
Semakin hari, hubungan antara Kiandra dan Boy terus merenggang.
Boy lebih sering bersama bayi Ema saat ia pulang dari bekerja.
Terlebih Kiandra hampir setiap hari pulang larut malam dan semakin membuat Boy kesal.
"Kamu yakin Boy, mau urus Ema sendiri?, aku bisa kok handel semua nya sampai Kiandra pulang nanti," ucap Puja lagi lagi mencari muka di hadapan Boy.
"Gpp kok, lagian Ema itu anak ku, lelah ku bekerja ya untuk dia, gak adil kalau aku jadiin itu alasan untuk tak menyisihkan waktu ku untuk merawat nya" sahut Boy menggendong bayi Ema kembali masuk ke rumah besar.
Saat melihat Boy sudah hilang dari pandangan nya.
Puja langsung bernafas lega seakan beban nya berkurang.
"Dari tadi kek!, capek tau ngurus Ema terus!, lagian suster kemana sih!, giliran ngurus malah ngilang!, mau makan gaji buta dia!," ketus Puja sembari masuk ke dalam Paviliun.
Sementara di halaman depan.
Mobil Kiandra nampak baru saja memasuki halaman rumah.
"Duh!, Ema, maafin bunda ya!," seru Kiandra segera bergegas masuk ke dalam rumah.
Namun langkah nya terhenti saat melihat Boy tengah sibuk bercanda dengan bayi Ema.
"Kamu dah pulang sayang?," tanya Kiandra mencoba menggendong bayi Ema.
"Kamu gak sadar ini jam berapa?," seru Boy kesal.
"Maaf, tapi tadi ada urusan mendadak," sahut Kiandra mencoba menjelaskan.
"Kasihan Ema sayang!, berulang kali aku ingetin kamu!," keluh Boy larut dalam rasa marah nya.
"Ya udah, biarin aku yang nidurin Ema, kamu istirahat aja," sahut Kiandra mencoba tetap sabar menghadapi amarah sang suami.
"Gak usah!, biar suster aja yang handel," ketus Boy menyerahkan bayi Ema kepada sang suster.
Seketika, Boy langsung meninggalkan Kiandra begitu saja.
"Sabar ya nyonya," ucap sang suster mencoba menghibur Kiandra.
"Aku gpp kok sus," sahut Kiandra sembari mencium bayi Ema.
Hanya bayi Ema lah penguat nya kala itu.
Sementara Queen dan bu Rara yang melihat kejadian itu merasa begitu bahagia.
"Jarang jarang kita lihat sinetron senyata ini ya Queen," ucap bu Rara dari kejauhan.
"Iya mi, sering sering aja kayak gitu, sampek cerai aja sekalian!, biar cepet pergi mereka berdua dari rumah kita," sahut Queen lebih merasa bahagia lagi.
------
Malam itu, untuk pertama kali nya Boy dan Kiandra tidur dengan beradu punggung.
Tanpa pelukan dan tanpa kecupan sebelum tidur seperti biasa nya.
Sampai larut malam pun, mereka sebenar nya tak saling bisa tidur secara nyenyak.
__ADS_1
Tiba tiba, seruan sang suster membuat mereka berdua segera bergegas bangun.
Boy segera berlari membuka pintu kamar nya dan melihat sang suster sudah berdiri gelisah di depan pintu kamar.
"Kenapa sus?," tanya Kiandra seketika.
"Ema baik baik aja kan?," tanya Boy gelisah.
"Non Ema!, dia panas banget badan nya, nangis terus dari tadi, udah dari pukul 9 tadi gak mau nyusu," seru sang suster membuat Boy bergegas menuju ke kamar Bayi Ema.
"Kenapa baru bilang sekarang sih sus!," sentak Kiandra ikut bergegas ke kamar bayi Ema.
Nampak Boy segera menggendong bayi Ema dan mencoba menenangkan tangis nya.
"Sini Boy, biar aku kompres," ucap Kiandra mencoba mengambil bayi Ema dari dekapan Boy.
"Sus!, tolong ambilin kompres!," seru Boy tanpa menghiraukan Kiandra.
Mendapat perintah dari tuan nya, sang suster malah menatap ke arah Kiandra.
Kiandra hanya memberi isyarat pada sang suster agar melaksanakan perintah dari Boy.
Dengan tergopoh gopoh, sang suster segera mengambil ari hangat serta kain kompres dan segera menyerahkan nya pada Boy.
Namun nampak nya cara Boy mengompres bayi Ema kurang tepat hingga membuat bayi Ema terus saja menangis dan merasa tak nyaman bersama sang ayah.
"Dia harus minum obat Boy," ucap Kiandra lagi lagi tak di hiraukan oleh Boy.
"Sus, tolong panggil Puja!," perintah Boy membuat Kiandra dan sang suster amat terkejut mendengar nya.
"Puja?," sahut Kiandra heran.
"Tapi tuan," seru sang suster keberatan.
"Panggilin Puja sesuai perintah tuan Boy sus," seru Kiandra membuat sang suster semakin bingung dengan sikap Kiandra yang tak mau meluruskan permasalahan nya dengan sang suami.
Dengan cepat, sang suster berusaha menuju ke Paviliun dan mencoba membangunkan Puja.
"Berisik!," sentak Puja sembari membuka pintu Paviliun.
"Biasa aja mbak!, aku di suruh tuan kemari," seru sang suster membuat raut wajah kesal Puja berubah menjadi senang.
"Jam segini?, Boy cari aku sus?," seru Puja kegirangan.
"Hus!, mikirin apa mbak!, tuan Boy manggil mbak buat bantu ngurus non Ema, dia lagi demam," seru sang suster.
"Urus Ema!, jam segini?, ada Kiandra kan!, biar dia aja yang ngurus," sentak Puja kembali dengan raut wajah kesal.
"Justru nyonya Kiandra yang nyuruh saya kesini, ayo lah cepet!, keburu hujan!," sentak sang suster menarik tangan Puja meskipun Puja terus saja menolak.
Sementara hujan mulai turun dengan deras nya.
Namun bayi Ema tetap menggigil karna suhu tubuh nya yang semakin tinggi.
"Dok, bisa dokter kemari?, putri saya sedang demam tinggi," seru Boy mencoba menghubungi dokter.
📱"Maaf pak, butuh waktu untuk saya ke rumah bapak, hujan begitu deras, saya sarankan untuk memberi putri bapak obat demam dan kompres terlebih dulu," ucap sang dokter.
__ADS_1
"Baik, saya tunggu," sahut Boy menutup panggilan telfon nya.
Tak berselang lama.
Sang suster berhasil datang membawa Puja ke hadapan Boy.
"Puja, bisa tolong kompres Ema, dia demam," seru Boy langsung bergegas memberikan bayi Ema ke pelukan Puja.
Puja yang begitu bingung harus melakukan apa, mencoba mengompres bayi Ema sebisanya.
Namun cara nya mengompres pun tidak jauh beda dengan cara salah yang dilakukan Boy beberapa saat lalu.
"Nyonya?," ucap sang suster menegur Kiandra, namun Kiandra tetap memperhatikan kelanjutan drama Puja di hadapan Boy.
Melihat kekakuan Puja, Boy bingung bagaimana semua yang dilakukan Puja itu bisa menolong sang putri.
"Tuan, non Ema butuh obat," ucap sang suster memecah keheningan.
"Bener Boy!, kasihan Ema," seru Puja meyakinkan.
"Ya sudah!, kamu kan yang urus semua nya, cepet ambil obat Ema!," seru Boy membuat Puja kembali kebingungan.
Puja terus berjalan mondar mandir membuka semua laci dan almari baju bayi Ema untuk mencari keberadaan obat bayi Ema yang sama sekali ia belum pernah tahu.
Segera Kiandra bergegas membuka sebuah laci sudut dan mengambil sekotak obat milik bayi Ema.
"Nih ,obat nya," ucap Kiandra menyodorkan sekotak obat ke hadapan Puja.
Membuat Boy semakin heran dengan semua yang ia saksikan.
"Puja?, ayo berikan obat Ema!," ucap Boy membuat Puja semakin gugup.
Dengan bercucuran keringat dingin, Puja mencoba memilih obat yang tepat untuk bayi Ema.
"Nih Boy," seru Puja seketika tangan nya di tepis oleh Kiandra saat itu juga.
"Itu obat diare, anak ku sedang demam bukan diare,!" seru Kiandra membuat Boy tercengang.
"Bagus nyonya, hajar nyonya!, ucap lirih sang suster dari kejauhan.
Dalam sekali tatap, Kiandra langsung mengenali obat mana yang harus ia ambil dari kotak obat.
Sembari membenarkan kompres sang putri.
Dan mencoba menenangkan tangis nya.
Kiandra mencoba meminumkan obat bayi Ema sesuai takaran nya.
Kiandra terus menimang bayi Ema dan mengompres nya terus menerus di kening, lipatan tangan dan di area perut bayi Ema.
Bahkan bayi Ema tak memberontak saat di rawat oleh Kiandra.
Ia bahkan langsung tertidur pulas di dekapan sang bunda.
Melihat kelihaian Kiandra dalam mengurus putri nya.
Boy seketika menatap Puja dengan penuh amarah.
__ADS_1
Tak ku sangka, ini semua cuma permainan Puja untuk membuat hubungan ku dengan Kiandra retak, bodoh nya aku!, batin Boy sadar telah di tipu oleh permainan licik Puja.