
Hari itu.
Kiandra sudah mengetahui bahwa pamannya telah mensabotase mobilnya seperti yang ia lakukan pada mobil orang tuanya.
Dengan rencana yang matang.
Kiandra memberanikan diri mengikuti rencana yang telah di atur oleh sang paman.
"Non yakin..??", seru Boy khawatir rencana mereka gagal.
"Kita pasti bisa Boy", ucap Kiandra memegang tangan Boy, membuat pipi Boy memerah.
Kiandra melajukan mobilnya dengan mantap, ia secara hati hati berusaha mengendalikan mobilnya yang sudah di rusak rem nya.
Ia harus menabrakkan diri di tempat yang ia dan Boy rencanakan.
Ketika itu.
Pak Hatta mengikuti sendiri Kiandra dari arah belakang.
Ia tak mau rencananya gagal kali ini.
"Mampus kamu kali ini .!!", seru pak Hatta terus mengikuti laju mobil Kiandra.
Beberapa saat kemudian.
Tibalah Kiandra di tempat yang ia dan Boy telah persiapkan sebelumnya.
Ia mulai membuat mobilnya tak tentu arah agar pak Hatta tak curiga.
__ADS_1
Saat Kiandra ingin menabrakkan diri, di luar prediksi, ada seorang warga yang melintas di depan mobilnya.
Membuat Kiandra berusaha keras menghindarinya sampai ia masuk ke jurang menyimpang dari rencana awalnya.
Boy yang melihatnya merasa panik bukan kepalang.
Pak Hatta yang melihat sendiri mobil Kiandra tengah berada di jurang tertawa bahagia.
Setelah itu, ia segera pergi dari tempat itu untuk bersiap siap berakting sedih saat mendengar kabar kematian sang keponakan.
Setelah pak Hatta pergi.
Boy dan tim medis yang ia bawa segera mengevakuasi Kiandra tanpa menyianyiakan waktu sedetik pun.
Betapa terkejutnya mereka saat menemukan Kiandra dalam kondisi luka parah.
Bahkan wajahnya tak terlihat karna tertutup dengan darah.
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit luar negeri jika kondisinya seperti ini, jika kita lena sedikit ia tak akan tertolong", ucap dokter segera mengisyaratkan asistennya untuk memandu Kiandra menuju mobil.
Beberapa saat kemudian.
Pesawat mereka telah berangkat menuju ke singapura.
Dokter sudah menangani yang bisa ia tangani untuk pertolongan pertama bagi Kiandra, selebihnya keselamatan Kiandra tergantung di dokter spesialis yang berada di singapura.
Operasi yang dijalani Kiandra cukup terbilang lama.
Bahkan 3 dokter sekaligus bekerja sama untuk membantu proses operasi Kiandra.
__ADS_1
"Tunggu dok...??, sebenarnya bagaimana keadaan majikan saya di dalam..??, kenapa dari tadi banyak dokter baru ikut masuk ke dalam..??", seru Boy amat gelisah.
"Maaf mas, kita bicarakan ini nanti", ucap dokter bergegas masuk ke ruang operasi.
Tiba tiba telfon Boy berdering.
"Mbak Sri...??", ucap Boy mengangkat panggilan ponselnya.
"Mas, gimana keadaan non Kiandra...??, kok mas lama banget gak ngasih kabar", seru mbak Sri gelisah.
"Keadaannya gawat mbak, ini gak sesuai dengan prediksi kita", ucap Boy menyesal.
"Lahhhh...!!, apa yang terjadi..??", seru mbak Sri gelisah.
"Non sedang menjalani operasi besar sekarang mbak, nanti saya ceritakan, oh ya bagaimana kondisi di sana...??, terkendali bukan...??", ucap Boy penasaran.
"Aman mas, pak Hatta 100 persen percaya bahwa mayat itu adalah non Kiandra, tapi proses pemakamannya masih berlangsung besok", ucap mbak Sri.
"Ya sudah, nanti saya kabari lagi ya mbak, saya nunggu kabar dari dokter dulu", ucap Boy menutup panggilan ponselnya.
Sementara tanpa sadar, pak Hatta melihat mbak Sri dan mencoba menghampirinya.
"Hei mbak.!!!", seru pak Hatta tegas, membuat mbak Sri kaget dan ketakutan.
Aduh....!!, denger gak ya..??, gumam mbak Sri dalam hati.
"I, iiii..., iyaaa pak", ucap mbak Sri menghadap ke arah pak Hatta.
"Majikan kamu lagi berduka..!!, malah enak enakan main ponsel di sini..!!, sana keluar...!!", seru pak Hatta dengan bengisnya.
__ADS_1
"Baik pak", ucap mbak Sri menuruti perintah dari pak Hatta, sambil berjalan menjauhi pak Hatta ia mengelus dadanya.
Alhamdulillah, berarti dia gak denger, gumam mbak Sri dalam hati.