Kiandra

Kiandra
Selangkah lebih maju


__ADS_3

Mbok Suti terdiam.


Ia pandangi kunci terakhir yang belum ia coba.


Maafkan mbok non, mbok hanya bisa mengulur waktu selama ini, gumam mbok Suti dalam hati.


"Lama amat sih...!!", seru seorang preman mengambil kunci terakhir dari tangan mbok Suti.


"Maaf", ucap mbok Suti ketakutan.


Klek, klekk......


Saat pintu terbuka, mbok Suti mencoba menundukkan kepalanya.


Ia tak sanggup jika pak Hatta melihat Kiandra dan Boy masih di dalam.


"Heh...!!!, kamu gak masuk...!!, bikinin aku minuman kek.., haus nih...!!", seru seorang preman.


"I, iya...", ucap mbok Suti sembari mencuri pandang ke arah terakhir ia meninggalkan Kiandra dan Boy.


Alhamdulillah, mereka dah pergi, gumam mbok Suti dalam hati sembari berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan minuman untuk pak Hatta dan para preman nya.


Sementara pak Hatta, berjalan sembari memandang kesekeliling.


Ia merasa aneh karna banyak barang barang yang bergeser dari tempatnya yang seharusnya.


Tapi ia tetap terus berjalan sampai menuju ke perapian.


"Silahkan minuman nya...", ucap mbok Suti meletakkan 3 gelas air dingin dan beberapa makanan ringan untuk pak Hatta serta preman preman nya.


Kemudian fokus mbok Suti teralihkan pada pagar perapian yang sudah kembali terpasang dengan rapi seperti semula.

__ADS_1


Terima kasih Boy, kamu sudah memperbaiki nya sebelum pergi, gumam mbok Suti dalam hati sembari mengelus dada nya.


Tapi ia kembali tegang setelah pak Hatta menyuruhnya untuk mendekat.


"Kenapa barang barang tak tertata seperti biasanya....??, mbok gak lupa membersihkannya setiap hari bukan...??", ucap pak Hatta.


Mbok Suti amat terkejut, ia tak menyangka pak Hatta akan peka terhadap barang barang pajangan rumah yang telah di ulak alik oleh dirinya beserta Kiandra dan juga Boy.


"Maaf sekali lagi pak, saya sudah memiliki cucu, dan biasanya dia bermain di sini, ketika saya merapikan kembali, saya tak menaruh barang barang itu dengan benar di tempatnya semula", ucap mbok Suti mencari cari alasan yang paling logis.


"Kamu tata seperti kesukaan saya, saya tak mau semuanya berubah", ucap pak Hatta duduk di depan perapian.


"Baik pak", ucap mbok Suti tetap diam di tempatnya berdiri.


"Kamu ngapain masih di sini..!!, cepat pergi..!!", ketus pak Hatta pada mbok Suti.


Mbok Suti segera pergi dari sana, tapi ia masih mencoba mengintip pak Hatta dari jendela luar.


"Aduh...!!, mati aku...!!, pasti pak Hatta sedang mencari dokumen itu", ucap mbok Suti amat ketakutan.


Tak berselang lama, kedua preman itu sudah membawa perkakas yang di minta pak Hatta.


Dengan cepat mereka segera membongkar pagar perapian seperti yang di perintahkan.


"Sekarang buka dasarnya...!!", ucap pak Hatta.


Aduh...!!, gimana ini..!!, gumam mbok Suti dalam hati.


"Ini bos", ucap salah satu preman memberikan beberapa lembar dokumen pada pak Hatta.


Mbok Suti yang melihat dokumen itu nampak syok.

__ADS_1


Ya ampun non...!!, kenapa bukti itu di kembalikan..!!, gumam mbok Suti kecewa karna usaha mereka akan sia sia.


"Untung masih aman", ucap pak Hatta lega.


"Kenapa bos mengambil dokumen itu..??", ucap salah seorang preman penasaran.


Karna yang ia lihat, tempat itu sudah sangat aman untuk dokumen penting seperti itu.


"Aku punya firasat tak enak setelah munculnya Nurma, aku harus mengamankan semua yang bisa aku amankan", ucap pak Hatta bergegas pergi dari sana.


"Heh nenek tua..!!, jaga baik baik tempat ini", seru seorang preman saat melewati mbok Suti yang berpura pura menyapu halaman depan saat pak Hatta dan kedua premannya melintas.


"Hati hati pak", ucap mbok Suti saat pak Hatta memasuki mobil dan berlalu pergi.


Setelah kepergian pak Hatta, mbok Suti segera bergegas menuju ke rumahnya di belakang Paviliun.


Sesuai tebakannya, Kiandra dan Boy masih ada di sana.


"Sudah aman", ucap mbok Suti mengunci pintu depan.


"Syukurlah", ucap Nurma alias Kiandra merasa lega.


"Gimana sih non...??, mbok gak habis pikir, kenapa kalian malah meninggalkan dokumen itu di sana, sekarang kita kehilangan bukti itu, pak Hatta sudah membawanya pergi", keluh mbok Suti meneguk segelas air putih dengan cepat, seakan dirinya sangat haus dan gelisah saat itu.


"Maksud mbok ini...??", seru Boy menunjukkan dokumen asli milik pak Hatta.


Tangan mbok Suti segera mengambilnya dan membacanya dengan seksama.


"I, ini...??, bagaimana bisa...??, mbok lihat sendiri kalau dokumen ini sudah di bawa pergi oleh pak Hatta", seru mbok Suti heran.


"Ini berkat Boy mbok, dia dengan sigap menggunakan printer yang mbok simpan di almari kaca di sudut ruangan di dalam Paviliun", ucap Nurma memuji akal Boy.

__ADS_1


"Syukurlah...!!, mbok senang mendengarnya, kalian bisa selangkah lebih maju dari pak Hatta, semoga ini awal yang baik untuk kalian", ucap mbok Suti memeluk Nurma dan Boy dengan girangnya.


__ADS_2