Kiandra

Kiandra
Momen pertama dengan sang buah hati


__ADS_3

"Sebaik nya tante istirahat," ucap Kiandra sembari memapah bu Rara yang masih begitu syok hari itu masuk ke dalam kamar nya.


Hari itu yang merupakan hari di mana ia tahu bahwa sebenar nya sang suami, yaitu pak Hatta telah meninggal dunia.


"Tante istirahat ya," ucap Kiandra tak mau sang tante larut dalam kesedihan.


Ia berharap, cerita pilu itu cukup sampai di sana.


"Terima kasih," ucap lirih bu Rara segera memeluk foto sang suami dan menarik selimut nya.


"Boy, dimana Ema?," tanya Kiandra saat diri nya telah sampai di taman belakang.


Karna di setiap ruangan ia tak menemukan Boy saat ia mencari nya.


"Ema pergi sama Queen, mereka di jemput Sofia," sahut Boy memeluk bahu sang istri yang begitu nampak kelelahan.


"Sofia?, mereka udah mau maafin Queen?," tanya Kiandra penasaran.

__ADS_1


Karna melihat sikap keluarga Romi selama di rumah sakit, mustahil mereka menerima Queen dengan begitu cepat nya.


"Bagaimana pun, di nadi Ema itu ada darah Romi sayang, sekeras apapun mereka mengelak itu," ucap Boy sembari menatap langit.


Ada rasa khawatir dalam diri nya jikalau Ema sampai di ambil oleh keluarga Romi.


Bagaimana reaksi Kiandra nanti?.


"Aku ikhlas Boy, aku bukan tuhan yang bisa mengekang alur takdir seorang anak, dia berhak bahagia," seru Kiandra membuat Boy tercengang.


Apa kekhawatiran di diri nya begitu terlihat saat itu.


Tangis pilu di hati nya kembali menyiksa diri nya.


Belum selesai penyesalan dan dosa nya selama ini, kini ia harus merasa bersalah kembali atas semua kegundahan dalam diri Kiandra.


"Ema memang anak kandung Queen, tapi jiwa seorang ibu ada di kamu Kiandra, aku akan sangat bahagia jika Queen bisa menjadi ibu seperti mu dan mau merawat Ema bersama sama dengan mu, mungkin saat ajal ku datang, aku akan lega pergi dengan tenang saat itu," ucap lirih bu Rara dengan penuh isak tangis.

__ADS_1


-------


"Lihatlah mi, hari ini dia melakukan hal yang mungkin belum pernah ia lakukan sebelum nya," ucap Romi menatap Queen yang tertidur begitu kelelahan saat mencoba merawat Ema dan mencoba bermain dengan putri mereka hari itu.


Bahkan mungkin itu adalah kali pertama nya Queen bermain dengan Ema sama seperti diri nya.


"Satu hal baik tidak bisa membuktikan apapun Rom," sahut nyonya Fena bergegas masuk ke dalam kamar nya.


"Suatu hari, mami pasti akan menerima wanita itu," ucap Romi menatap kaki nya yang masih lumpuh.


Andaikan kaki ini bisa normal kembali, aku akan memperjuangkan mereka berdua agar tak jauh lagi dari ku, batin Romi.


"Kak, apa aku harus bangun kan dia?," tanya Sofia melihat hari yang mulai larut.


Namun ia juga tak tega membangunkan Queen yang tidur begitu lelap nya.


"Beri waktu dia sebentar lagi, nanti aku sendiri yang akan bangunkan dia," sahut Romi melajukan kursi roda nya semakin mendekat ke arah Queen.

__ADS_1


Seakan ia mau memanfaatkan waktu semaksimal mungkin menatap Queen serta wajah cantik Cantika.


Aku akan jadi orang pertama yang bahagia jika kak Romi bahagia, aku memang tak bisa percaya dengan Queen, tapi hanya dia yang bisa mengukir senyum di wajah kak Romi lagi, siapa tahu kondisi kak Romi juga berangsur angsur pulih jika sering bersama mereka, batin Sofia meninggalkan sang kakak.


__ADS_2