Kiandra

Kiandra
Menyusuri memori lama.


__ADS_3

"Mari silahkan masuk, anggap rumah sendiri", ucap mbok Suti mempersilahkan Boy dan Nurma masuk ke dalam paviliun.


"Makasih mbok", ucap Nurma lagi lagi mengingat masa masa kecil nya dulu di ruangan itu.


"Makasih ya mbok, mbok mau bantu kami", ucap Boy sembari meraba laci yang masih terkunci disampingnya.


"Gak usah bilang makasih, kalau itu bisa membantu keluarga almarhum pak Sam saya pasti akan bantu", ucap mbok Suti memberikan sebagian kunci perabotan paviliun kepada Boy.


"Saya akan cari di sebelah kanan, kamu dan mbok cari di sebelah kiri", ucap Boy memulai pencariannya.


Mereka pun mencari brangkas pak Hatta di setiap ruangan dan setiap laci serta di setiap almari yang ada.


"Mbok yakin gak pernah lihat brangkas itu..??", ucap Nurma sembari terus meneruskan pencariannya.


"Mbok yakin..!!!, karna setiap pak Hatta kemari juga hanya untuk berlibur, dan tak pernah membawa sebuah dokumen apapun, bahkan saat mbok bersih bersih, tak pernah mbok lihat brangkas selama ini", ucap mbok Suti membuka almari terakhir dengan kunci terakhir yang ia pegang.


"Gimana..??, ketemu...??", seru Boy keluar dari salah satu ruangan yang ada.


Nurma hanya menggeleng, menandakan bahwa ia tak menemukan bukti apapun.


"Hai Kiandra...!!", bisik roh Viona tiba tiba muncul di samping Nurma.


Aku sudah cari di setiap tempat, tapi tak ada bukti itu, gumam Nurma dalam hati mencoba berkomunikasi dengan roh Viona.


"Ingatlah masa kecil mu di sini lebih detail lagi, dan kamu akan menemukannya", ucap roh Viona segera menghilang dari sisi Nurma.


Kemudian, Nurma bergegas menuju kembali ke pintu depan Paviliun.


Membuat Mbok Suti dan Boy di buat heran olehnya.


Sedangkan Nurma mulai mencoba mengingat setiap momen yang ia ingat di paviliun itu sesuai petunjuk dari roh Viona.


Ia berkeliling dan bermain dengan semua barang yang ada persis seperti yang ia lakukan waktu kecil dulu.

__ADS_1


Ia mengingat saat ia berlari di sofa ruang tamu.


Pak Hatta selalu berucap.


"Kiandra.., jangan..!!, kamu akan jatuh jika menabrak tepi sofa", ucap Nurma menirukan ucapan pak Hatta.


Nurma kemudian mencoba meraba sisi sofa dengan seksama.


"Tak ada apapun di sini", ucap Nurma kembali melanjutkan pencariannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan...??, kenapa kamu berlari dan bermain seperti anak anak Nurma...??", tanya Boy terus mengikuti Nurma yang bertingkah tak karuan.


Sementara mbok Suti hanya terdiam mengikuti tingkah polah Nurma di hadapannya.


Lalu Nurma mencoba berjalan menuju ke jajaran laci tempat ia sering mengganggu pak Hatta dan ayahnya yang selalu duduk di samping laci itu sembari menonton tayangan televisi kesukaan mereka.


"Ini terkunci...!!", seru Nurma menirukan dialog yang selalu ia ucapkan saat ia masih kecil dulu, sembari mencoba membuka paksa laci laci yang terkunci itu.


"No, no, no, Kiandra..!!, itu laci barang pribadi paman", ucap Nurma menirukan ucapan pak Hatta di masa lampau saat dirinya selalu mencoba merusak laci itu.


"Biar aku coba buka..", ucap Boy mengambil beberapa peralatan dan mencongkel laci itu dengan paksa.


Setelah laci berhasil di buka, mereka bergegas membongkar isinya.


Dan lagi lagi nihil.


Laci itu hanya berisi paspor dan akta tanah dari paviliun itu.


"Gimana...??", tanya Boy.


Nurma hanya menggelengkan kepala dan meneruskan pencariannya lagi.


Kini ia tiba di perapian paviliun.

__ADS_1


Yang seingatnya, perapian itu sudah tak di gunakan dan tak menyalakan api berpuluh puluh tahun lamanya.


Nurma mencoba meraba perapian yang telah di pagar besi di bagian tengahnya.


"Kenapa perapian tapi tak ada api di dalamnya..??", ucap Nurma mencoba mengingat pertanyaan masa kecil nya dulu yang sempat ia lontarkan.


"Di sini cukup hangat, dan kita tak butuh perapian lagi, lagian itu lebih baik jika di pagar seperti itu", ucap Nurma mengulang jawaban pak Hatta di masa lalu.


Lalu Nurma tercengang.


Ia segera mengambil peralatan yang di bawa oleh Boy.


"Cepat tolong aku Boy..!!", seru Nurma mencoba melepas pagar besi di perapian itu.


Setelah pagar berhasil di lepas.


Nurma mencoba mengorek tempat yang seharusnya api perapian menyala.


Tiba tiba tangannya menyentuh sebuah tali.


Dengan sigap Nurma menariknya.


Begitu terkejutnya mereka saat melihat sebuah brangkas terkubur di bawah perapian itu.


"Aku menemukannya...!!", seru Nurma tak percaya.


"Kita berhasil..!!", seru Boy memeluk Nurma.


Tak berapa lama, mereka tertegun dan melepas pelukan mereka dengan perasaan malu di antara keduanya.


"Mbok..!!, brangkas itu beneran ada...!!", seru Nurma mendekati mbok Suti dan memeluknya.


Dari wajah mbok Suti yang seakan syok, tiba tiba berubah menjadi senyuman.

__ADS_1


Mbok Suti membalas pelukan Nurma dengan eratnya sambil meneteskan air matanya.


"Mbok ikut seneng non Kiandra", ucap mbok Suti membuat Nurma dan Boy terkejut.


__ADS_2