
Malam itu, 2 orang lelaki bertopeng mengendap ngendap masuk ke rumah keluarga Kiandra.
Mereka di bawah perintah pak Hatta mencoba untuk mensabotase mobil keluarga Kiandra.
"Sudah belum...??", bisik seorang lelaki pada rekannya.
"Sabar kenapa sih..!!", seru seorang lelaki lainnya.
"Besar banget ya rumahnya, kita curi sedikit hartanya pasti mereka gak bakal tahu", ucap seorang lelaki bertopeng itu.
"Hus...!!, kita kesini cuma buat rusak ni mobil, emang bayaran kamu dari pak Hatta kurang..??", Ucap seorang rekannya lagi.
"Gak juga sih", ucap salah satu lelaki itu.
"Beres...!!, Yuk cabut..!!", ucap lelaki itu mengajak rekannya untuk pergi dari sana.
___
Keesokan paginya.
Nampak keluarga pak Sam tengah bersiap siap akan berlibur.
Bu Rara nampak telah selesai dengan koper terakhirnya.
"Udah siap bunda..!!", seru Kiandra memasuki kamar bu Rara.
"Siap dong sayang, yuk berangkat..!!", ucap bu Sara menggandeng anaknya menuju teras depan.
"Nah ini...!!, Kedua ratu yang ayah tunggu tunggu dari tadi", ucap pak Sam menunjuk ke jam tangannya.
"Ya ampun ayah...!!, Sabar dong", ucap Kiandra dengan senyumnya yang manis.
"Yuk sayang", ucap bu Sara masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Aku nanti nyusul bunda, biar aku pakek mobil yang lain, sekalian ambil dokumen di kantor", ucap Kiandra memasukkan koper terakhir ke dalam bagasi mobil.
"Kamu tuh ya..!!, ini waktunya kita liburan lho", ucap bu Sara cemberut.
"Biarin bunda, dia kan belajar bertanggung jawab", ucap pak Sam masuk ke dalam mobil.
"Boy, kamu kemudiin mobil ayah ya", ucap Kiandra memberi perintah.
Saat Boy ingin masuk ke mobil majikannya, ia dihentikan oleh pak Sam.
"Gak usah Boy, saya masih bisa kok, kamu jaga saja anak saya ya", ucap pak Sam melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah mereka.
"Baik pak", ucap Boy sembari menghampiri Kiandra.
"Kalau gitu, yuk kita ke kantor dulu ya", ucap Kiandra masuk ke dalam mobil.
2 jam kemudian, urusan Kiandra telah selesai di kantor.
Tiba tiba di pertengahan jalan.
Nampak orang orang tengah berkerumun di jalan raya.
Terdapat kebulan asap yang menyembul dari sisi jurang.
Kiandra yang hafal dengan mobil orang tuanya segera turun dari mobil dan berlari menuju sisi jurang.
"Ayah...!!, Bunda...!!", Teriak Kiandra histeris.
"Jangan Non..!!, Bahaya", seru Boy menghentikan Kiandra yang ingin berlari menuruni Jurang.
Kiandra terus menangis di tepi jurang, menyaksikan ayah dan bundanya terbakar dalam mobil yang tinggal sebagian di bawah jurang itu.
"Kenapa ini semua terjadi Tuhan...!!!", Teriak Kiandra sejadi jadinya lalu pingsan seketika.
__ADS_1
"Pak tolong panggil ambulans...!!!", teriak Boy sekencang kencangnya pada warga yang tengah ikut bergerumbul disana.
Tak berapa lama.
Kiandra sudah berada di rumah sakit, bersama dengan jenazah kedua orang tuanya yang telah berhasil di evakuasi.
Keadaan Kiandra masih pingsan karna ia mengalami syok hebat.
"Kondisinya masih lemah, dan untuk kedua jenazah saya akan urus kepulangannya setelah autopsi selesai", ucap seorang dokter setelah memeriksa kondisi Kiandra.
"Terima kasih dok", ucap Boy masih menemani Kiandra di masa sulitnya.
Lalu fokusnya teralihkan saat melihat pak Hatta di luar ruang rawat Kiandra.
Saat Boy melihatnya, ia segera pergi dari sana, mengundang kecurigaan dari boy sendiri.
Ia lalu mengikuti pak Hatta yang kini tengah berjalan ke arah ruangan Jenazah.
Melihat ruangan Jenazah tengah ditinggalkan oleh dokter dan petugas, ia segera masuk ke dalam dan menemui kakak sekaligus kakak iparnya.
Sementara Boy menyaksikan dari kejauhan.
"Malang sekali nasib kalian, makanya jangan macam macam dengan ku..!!", ucap pak Hatta membuat Boy terkejut.
Jadi ini semua..!!, gumam Boy dalam hati.
"Aku gak sabar mendengar kabar kematian anakmu juga, kenapa ia tak mati sekalian di jurang itu ya..??", ucap pak Hatta membuat Boy tahu bahwa saat itu pak Hatta tak mengetahui bahwa Kiandra tidak satu mobil dengan orang tuanya saat itu.
Boy kemudian kembali ke ruangan Kiandra.
Ia terus memikirkan kenapa bisa pak Hatta tega melakukan itu pada keluarganya sendiri.
"Malang sekali nasibmu non", ucap Boy berniat memegang tangan Kiandra, tapi sesaat kemudian ia urungkan niatnya itu.
__ADS_1