mami yang masih nampak marah.
"Sofia, cepet siapin mobil?," perintah nyonya Fena.
"Emang kita mau kemana mi?," tanya Sofia heran.
"Kita ke rumah sakit sekarang," seru nyonya Fena sembari bergegas menggendong Ema menuju teras.
"Rumah sakit?," seru Romi merasa bingung dengan apa yang tengah terjadi.
"Mi, tolong jelasin ada apa ini?," tanya Romi mencoba menghentikan langkah sang mami.
"E- ema demam," sahut Queen membuat Romi serta Sofia terkejut.
"Tapi tadi malam Ema baik baik aja," ucap Romi heran.
"Anak kecil memang sering demam Rom, terlebih saat waktu tengah malam, Queen aja gak becus jaga Ema," keluh nyonya Fena menatap semakin tak suka ke arah Queen.
Sementara Queen hanya terdiam saat itu.
__ADS_1
Lagi lagi tak ada pembelaan bahkan ucapan kasar yang keluar dari mulut Queen.
Seakan ia menyadari ketidak layak kan diri nya tuk di panggil seorang ibu.
"Mi, kita berangkat," seru Sofia sudah siap dengan mobil nya.
Tanpa membuang buang waktu, nyonya Fena segera masuk ke dalam mobil.
Namun laju mobil di hentikan oleh Romi yang berusaha menghadang laju mobil dengan masih berada di atas kursi roda nya.
"Aku mau ikut mi, tolong," ucap Romi dengan nada memohon.
"Ayo masuk kak, kenapa kakak harus bersikap seperti itu?," seru Sofia mencoba turun dari mobil dan menjemput sang kakak.
Sementara nyonya Fena tak bereaksi apapun kecuali memeluk dan mencium sang cucu.
"Ayo kak," ucap Sofia mencoba mendorong kursi roda sang kakak, namun seperti nya Romi tak mau berpindah dari tempat nya.
"Kak?, kasian Ema," ucap Sofia bingung dengan sikap sang kakak.
Sofia mencoba memandang sang mami, namun sang mami juga tak peduli dengan apapun yang sedang dilakukan sang putra saat itu.
"Queen juga harus ikut," ucap Romi membuat Sofia mengerti kenapa sang mami hanya diam melihat tingkah aneh sang kakak.
Mami pasti udah tahu yang di minta kak Romi, batin Sofia menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Baiklah kak," ucap Sofia membuat mata Queen basah.
Makasih Rom, kamu masih mencoba untuk menghargai keberadaan ku, setelah apa yang aku lakukan pada mu, batin Queen segera mendekat dan membantu Sofia membawa Romi masuk ke dalam mobil.