
Pagi itu selesai sarapan.
Ketika Nurma sedang berberes rumah, ia tak sengaja menemukan sebuah mesin jahit di sudut ruangan.
Karna penasaran, ia mendekatinya dan mengecek kondisinya.
"Buk, ini mesin jahit ibuk..??", Ucap Nurma mengecek kondisi mesin jahit di depannya.
"Iyaa, dulu sebelum ibuk bekerja di rumah bapak, ibuk jadi penjahit, tapi karna sepi peminat akhirnya ibuk merantau ke kota", ucap mbak Sri membuka kotak peralatan jahitnya yang tersisa.
Dengan penuh semangat, Nurma membersihkan dan mencoba alat jahit mbak Sri.
Karna melihat kemahiran dari Nurma, mbak Sri seketika takjub melihatnya.
Sejak saat itu, ia mulai mengasah keahlian menjahitnya, Nurma kemudian bertekad menjadi penjahit untuk membantu perekonomian bu Sri, lebih baik lagi jika bu Sri tidak harus bekerja lagi di kebun teh.
Kiandra memang sengaja tak mengandalkan kekayaan sang ayah, ia sangat menghargai identitas barunya sebagai Nurma.
Mula mula, ia membuat berbagai desain baju santai yang mungkin di sukai warga desa, terkesan santai dan bisa di pakai selama rutinitas di rumah.
Bahkan ia menjajakan baju baju buatannya keliling desa.
Dalam beberapa hari pertama, hanya gunjingan yang di dapat Kiandra alias Nurma saat menawarkan barang dagangannya.
__ADS_1
"Apaan nih ....??, gak usah kamu tunjukin ke kita pasti kita juga udah tau kalau bajumu itu jelek jelek kayak asal usul mu...!!", ketus seorang warga melempar baju baju buatan Nurma.
"Bagaimana ibuk bisa tahu kalau tidak melihatnya dahulu...??", seru Nurma memunguti baju baju nya di tanah.
"Ya tahu lah..!!, lihat mukamu saja kita sudah tahu kalau barang mu tuh jelek.....!!", ketus seorang warga lainnya makin mengobrak ngabrik baju baju dagangan Nurma.
Nurma mencoba menarik nafas dan tak menghiraukan perkataan mereka.
Mereka sebenarnya baik, tapi karna sebuah fitnah, mereka menjadi menggila seperti itu.
Kalau bukan karna hasutan dari fitnah yang merusak nama baikku, sudah ku balas perbuatan mereka.
"Lihatlah buk...!!!, apakah ini masih nampak jelek seperti asal usul ku...??", seru Nurma mencoba terus mendapat kepercayaan mereka lagi dengan menunjukkan model baju yang ia buat dengan sejelas mungkin.
"Mata ku gak salah lihat nih...??", bisik seorang warga kepada yang lain.
"Iyaa..!!, gimana kok baju bisa sebagus itu..??", bisik seorang warga lagi.
"Gimana buk...??", seru Nurma mencoba menawarkan kembali barang dagangannya.
Tanpa berkata apapun, mereka meninggalkan tempat itu.
"Ya sudahlah..!!, toh aku sudah berusaha", seru Nurma terus menjajahkan dagangannya bahkan di desa desa tetangga.
__ADS_1
Tapi lambat laun, mereka tertarik akan promosi Nurma yang menarik, bahkan baju bajunya yang terlihat sangat cantik di pandang mata.
Terlebih setelah Boy secara terang terangan telah menunjukkan surat adopsi asli milik Nurma yang ia buat untuk membersihkan nama Nurma.
Meskipun di desa kebanyakan menggunakan sistem kredit, Nurma tetap telaten membangun usahanya dari nol.
Terkadang ada beberapa warga yang setelah mengambil barang tapi berlagak lupa dengan hutang dan cicilannya terhadap Nurma.
"Biarin Boy, hidup aku jauh lebih beruntung di banding mereka, hitung hitung beramal", ucap Nurma beristirahat di bawah pohon yang rindang bersama dengan Boy.
"Tapi Nurma, kamu bisa bangkrut", ucap Boy memperingatkan.
"Sudahlah, rejeki sudah ada yang mengatur, aku tak akan bangkrut hanya dengan membantu orang lain yang mungkin saja tak ada uang untuk membayar hutangnya padaku, kita bahkan tak tahu, demi makan hari ini apakah mereka ada uang atau tidak", ucap Nurma sembari mengusap peluh di dahinya.
Sesaat Boy terdiam, ia menatap kagum sosok wanita dihadapannya, wanita yang tak pernah hidup susah selama hidupnya, kini harus menjalani hidup sebagai seorang gadis desa dan harus mencari pundi pundi uang tanpa mengenal lelah, walaupun ia sebenarnya memiliki kekayaan yang melimpah ruah.
Tak membutuhkan waktu lama, Nurma berhasil menarik peminat dari berbagai desa tetangga.
Baju bajunya bahkan habis di pesan beberapa tengkulak yang akan menjualnya lagi di kota.
Sejak saat itu, tekad kecilnya untuk membuat mbak Sri berhenti bekerja akhirnya terwujud.
Mereka bekerja sama merancang dan menjahit baju untuk mengumpulkan pundi pundi uang.
__ADS_1
Bahkan dalam setahun saja, Nurma dan mbak Sri bisa membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.