Kiandra

Kiandra
Usahanya mulai membuahkan hasil


__ADS_3

Nurma terus saja berinovasi dan menjahit baju baju terbarunya.


Meskipun dalam setahun ini dia sudah memiliki banyak pegawai dan membuka sebuah butik.


Tapi ia terus menjajahkan sendiri bajunya bahkan memasarkannya di berbagai sosial media.


Bahkan setiap yang memegang baju Nurma seakan tak rela jika ia pulang tanpa membeli baju dengan kualitas terbaik yang pernah mereka lihat sebelumnya, dari segi jahitan bahkan model baju yang terbilang mengikuti tren yang ada.


"Wah..!!, aku lihat baju model mirip seperti ini di kota harganya selangit lhoo, seneng banget aku bisa beli di sini dengan harga rendah, malahan lebih bagusan ini", ucap seorang ibu pendatang dari kota yang tak sengaja melihat lihat baju buatan Nurma.


Meskipun dia sudah menjadi seorang pemilik butik, ia tetap mau menjahit dengan tangannya sendiri dan mau menerima pesanan jahitan sesuai permintaan pembeli.


Kring....


kring....


"Dengan butik Nurma, ada yang bisa saya bantu..??", seru Nurma menanggapi panggilan telfon yang ada.


Seakan Nurma tak percaya mendengarnya.


Ia langsung tersenyum bahagia dan tak sabar ingin mencari mbak Sri.


"Iya terima kasih, saya akan segera memprosesnya", ucap Nurma menutup panggilan telfonnya dan segera menemui ibu angkatnya.


"Astaga..!!, kenapa nak..??", seru mbak Sri terkejut ketika ia seketika di peluk oleh Nurma dari arah belakang.

__ADS_1


"Alhamdulillah buk, usaha kita membuahkan hasil", seru Nurma mengutarakan kebahagiannya.


"Iya nak, alhamdulillah ibu juga tau, kita udah punya butik, udah bisa punya karyawan sekarang", ucap mbak Sri menanggapi perasaan senang Nurma.


"Buk, bukan itu maksudku, barusan Nurma dapat telfon dari seseorang, dan ibu tau.., itu dari orang Singapura, dia ingin memesan baju baju buatan kita secara besar besaran buk...!!", seru Nurma kegirangan.


"Masyaallah...!!, beneran nak..??, tapi bagaimana bisa..??, kita kan baru satu tahun ini memulainya", ucap mbak Sri tak percaya.


"Aku juga gak nyangka buk", ucap Nurma semakin kegirangan.


"Selamat ya nak, ibu bangga sama kamu", ucap mbak Sri sembari memeluk Nurma.


"Aku gak salah dengar mbak...??, hebat banget ya..??", seru seorang pelanggan yang mendengar percakapan antara Nurma dan mbak Sri.


"Saya jadi semakin gak respek sama si Puja, wanita berbakat kayak Nurma di fitnah kayak dulu sih..!!, ngaco dia" ucap seorang pelanggan yang lain.


"Iyaa, mungkin dia iri saja sama si Nurma", timpal seorang pelanggan.


"Udah gak apa apa buk, yang penting sekarang semuanya sudah jelas, dan rejeki saya juga malah bertambah lancar", ucap Nurma dengan senyumnya yang selalu nampak menawan.


Sementara di kejauhan, Puja semakin geram melihatnya.


Reputasinya semakin buruk karna ulahnya sendiri.


"Beraninya mereka menghinaku secara terang terangan.., awas aja ya...!!, terutama untuk kamu Nurma....!!", ucap Puja bergegas menghampiri Nurma.

__ADS_1


"Dasar...!!", seru Puja menampar pipi Nurma.


"Mbak jangan lancang ya...!!", seru Nurma tak terima.


"Apaan semua ini...!!", seru Puja mengobrak ngabrik tempat itu hingga para pelanggan mencoba memegangi tubuh Puja yang terus menggila.


"Hentikan...!!", ucap Nurma menampar pipi Puja.


Seketika mereka semua terdiam.


Terutama Puja, ia tak menyangka ada yang berani menamparnya.


"Aku seperti ini karna usaha ku, dan kamu juga seperti ini juga karna ulah mu sendiri...!!, kamu tak mau di hina bukan...!!, aku pun sama...!!", seru Nurma sudah sangat geram dengan semua tingkah Puja yang terus mengusiknya.


"Aku jauh lebih baik darimu..!!, jadi jangan pernah sama kan aku denganmu...!!", seru Puja meludah di samping Nurma.


"Lebih baik kamu pergi dari sini...!!", seru Nurma.


"Jangan pernah mengusirku...!!, aku tak akan begini kalau kamu tak datang ke desa ini dan merebut Boy dari ku...!!", seru Puja tak sadar telah terlalu banyak berbicara.


Membuat Nurma bahkan warga yang ada di sana tercengang.


"Kalau suka bilang saja Puja, gak usah musuhin orang sampai segitunya, memalukan nama orang tua mu saja", seru seorang warga membuat Puja malu.


Seketika Puja bergegas pergi dari sana membawa rasa sakit hati yang kian dalam pada Nurma karna ia merasa telah di permalukan hari itu.

__ADS_1


__ADS_2