Kiandra

Kiandra
Siapa orang nya!.


__ADS_3

"Pak Romi, hari ini anda sudah boleh pulang," ucap sang dokter saat melakukan pemeriksaan rutin hari itu.


"Alhamdulillah, terima kasih dok," sahut nyonya Fena seorang diri, karna hanya diri nya lah yang menemani Romi selama 5 hari perawatan di rumah sakit.


Bahkan Kiandra pun tak ia perbolehkan masuk menjenguk sahabat nya itu.


"Mami beresin semua pakaian kamu ya," seru nyonya Fena bersemangat.


"Tunggu mi!, sebelum aku pulang, tolong jawab sekali saja, gimana kondisi Queen?," seru Romi membuat senyum nyonya Fena memudar.


"Sudah mami bilang!, jangan sebut nama itu lagi!, apa gak ada wanita lain yang lebih baik dari dia Rom!," sentak nyonya Fena kesal.


"Sejak aku siuman, mami gak pernah jawab sekalipun pertanyaan aku, dan seburuk buruk nya dia mi, dia tetap ibu dari cucu mami," sahut Romi membuat nyonya Fena semakin emosi.


"Mami sudah jelaskan ya sama kamu!, mami gak ada hubungan sama sekali sama dia!, dan mami tegaskan sekali lagi!, mami tak mengakui siapapun menjadi cucu mami!, paham!," sentak nyonya Fena memilih keluar dari ruang rawat sang putra.


"Jika aku bisa berjalan, aku akan cari tahu sendiri mi," ucap lirih Romi sembari memukul kedua kaki nya yang telah di nyatakan lumpuh oleh dokter.


-------


Sementara di ruang rawat Queen.


5 hari itu menjadi hari yang begitu lama bagi keluarga nya, terutama untuk bu Rara sendiri.


Pasal nya, Queen tak sekalipun membuka mata nya sejak hari ia di operasi.


Bu Rara dengan berderai air mata, selalu setia menyeka sang putri dan menyisir rambut nya.


"Putri mami yang cantik, bangun sayang, sudah 5 hari kamu tak menatap mami mu ini," ucap lirih bu Rara sembari menatap lekat lekat wajah sang putri yang pucat dan tak bergerak dalam 5 hari terakhir.


"Kita serahkan semua nya kepada Allah dan tim dokter tante," seru Kiandra juga tak bosan mendampingi bu Rara di saat terpuruk nya.


Menatap Kiandra, bu Rara mengingat kesigapan nya merawat Ema yang jelas jelas ia sudah tahu bahwa itu adalah anak Queen, sepupu yang selalu membuat nya menderita.


Terbesit juga ingatan saat Kiandra berusaha keras memberikan yang terbaik untuk Queen dari segi obat, pelayanan bahkan tim dokter yang tak di ragukan lagi keunggulan nya.


"Terima kasih," ucap bu Rara tak kuat lagi membendung air mata nya.


"Tante?, tante kenapa nangis?," seru Kiandra mencoba memapah bu Rara untuk duduk di sofa.

__ADS_1


"Tante sama Queen udah banyak salah sama kamu, mungkin ini hukuman bagi kami Kin," seru bu Rara begitu tulus mengucapkan nya, hingga Kiandra tak bisa menahan air mata nya.


"Sudahlah tante, keluarga Kiandra hanya kalian, jadi lupakan masa lalu, Kiandra udah lupain semua nya," ucap Kiandra menatap bu Rara yang begitu kurus kering dan nampak begitu menyesal dengan sebuah teguran yang Allah berikan pada nya.


Paman, akhir nya tante berubah sesuai keinginan kita, semoga mereka tak kembali membenci Kiandra saat tahu kenyataan tentang paman, batin Kiandra menyeka kembali air mata nya.


Tak berselang lama, Queen mulai terlihat menggerakkan jari jemari nya.


"Masyaallah!, dokter!," teriak Kiandra bergegas mencari bantuan.


Sementara bu Rara segera bergegas memeriksa kondisi sang putri selagi dokter bergegas menuju ke arah mereka.


"Sayang, bangun nak, lihat mami!, buka mata kamu!," seru bu Rara dengan perasaan bahagia dan juga was was.


Pasal nya ia mendengar dari para suster, bahwa Romi telah di nyatakan lumpuh meskipun ia tidak melewati koma dan operasi apapun. Ia berfikir kondisi Queen akan jauh lebih parah dari itu.


"Kamu harus kuat Queen!, kamu harus sehat," seru bu Rara mencoba memancing kesadaran Queen.


------


"Kamu bangun sayang," seru bu Rara begitu bahagia dengan mengecup dahi Queen berulang ulang kali saat Queen benar benar tersadar sepenuh nya dari koma.


"Makasih mi," ucap lirih Queen masih mencoba mengontrol tubuh nya.


Namun raut para dokter seakan masih menyembunyikan sesuatu.


"Dok, apa ada hal lain yang mau dokter sampaikan?," tanya Queen sembari menguatkan tubuh nya untuk duduk.


"Gak ada kok sayang, ya kan dok," sahut bu Rara seakan ikut menutupi sesuatu.


"Jangan bohong!, aku bisa tuntut kalian!," ancam Queen meskipun dalam kondisi yang masih sangat lemah.


"Dokter boleh pergi, biar kami yang jelaskan pada nya nanti," seru Kiandra membuat Queen menatap tajam ke arah nya.


"Bisa gak, kamu pergi jauh jauh dari aku!," sentak Queen seketika.


"Queen!," seru bu Rara mencoba meredam emosi Queen.


"Wah hebat!, baru 5 hari aku koma, mami ku juga udah kamu pengaruhi, iya!," sentak Queen lagi.

__ADS_1


"Cukup Queen!, mami bilang cukup!, jika tak ada Kiandra kamu mungkin sudah mati saat ini!," seru bu Rara mulai menangis.


"Aku lebih baik mati mi!, dari pada lihat wajah mereka lagi!," sentak Queen langsung membuat bayi Ema menangis.


"Kamu boleh benci sama aku, tapi jangan sama Ema, dia darah daging kamu," ucap Kiandra sembari menenangkan bayi Ema di pelukan nya.


"Persetan dengan dia!," sentak Queen langsung membuat satu tamparan mendarat di pipi nya.


"Apa kamu sadar dengan ucapan mu Queen?," seru bu Rara dengan tangan yang masih bergetar setelah menampar sang putri.


"Aku sangat sadar mi!. Aku gak perduli sama dia!, jika mami mau, aku akan secepat nya menikah dengan pria impian aku dan aku akan kasih mami cucu," seru Queen membuat Kiandra dan bu Rara tersayat mendengar nya.


"Oh, begitu. Asal kamu tahu, sekarang kamu hanya seorang wanita cacat tanpa rahim!, katakan!, siapa lelaki yang sudi menikah dengan mu Queen!," sentak bu Rara tersulut emosi.


Kini Queen hanya terdiam mematung dengan mata berair saat mendengar kenyataan pahit itu.


"Tante!," seru Kiandra menenangkan bu Rara.


"Biar Kin!, biar dia tahu!, dia sudah cacat saat ini!, dan mau tak mau dia harus mengakui Ema sebagai anak nya!," seru bu Rara menangis dengan histeris nya.


"Apa yang mami bicarakan?, hah!," sentak Queen histeris sambil memegangi perut nya.


"Dokter telah mengangkat rahim mu untuk menyelamatkan mu Queen," ucap bu Rara tak lagi sudi menatap wajah putri nya.


"Kenapa!, siapa orang nya!, siapa yang berani buat keputusan itu tanpa seizin ku!," teriak Queen semakin histeris.


Hingga tatapan nya langsung mengarah kepada Kiandra.


"Pasti kamu kan!, dasar wanita pembawa sial!, belum cukup kamu usik hidup ku hah!, teriak Queen mencoba berjalan mendekati Kiandra meskipun dengan langkah kaki yang belum bisa ia kontrol.


"Hentikan Queen!, jaga sikap mu!," seru bu Rara mencegah Queen berbuat nekat.


Hingga para suster berbondong bondong masuk ke ruangan Queen saat mendengar kegaduhan itu.


"Sus!, cepat ambil suntikan penenang!," seru seorang suster kepada rekan nya.


"Lepaskan aku!, aku mau buat perhitungan dengan nya!," teriak Queen hingga sebuah suntikan berhasil menembus lengan nya.


Dan membuat Queen perlahan lahan kehilangan kesadaran nya lagi.

__ADS_1


__ADS_2