
"Mi, tolong ambilkan aku minum, rasa nya tenggorokan ku seperti gurun sahara sekarang", keluh Queen mulai bangun dari tidur nya.
Ia merasa pusing yang teramat hebat setelah mabuk malam itu.
Terlebih badan nya serasa berat untuk bangkit dari pembaringan.
"Terima kasih", ucap Queen dengan mata masih tertutup mengimbangi kepala nya yang terasa sakit sembari meraih sebuah gelas berisi susu yang dijulurkan oleh sebuah tangan ke arah nya.
Segelas susu ia habiskan dengan sekali minum.
Saat mata nya mulai mencoba terbuka.
Ia melihat samar seorang lelaki tengah duduk di samping nya.
"Awhh...!, mi, kenapa bayangan mami seperti lelaki..?", keluh Queen mencoba menfokuskan penglihatan nya.
"A, a, aku...", ucap lelaki itu gugup.
Saat mendengar suara itu, sontak mata Queen terbelalak sempurna, dan amat terkejut saat melihat sosok lelaki di hadapan nya ternyata bukan sebuah penglihatan yang salah.
"Romi...!!", teriak Queen lalu tersadar bahwa tubuh nya hanya tertutup selimut saja.
Ia amati bagian dalam selimut dan lebih terkejut lagi saat tubuh nya ternyata dalam keadaan polos sempurna sampai ke ujung kaki.
Ia memandang ke sekeliling dan tersadar bahwa itu bukan kamar nya.
Ia syok dan juga marah.
Ia coba menarik selimut agar bisa lebih menutupi bagian atas tubuh nya yang terpampang begitu jelas.
Wajah nya antara marah dan malu, segera ia melempar gelas yang ia pegang ke dinding kamar.
Pyar....!!
"Berani nya kau kutu buku...!!", teriak Queen menunjuk nunjuk ke arah Romi yang semakin kebingungan mencari cara untuk menenangkan Queen.
"Maaf kan aku Queen, aku akan bertanggung jawab", seru Romi langsung membuat Queen mengerti apa yang telah terjadi di antara mereka.
"Apa...?, jadi kau...!", seru Queen amat syok mengetahui kenyataan bahwa Romi telah mencicipi tubuh nya malam itu.
"Aku sangat menyukai mu Queen, a, a, aku gak bisa kontrol nafsu ku", ucap Romi mencoba menenangkan Queen yang begitu marah dengan kenyataan yang telah ia dengar.
"Diam...!!", teriak Queen bangun dari ranjang dan menatap tajam ke arah Romi, membuat Romi ketakutan dan bergerak mundur sampai badan nya membentur tembok.
Belum sempat deretan maki an terlontar ke arah Romi.
Queen terdiam dan merasakan perih di area inti nya saat ia berdiri.
Badan nya juga terasa remuk dan hancur atas aksi brutal Romi malam itu.
Bahkan Queen melihat banyak bekas merah di tubuh nya yang memperjelas kejadian malam itu.
__ADS_1
"Cuhhh..!!, lelaki tak tau diri...!", teriak Queen sembari meludah ke arah Romi dan meraih baju nya, lalu memakainya dan segera pergi dari tempat itu.
Meninggalkan Romi yang hanya terdiam ketakutan dan gemetar sembari membersihkan kaca mata nya yang terkena ludah Queen sebelum ia meninggalkan nya.
Dengan sempoyongan, Queen merapikan baju dan rambut nya sembari bergegas keluar dari Villa itu.
"Sial..!, mana ada taksi di daerah puncak seperti ini", keluh Queen berjalan ke arah jalan besar sembari mencari tumpangan untuk nya pulang.
Sekitar 1 jam lebih Queen berjalan.
Tapi tak ada satu pun kendaraan yang melintas.
Saat ia melihat sebuah mobil.
Ia mengulurkan tangan nya dan sangat berharap pemilik mobil sudi membawa nya kembali ke kota.
"Cih..!!, kau lagi..!", ketus Queen saat mobil merah itu berhenti dan membuka kaca pintu mobil nya.
"Sebaik nya kau ku antar pulang, aku yang membawamu kesini, jadi biarkan aku mengantar mu pulang", ucap Romi memohon.
Melihat jalanan yang jarak nya masih jauh dari kota membuat Queen mau tak mau menyetujui permintaan Romi.
Sepanjang perjalanan Queen seakan mau meledak saat mengingat bahwa diri nya telah di tiduri oleh lelaki cupu yang jauh dari kriteria nya.
Kenapa bisa dia jadi yang pertama merasakan nya..??, saat aku pingsan lagi, dasar licik..!, gumam Queen dalam hati.
"Aku tahu yang kau pikirkan, dan aku janji akan bertanggung jawab", ucap Romi berusaha meredam kemarahan Queen.
"Pede banget kalau ngomong..!, emang aku mau sama cowok model kamu..!!, gila..!", seru Queen melepas emosi nya yang belum sempat ia luapkan.
"Tapi cupu, gak keren, iuh..!, jijik banget", timpal Queen membayangkan saat Romi menindihnya dan menikmati tubuh nya.
Romi hanya terdiam mendengar setiap keluhan dan hinaan yang keluar dari mulut Queen.
Ia mengakui kalau diri nya lah yang bersalah saat itu.
Sementara di kediaman pak Hatta, situasi menunjukkan sebalik nya.
Kiandra sesekali tersenyum saat ia sedang menata sarapan di meja makan.
Fikiran nya sedang mengulang kejadian malam pertama antara diri nya dan sang suami.
Malam itu, saat Kiandra masih termenung memikirkan Queen, Boy terbangun dan memeluk mesra sang istri.
"Akhir nya kau kembali, apa aku harus sendirian di malam pertama kita sayang..?", ucap lembut Boy di telinga Kiandra.
Seketika kegelisahan Kiandra sejenak terlupakan.
"Kenapa baru kali ini kau panggil aku sayang Boy..?", keluh Kiandra mencubit telinga Boy.
"Karna malam ini status kita telah berubah, kau juga sekarang tanggung jawab ku dan bukan majikan ku lagi", ucap Boy mengecup kening sang istri.
__ADS_1
Seketika pandangan keduanya mulai beradu.
Tangan Kiandra mulai membuka kancing kemeja Boy satu persatu.
Tangan Boy juga memulai tugas nya dengan membuka resleting gaun milik wanita yang kini telah sah menjadi istri nya.
Ciuman mesra mulai beradu di antara mereka, hasrat mereka mulai menggebu satu sama lain.
Tak butuh waktu lama, kini kedua nya sudah nampak polos tanpa sehelai benang pun.
Kiandra menutup mata saat melihat sesuatu yang menegang milik suami nya.
"Jika kau tak siap sekarang, tak apa", ucap Boy menahan hasrat nya demi kenyamanan sang istri.
"Aku istri mu, aku siap kapan saja untuk mu", ucap Kiandra menarik tangan Boy hingga tubuh mereka menempel satu sama lain.
Boy tersenyum dan mengecup bibir ranum sang istri, Kiandra juga membalas kecupan bertubi tubi yang suami nya berikan.
Nafas mereka kini semakin berat saat Boy membaringkan Kiandra di bawah nya.
"Emm, ahh..!, erang Kiandra sembari mengeryitkan dahi dan mencengkeram erat badan Boy, ia mulai terbuai akan permainan Boy sekaligus merasa tersayat sedemikian hebat karna kini Boy telah berhasil membobol bagian inti milik Kiandra.
"Kau tak apa...?, sebaik nya kita hentikan", ucap Boy melihat sang istri yang menahan sakit.
"Bisa pelan sedikit sayang, aku sudah mulai terbiasa", timpal Kiandra mulai menetralkan rasa sakit nya.
Boy kembali melanjutkan gerakan maju mundur nya yang tertunda.
Kini milik nya sudah terpendam sempurna di bagian inti sang istri.
Erangan Kiandra juga menandakan jika diri nya sudah mulai menikmati sensasi gesekan itu.
Leher Kiandra juga tak luput dari kecupan kecupan maut Boy.
Hingga sebuah erangan tercipta dari kedua nya secara bersamaan.
"Nikmat sekali", ucap lirih Kiandra saat Boy mengakhiri permainan nya dan merangkul nya malam itu.
Lamunan dan senyuman nya buyar saat bu Rara menegur nya di meja makan.
"Kiandra..!, bener bener ya..!, sepupu mu ilang kamu malah senyum senyum sendiri di sini, masih sempet lagi nyiapin sarapan, gak ada khawatir nya sama sekali", ketus bu Rara sembari berkacak pinggang.
"Queen dalam perjalanan pulang tante, maka nya aku siapin sarapan untuk nya", ucap Kiandra melanjutkan aktifitas nya.
"Kok kamu gak bilang..!, seneng lihat tante mati panik", keluh bu Rara menggebrak meja.
"Kamar tante terkunci dari tadi subuh, jadi aku gak sempet kasih tau tante", ucap Kiandra mencoba sabar menghadapi bu Rara.
"Emang Queen kemana sih..?", tanya bu Rara penasaran.
"Entah, Romi yang kasih tau aku kabar Queen", ucap Kiandra.
__ADS_1
"Romi..?, siapa lagi dia..?, bikin makin pusing aja ngomong sama kamu", ketus bu Rara pergi meninggalkan Kiandra menuju teras depan menunggu kepulangan Queen.
Iya juga ya, kenapa Romi bisa sama Queen..?", tanya Kiandra dalam hati.