Kiandra

Kiandra
Sebuah pertemuan 2


__ADS_3

"Setelah kita bertemu papi, janji ya sama mami, kamu akan nerima Ema sebagai anak kamu," ucap bu Rara sedikit membuat hati Kiandra khawatir.


"Aku sudah pikirkan semua nya mi, mami tenang aja, oke," sahut Queen menatap tajam ke arah Kiandra.


"Kin, apa masih jauh?," tanya bu Rara tak sabar.


"Tempat nya ada di ujung jalan di depan sana," ucap Kiandra tetap berusaha fokus dalam melajukan mobil nya.


"Ujung jalan?, yakin kamu?," keluh Queen.


"Memang nya kenapa Queen?," tanya bu Rara menatap ke sekitar yang agak samar di ingatan nya.


"Ini jalan ke rumah teman ku itu lho mi, yang mami aku ajak ke sana dulu," seru Queen memancing ingatan bu Rara.


"Bentar, bentar. Teman mu Nia kan?," seru bu Rara terus mengingat jalan itu.


"Rumah Nia itu udah yang paling ujung dari komplek itu mi, mami ingat kan?, Kiandra pasti bohongin kita!," seru Queen namun tak membuat Kiandra menimpali tuduhan itu.


"Tante udah jahat banget sama kamu, tante dari dulu selalu berprasangka buruk sama kamu, tolong jangan buat tante berprasangka buruk lagi sama kamu Kin," seru bu Rara nampak sudah benar benar berniat untuk berubah.


"Coba tante ingat, apa yang ada di ujung jalan itu selain rumah Nia," ucap Kiandra dengan mata yang mulai basah.


"Gila kamu!, di samping rumah Nia tuh hanya ada kuburan!, gak ada lagi rumah lain di sana!, masak papi ada di kuburan!," ketus Queen membuat bu Rara seketika menatap tajam ke arah nya.


Seketika raut wajah bu Rara berubah sayu, ada keheningan yang tercipta di mobil itu.


"Mi, mami kenapa?," tanya Queen bingung dengan perubahan raut wajah sang mami.


Tak berselang lama, mobil Kiandra telah sepenuh nya berhenti di tepi jalan.


Dengan spontan, bu Rara segera keluar dari mobil dan menatap pekuburan yang ada di hadapan mereka.


"Emang kamu janjian sama papi di sini Kin?, gak ada tempat lain apa!," keluh Queen masih tak menyadari apa yang coba Kiandra tunjukkan kepada nya.


"Kenapa kamu tak pernah berbicara tentang semua ini Kin?," tanya bu Rara dengan pipi yang sudah basah dengan air mata.


"Mami ngomong apa sih!," keluh Queen tak mengerti.


"Aku hanya menjalankan amanat paman tante," ucap Kiandra mencoba kuat.

__ADS_1


Sementara Queen masih terus mencoba mengartikan pembicaraan mereka.


"Bisa bawa tante ke sana?," ucap bu Rara menyeka air mata nya.


"Ke mana mi!, papi gak ada di sini, gak ada seorang pun di sini!," seru Queen tak di hiraukan oleh sang mami.


"Mari tante," ucap Kiandra mencoba menopang tangan bu Rara agar setidak nya bisa membantunya tetap tegar saat itu.


Dengan terpaksa, Queen berjalan mengikuti mereka memasuki pekuburan.


Kiandra merasa ikut sakit saat melihat raut wajah bu Rara yang begitu pucat pasi dan seakan mencoba menahan luapan kesedihan nya saat itu.


Tatapan mata nya masih mencari cari keberadaan suami nya.


Ada harapan dalam hati nya kalau semua perkiraan nya itu salah.


"Di sana tante," ucap Kiandra menunjuk sebuah nisan tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Membuat Queen begitu syok saat membaca nama yang tertulis di batu nisan itu.


"A-apa ini?, Kin!, gak mungkin," ucap Queen seketika merasa remuk dan kehilangan kekuatan tubuh nya.


Dengan kaki yang gemetar, bu Rara mencoba berjalan mendekati sebuah pusaran yang memiliki nisan bertuliskan nama Hatta soedipjo.


"Papi!, maafkan mami pi!," teriak bu Rara sejadi jadi nya.


"Apa semua ini lelucon buat mu Kin!, hah!, hal semacam ini kamu berani sembunyikan dari kami," sentak Queen tak terima.


"Aku minta maaf Queen, ini semua bukan keinginan ku," sahut Kiandra tersedu sedu.


"Jadi ini keinginan siapa!, keinginan ego mu!," teriak Queen semakin menjadi jadi.


"Cukup Queen!, cukup!," sentak bu Rara mendorong sang putri hingga jatuh tersungkur.


"Tante," ucap lirih Kiandra tak percaya dengan reaksi bu Rara saat itu.


"Harus nya kamu berfikir Queen!, kenapa papi mu meminta Kiandra menyembunyikan semua ini dari kita!, saat dia kesusahan kemana kita Queen!," keluh bu Rara terduduk di tanah sembari menangis menatap nisan sang suami.


"Dulu mami begitu gila harta sampai melupakan papi mu yang sendirian di penjara," keluh bu Rara lagi.

__ADS_1


Seruan bu Rara perlahan membuat Queen menangis menyesali sikap buruk nya selama ini, terutama pada sang papi.


"Pi, Queen minta maaf pi," seru Queen bersimpuh di tanah makam pak Hatta.


"Papi mu masih beruntung memiliki keponakan seperti Kiandra, di sisa hidup nya ia masih bisa merasakan rasa nya memiliki keluarga, mami yakin sekotak makanan pemberian Kiandra bagaikan hal yang begitu berharga bagi papi mu," ucap bu Rara menangis sembari memeluk nisan pak Hatta.


Sementara Kiandra hanya menangis menyaksikan semua nya dari jauh.


Dunia cepat sekali berputar, dulu aku yang berada di posisi mereka, dan kini, mereka juga merasakan semua itu, rasa sakit yang begitu sesak hingga membuat ku begitu rapuh saat itu, namun jika aku bisa meminta, aku tak mau orang lain merasakan rasa sakit kehilangan itu lagi, batin Kiandra dalam hati.


"Di depan makan papi mu, mami mohon, tolong bertobatlah, dan mintalah maaf kepada saudara mu," ucap bu Rara dengan permintaan kecil nya.


"Aku mengakui kesalahan ku pada papi mi, tapi aku gak akan pernah mau minta maaf sama dia!," ketus Queen masih dengan ego nya.


"Queen!," seru bu Rara marah.


"Anak mami itu aku atau dia!," sentak Queen berlari pergi dari sana.


"Sudahlah tante, biarkan Queen sendiri," ucap Kiandra menenangkan bu Rara.


"Makasih Kin, terima kasih atas semua nya," ucap bu Rara penuh penyesalan.


"Taburkan ini untuk paman tante," ucap Kiandra menyodorkan bungkusan hitam berisi bunga mawar kepada bu Rara.


Setelah bunga di sebar di pusaran pak Hatta, mereka mencoba bangkit dan perlahan keluar dari area makam.


"Kita antar makanan ini dulu ya tante," ucap Kiandra mengajak bu Rara singgah di sebuah gubuk di ujung area pemakaman.


Bu Rara hanya mengangguk lemas tanpa bertanya apa pun juga.


"Non Kiandra," seru seorang pengurus makam di sana saat melihat sosok yang mereka kenal sedang berjalan ke arah mereka.


"Ini buat bapak bapak semua, sebagai sedekah atas nama almarhum pak Hatta," seru Kiandra membuat bu Rara kembali menatap binar ke arah Kiandra.


"Alhamdulillah, semoga amal ibadah almarhum menjadi penerang di alam kubur," doa para pengurus makam membuat air kata bu Rara kembali menetes.


"Mari tante, kita pulang," ajak Kiandra.


"Tunggu Kin. sekali lagi tante berterima kasih untuk segala nya, tante gak tahu kalau gak ada kamu," ucap bu Rara tersedu sedu.

__ADS_1


"Sudahlah tante, yang terpenting, kita lupakan semua yang telah lalu, aku juga minta maaf jika banyak salah sama tante dan Queen," ucap Kiandra memeluk sang tante yang terus mengucap maaf pada diri nya tanpa henti.


__ADS_2