
"Bapak baik baik saja...??", dengan sigap polisi itu membantu pak Hatta untuk bangkit.
"Nurma...., Sri....??", ucap pak Hatta tak percaya dengan penglihatan nya.
"Bukan kah mereka yang bapak cari, setiap minggu mereka lah yang mengantar makanan ke rutan", tegas pak polisi lagi lagi membuat pak Hatta terkejut.
"Kiandra, ayo kita pulang", seru bu Sri tak mau anak angkat nya itu kembali tersakiti.
Ucapan bu Sri membuat pak Hatta semakin terkulai lemas tak berdaya.
Pasal nya bu Sri tidak mungkin salah hanya untuk menyebutkan nama seseorang.
"Kiandra...??", seru pak Hatta syok.
Kiandra hanya menatap sayu paman nya.
Ia begitu sakit karna melihat keluarga nya hancur di tangan yang tak lain adalah kerabat nya sendiri.
"Benar pak, dia ini Kiandra..!!, gadis yang coba bapak lenyap kan dari dunia ini..!!, tapi malah dia yang sudi mengirim makanan bahkan menghadiri persidangan bapak", cerca bu Sri kesal.
Seketika pak Hatta terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
Ia amat syok saat itu, mendengar satu per satu kenyataan pahit yang ada.
Orang yang coba aku lenyap kan, yang orang tua nya aku bunuh, malah dia yang sudi menopang ku, kemana anak dan istri ku...??, kemana mereka selama ini...??, gumam pak Hatta dalam hati.
"Bapak pasti bertanya tanya, kemana non Queen dan nyonya Rara..??, mereka bahkan tak peduli dengan kondisi bapak saat ini, saat bapak tertangkap, saat bapak di dalam sel, bahkan saat bapak harus menghadapi persidangan", seru bu Sri membuat tatapan mata pak Hatta menjadi kosong.
"Sudah buk, ayo kita pulang", ajak Kiandra membukakan pintu mobil nya.
"Buk, banyak orang, kita pulang ya", ucap Boy turun dari mobil membantu membujuk bu Sri agar mau masuk ke dalam mobil.
Saat mobil Kiandra telah melaju dan menghilang dari pandangan pak Hatta.
Tubuh pak Hatta seakan goyah dan lemas bahkan hampir ambruk.
"Tidak, lebih baik kita pulang ke rutan", ucap nya dengan menahan tangis.
Mereka kembali ke rutan tanpa terjadi pembicaraan sama sekali.
Pak Hatta masuk ke dalam rutan dan kembali ke sel nya.
"Lemas dia...!!, syok ya dengar hukuman mu...!!", seru seorang napi tertawa bersama rekan rekan nya.
__ADS_1
"Heh, heh...!!, sudah, sudah, bubar..!!", seru pak polisi membungkam mereka.
"Biarkan pak, saya sudah terima semua nya", ucap lirih pak Hatta.
"Jika bapak masih merasa lemas, saya bisa pindahkan bapak ke sel kosong", ucap pak polisi itu merasa iba.
"Sekarang, inilah rumah saya, saya akan menua dan mati di sini", ucap pak Hatta menyeka mata nya yang basah.
Tanpa berbicara apapun, pak polisi mencoba menuruti permintaan pak Hatta.
Dalam kegaduhan yang di ciptakan oleh para napi lain, di dalam diri pak Hatta hanya ada kesunyian, suara sekeras apapun tak berpengaruh pada nya saat itu.
"Heh pak tua...!!, jangan melamun saja, bukan hanya kau yang di vonis hukuman seumur hidup", seru seorang napi sembari tertawa bersama rekan rekan nya.
Karna ucapan nya tak di dengar bahkan di acuhkan oleh pak Hatta.
Membuat para napi lain merasa kesal.
"Pak tua ini memang perlu di hajar...!!", ketus seorang napi mendekati pak Hatta yang masih duduk termenung.
Brukkk....
__ADS_1
Satu pukulan kencang di wajah pak Hatta membuat tubuh pak Hatta ambruk bahkan pingsan.
Para polisi segera menolong pak Hatta dan membawanya ke dokter pribadi rutan itu.