
Semenjak kejadian segerombol lelaki yang datang secara tiba tiba untuk menolong Nurma waktu itu.
Puja jadi curiga akan asal usul Nurma dan siapa sebenarnya Nurma itu.
Puja sampai nekat mengikuti Boy ke Jakarta dan mengorek informasi sebanyak banyak nya dari sekeliling Boy tentang siapa Nurma sebenarnya.
Ia mengendap ngendap mengikuti Boy yang tengah menaiki bus menuju kota.
"Kayak ada yang ngikutin..!!", ucap Boy merasakan keberadaan Puja.
"Aduhhh...!!", ucap lirih Puja bersembunyi di balik kursi penumpang lain.
"Ah, mungkin cuma perasaanku aja", ucap Boy membaca sebuah buku dengan tenang di kursi nya.
"Aman....!!, ternyata dia berasa ya kalau aku ada di dekatnya, itu tandanya kamu memang jodoh aku Boy", ucap Puja kembali menutupi wajahnya dengan masker dan kembali duduk di kursi nya.
3 jam perjalanan.
Mereka telah sampai di terminal kota.
Boy berjalan dan menyewa sebuah ojek untuk sampai ke rumah pak Hatta.
"Yah...!!, dia pergi..!!, aku gak boleh kehilangan jejak", seru Puja bergegas menaiki ojek dan mengejar Boy lagi.
"Ayo jalan bang..!!, itu tuh kejar motor itu", seru Puja terus berfokus pada laju motor yang ditumpangi Boy.
"Iya, iya..!!, sabar neng", seru tukang ojek itu bergerak cepat sesuai permintaan Puja.
"Aduh..!!, pelan pelan...!!, ke buka rok aku nih..!!", ketus Puja marah marah.
"Nah..!!, gimana sih neng..??, tadi suruh cepat...!", seru tukang ojek.
"Eh, iya deh..!!, kejar tuh motor, jangan sampai hilang, rok urusan aku deh", seru Puja.
"Neng, neng..!!", seru tukang ojek itu melajukan motornya lagi.
Tak berapa lama.
Mereka berhenti di depan rumah besar, yang berhasil membuat Puja menganga dibuatnya.
"Ini rumah apa istana presiden...??", seru Puja turun dari motor.
__ADS_1
"Eh, ongkosnya neng..!!, main pergi saja...!!", seru tukang ojek membuyarkan fokus Puja.
"Nih, nih..!!, ambil saja kembaliannya..!!, baik kan aku ..!!", seru Puja berjalan meninggalkan tukang ojek itu.
"Kembalian...???, eh, ini tuh malah kurang tahu..!!" teriak tukang ojek itu tapi tak dihiraukan oleh Puja.
"Dasar...!!, gila...!!", seru tukang ojek itu segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Gimana gak betah, orang rumah majikannya saja kayak gitu, gimana dalamnya..??", ucap Puja bersembunyi di balik tembok sambil mengintai Boy.
"Yang penting aku udah tau dia kerja di sini", ucap Puja pergi dari rumah itu sembari mencari tempat kontrakan untuk dirinya.
Tak jauh dari rumah pak Hatta, nampak sebuah kontrakan yang sesuai dengan keinginan Puja.
"Pas banget nih...!!", ucap Puja memilih kamar dan menyewanya 2 bulan secara lunas.
"Makasih ya mbak", ucap ibu pemilik kontrakan.
"Kalau kurang minta lagi, duit aku banyak kok", ucap Puja masuk ke dalam kamarnya.
Keesokan harinya, bahkan hari hari berikutnya.
Ia bahkan bertanya pada warga sekitar tentang majikan Boy demi mendapatkan informasi siapa sebenarnya Nurma itu.
Dari para tetangga dan tukang kebun pak Hatta ia mengetahui bahwa Boy masih baru bekerja di sana.
Tetapi Boy sudah menjadi supir kepercayaan saudara pak Hatta sampai akhirnya keluarga itu habis karna kecelakaan.
Dari semua cerita itu, Puja masih tak mendapatkan informasi apapun yang berkaitan dengan Nurma.
Tak di sangka sangka, pucuk di cinta ulam pun tiba.
Saat Puja ingin pulang ke kontrakannya.
Ia hampir tertabrak mobil pak Satria, pengacara dari pak Hatta.
"Awhhh..!!", rintih Puja karna merasa kakinya terkilir.
"Saya antar ke rumah sakit", ucap pak Satria memapah Puja masuk ke dalam mobil.
"Gak apa apa pak, saya pulang aja", ucap Puja meringis kesakitan.
__ADS_1
"Gak apa apa, saya akan tanggung biayanya", ucap pak Satria mengantar Puja ke rumah sakit.
Setelah Puja mendapat penanganan.
Ia juga di antar pulang oleh pak Satria.
"Sebentar ya, saya isi bensin dulu", ucap pak Satria keluar dari mobilnya.
"Bagus juga mobilnya, minta satu ah sama bapak", ucap Puja memandang kesekeliling mobil.
Lalu pandangannya tertuju pada dokumen dokumen pak Satria yang berada di depannya.
"Pengacara Satria", ucap Puja membaca tulisan di samping dokumen dokumen itu.
Pantesan mobilnya bagus, pakek jas, dia itu pengacara, gumam Puja dalam hati.
Lalu tak sengaja tangannya membuka sebuah dokumen yang bertuliskan surat wasiat Kiandra.
"Kayak nama majikan Boy yang meninggal itu", seru Puja penasaran lalu terus membaca surat wasiat itu sampai akhir.
Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang ia baca.
Ada nama Nurma di sini...!!, gumam Puja dalam hati.
"Maaf saya lama", ucap pak Satria masuk ke dalam mobil.
Seketika Puja terkejut dan meletakkan dokumen ditangannya.
"Maaf, itu dokumen rahasia", ucap pak Satria membereskan dokumen dokumennya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Maaf pak, saya cuma bosen, jadi saya baca baca, saya gak tahu kalau itu dokumen rahasia", ucap Puja.
"Iya gak apa apa, kita teruskan perjalanannya ya, kemana kita kali ini...??", ucap pak Satria kembali melajukan mobilnya.
"Kita belok kanan lalu belok ke kiri pak, itu tempat tinggal saya", ucap Puja menunjukkan arah tempat tinggalnya.
"Maaf lhoo ya saya buat kamu cidera", ucap pak Satria masih merasa bersalah.
"Gak apa apa kok pak", ucap Puja, dalam hati ia malah bersyukur, karna kejadian itu ia bisa mendapatkan sedikit informasi siapa itu Nurma.
Pasti yang di maksud Nurma dalam surat wasiat itu adalah Nurma yang sama yang ada di desa, aku yakin itu, gumam Puja dalam hati.
__ADS_1