Kiandra

Kiandra
Sebuah peringatan


__ADS_3

Karna merasa Nurma semakin tak menghargai dirinya, suatu hari Puja menyekapnya dan memberi Nurma pelajaran agar tak berani mendekati Boy lagi.


"Awhhhh...!!, kenapa kepalaku sakit sekali..??", ucap Nurma mulai mendapatkan kesadarannya lagi, setelah beberapa saat lalu ia telah pingsan akhibat benturan keras dari seseorang pada bagian punggungnya.


"Tangan ku...!!, kenapa tangan ku di ikat...?..", ucap Nurma sembari memandang ke sekeliling nya.


"Di mana aku..??, siapa yang berani melakukan ini padaku...??", seru Nurma mencoba melepaskan diri dari tali yang mengikat tubuhnya.


Tiba tiba pintu ruangan itu di buka dari arah luar.


Terlihat 3 orang lelaki dengan badan cukup kekar mendekatinya sambil tertawa.


"Siapa kalian..??", seru Nurma seperti biasa tak kenal rasa takut.


"Panggil aak juga boleh kok", seru salah satu lelaki itu sembari tertawa bersama kedua rekannya.


"Aku bertanya...!!!, jangan bertele tele, dan apa alasan kalian memperlakukanku begini...??", seru Nurma tanpa basa basi.


"Heh..., banyak bac*t...!!!, untung cantik, kalau gak udah ku tampar dari tadi..!!", ucap salah satu lelaki yang lain dengan meremas pipi Nurma.


"Gimana kalau kita sikat aja bos...!!", seru yang lain sembari mencolek bibir Nurma yang ranum.


"Jauhkan tangan mu dari ku..!!, atau kau akan menyesal", ucap Nurma memperingatkan.


"Ayo sikat dah..!!, lama...!!", seru salah satu dari mereka sudah merasa amat bernafsu.


"Stop...!!, urusanku harus selesai dulu dengannya, baru terserah kalian mau apa", seru sebuah suara terdengar dari arah luar ruangan.

__ADS_1


"Lancang...!!, kamu kira aku ini apa...??", teriak Nurma marah.


Sesaat kemudian, Nurma terbelalak tak percaya dengan apa yang matanya lihat.


"Mbak Puja...??", seru Nurma tak percaya.


"Ya...!!, dan aku perlu buat perhitungan denganmu...!!", seru Puja yang sekarang telah berada di hadapan Nurma.


"Aku memang tahu kau membenciku, tapi aku tak menyangka kamu bisa melakukan semua ini..??, rendah sekali dirimu..!!", ucap Nurma menatap tajam ke arah Puja.


"Hei, hei, hei...!!, sekarang aku yang memegang kartumu, kamu masih bisa mencela ku...??, apa kamu tak takut aku akan melakukan lebih dari ini padamu..??", ucap Puja yakin bahwa dirinya lah yang kini memegang hidup dan mati Nurma.


Sementara tanpa diketahui Puja dan para preman suruhannya.


Para pengawal Nurma telah siap siaga di luar ruangan.


Tetapi mereka bertindak tak tergesa gesa, mereka masih mencoba menunggu perintah dari majikannya.


Itu mereka lakukan agar identitas tersembunyi bos nya tidak terbongkar.


Dengan masih tetap dengan penyamaran mereka sebagai warga biasa.


Mereka mengendap ngendap mengintip situasi di dalam ruangan bos mereka berada.


"Aku perintahkan, lepaskan aku...!!", seru Nurma, tetapi malah ditertawakan oleh Puja dan para premannya.


"Apa...??, aku gak dengar tuh...??, aku minta ya sama kamu, jangan pernah dekati Boy lagi atau aku kirim kamu ke tempat pelacuran", ucap Puja sembari menunjuk nunjuk muka Nurma.

__ADS_1


"Aku sudah memperingatkan berulang kali", ucap Nurma menekan tombol tersembunyi dicincinnya untuk memberi isyarat pada para pengawalnya agar bersiap memberi pelajaran bagi Puja dan rekannya.


Tanpa membuang buang waktu, mereka mendobrak pintu ruangan itu dari luar.


Terjadi perkelahian antara para preman Puja dan para pengawal Nurma.


"Si, siii, siapa kalian...??", seru Puja ketakutan melihat para premannya seakan bukan tandingan mereka.


"Sebentar lagi giliran muka mu berdarah seperti mereka kalau kamu tak segera melepaskan Nurma..!!", seru pengawal Nurma yang terus menghajar preman preman suruhan Puja.


"Ke, kenapa, aku harus menurutimu...??", ucap nya masih berharap para premannya bisa mengalahkan para lelaki yang datang menolong Nurma itu.


Tapi sesaat kemudian, satu preman Puja pingsan, dan dua yang lain lari dengan terbirit birit, membuat Puja semakin ketakutan.


"Apa harus ku ulangi permintaanku..??", ucap salah satu pengawal Nurma, membuat Puja gemetar ketakutan dan segera melepas ikatan di tubuh Nurma.


Sedangkan Nurma hanya tersenyum kecil melihat Puja yang amat ketakutan hingga tubuhnya tak henti hentinya gemetar.


Setelah ikatan Nurma telah terbuka, Puja segera lari tunggang langgang pergi dari tempat itu.


"Bos tak apa...??", tanya seorang pengawalnya.


"Aku tak apa apa...??, thanks ya, kerja kalian bagus..!!", seru Nurma menepuk bahu para pengawalnya.


"Kami akan selalu mengawasi bos selama bos ada di sini", ucap para pengawal Nurma sembari mengantar Nurma kembali ke rumah mbak Sri.


Pasti ibu dan Boy sangat cemas mencariku, gumam Nurma dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2