
"Kalian cari sebelah sana....!!", ucap seorang polisi yang masih berusaha menemukan pak Hatta.
3 hari sudah pencarian dilakukan, namun polisi belum bisa menemukan pak Hatta yang saat itu sudah berstatus menjadi tersangka.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan polisi sudah menyerah dengan pencarian nya.
"Selamat sore buk, apakah ibuk pernah melihat orang ini..??", tanya seorang polisi menyodorkan sebuah foto pada nya.
"Tidak, saya tidak pernah melihatnya", ucap wanita itu sambil merangkul kedua anak nya.
"Ibu yakin...??, karna dia merupakan buronan, dan di sebrang hutan ini hanya ada rumah ibuk, saya takut ia memakai rumah ini sebagai perlindungan.
Wanita itu nampak tak bereaksi mencurigakan, ia hanya sekedar menjawab saat polisi melontarkan pertanyaan pertanyaan nya sambil memeluk erat kedua anak nya.
"Boleh saya periksa rumah nya buk..??", ucap polisi itu masuk ke dalam rumah yang terbuat ala kadar nya itu.
Nurma masih menatap wanita itu dengan perasaan aneh dari kejauhan.
Meskipun raut wajah wanita itu sama sekali tak memperlihatkan kegundahan nya.
Tapi dari cara nya memeluk anak anak nya itu menjelaskan bahwa ia nampak cemas saat itu.
Nurma mencoba mendekati nya dan mengajak nya berbicara.
__ADS_1
"Buk, boleh saya duduk..??", ucap Nurma mencoba tak menakuti mereka.
"Silahkan, tapi maaf, rumah kami tak layak", ucap nya mempersilahkan Nurma untuk duduk di dekat nya.
"Kalau boleh saya tau, kenapa ibu tinggal di sebrang hutan...??, bukankah tak jauh dari sini masih ada perkampungan...??", tanya Nurma.
"Kami tak memiliki apapun, rumah bahkan tanah di sana, untuk membayar kontrakan rumah pun kami tak memiliki uang, di sini kami boleh membangun rumah alakadar nya sambil menjaga kebun milik tuan tanah yang berada tak jauh di hutan sana, itu juga merupakan ladang penghasilan kami mbak", ucap wanita itu menggetarkan hati Nurma.
"Berapa orang yang tinggal di sini bersama ibuk..??", tanya Nurma lagi.
"Saya, ketiga anak saya dan suami saya", ucap nya.
"Bapak masih di kebun...??", tanya Nurma mencari informasi lebih.
"Lalu anak ibu yang satu nya lagi kemana..??", tanya Nurma heran.
Seakan raut wajah yang mulai santai mengobrol dengan Nurma kini nampak tegang kembali.
"Anak saya hanya dua mbak", ucap nya.
"Bukan nya ibu bilang tiga ...??", tanya Nurma semakin heran.
Karna ia tak salah dengar saat wanita itu mengatakan bahwa anak nya ada tiga.
__ADS_1
Belum sempat wanita itu menjawab.
Polisi sudah keluar dari rumah wanita itu.
"Tidak ada tersangka di dalam mbak", ucap polisi itu sembari melanjutkan pencarian nya di luar rumah.
"Sebaiknya mbak pergi dari sini, hari mulai petang", ucap wanita itu bergegas masuk ke dalam rumah nya bersama kedua anak nya.
Ada yang aneh di sini, gumam Nurma sembari berjalan meninggalkan rumah itu.
"Stttt, diam...!!", ancam pak Hatta sembari mendekap mulut seorang gadis kecil dengan tangan nya.
"Tolong jangan sakiti anak ku...!!", ucap wanita itu memohon kepada pak Hatta yang ternyata bersembunyi di balik kayu bakar di dapur.
"Selagi kalian melindungi ku dan memenuhi makanan ku, dia akan aman", ucap pak Hatta dengan senyum licik nya.
Wanita itu hanya bisa menangis dan tak melepaskan dekapan nya dari kedua anak nya.
Sementara rombongan Nurma telah kembali ke desa terdekat dari sana untuk beristirahat.
"Maaf mbak, tapi pihak polisi sudah menyerah dengan pencarian ini, kita tak tahu apakah pak Hatta masih ada di hutan itu atau sudah kembali ke kota, kami akan kembali ke kota besok", ucap seorang polisi pergi dari hadapan Nurma.
"Kemana kira nya pak Hatta bersembunyi ya Nurma..??, aneh sekali", ucap Boy merasa heran dengan hilang nya pak Hatta.
__ADS_1
Sementara Nurma hanya terdiam, seakan ia memikirkan sesuatu yang nampak mencurigakan bagi nya.