Kiandra

Kiandra
Tertangkap nya biang masalah.


__ADS_3

"Assalamualaikum", seru Nurma sudah berada tepat di depan pintu rumah yang berada di sebrang hutan waktu itu.


Suara nya saat itu membuat seluruh penghuni rumah ketakutan.


Bahkan membuat pak Hatta kembali mencoba mendekap seorang gadis sebagai sandera nya , seorang gadis yang merupakan anak dari sang pemilik rumah.


"Mungkin mereka sedang di ladang", ucap Boy mengintip dari lubang pintu yang telah rusak itu.


"Cepat kamu temui mereka..!!, buat mereka pergi...!!", bisik pak Hatta pada sang pemilik rumah.


Dengan sigap dan ketakutan, wanita pemilik rumah segera bergegas membuka pintu depan.


Ia mencoba bersikap setenang mungkin, agar tak membuat tamu nya curiga.


"Pagi buk", ucap Nurma sembari mencuri pandang ke dalam rumah saat pintu rumah telah di buka.


Seketika itu juga wanita pemilik rumah segera menutup pintu rumah nya dari luar.


"Ada apa ya mbak..??", tanya wanita pemilik rumah.


"Saya cuma mau memberikan beberapa


sembako untuk keluarga ibuk, tanda ucapan terima kasih kami karna warga di sini menerima kami dengan baik dalam beberapa hari ini", ucap Nurma meletakkan pemberian nya di depan pintu.


"Apa kalian akan pergi dari sini...??", tanya wanita itu seakan ingin mengutarakan masalah nya pada Nurma.


Membuat Pak Hatta sedikit gelisah di tempat nya bersembunyi.


"Heh..!!, kamu...!!, cepat atasi tamu itu..!!, jangan sampai istri mu berani melaporkan ku pada mereka", ucap lirih pak Hatta mendorong seorang lelaki yang juga merupakan sang pemilik rumah.


Sementara di luar.


Wanita pemilik rumah itu masih terlihat ragu akan apa yang ingin ia utarakan.

__ADS_1


"Ibuk gpp.??", seru Boy mulai merasa ada yang aneh dengan tingkah wanita di depan nya.


"Gak ada kok mbak, saya cuma mau tanya, gimana cara nya basmi nyamuk pengganggu di kota ya..??, saya butuh sekali", ucap wanita itu sembari meremas kedua tangan nya sendiri, seakan wanita itu mencoba memberitahukan sesuatu pada Nurma.


"Buk...!!, anak kita nangis...!!, masuklah..!!!", seru suami wanita itu sembari keluar dari dalam rumah dan bergabung dengan mereka.


Wanita itu segera gugup dan langsung menuruti perintah suami nya.


"Mbak dan mas sebaiknya pergi sekarang, kami sibuk", seru lelaki itu langsung menutup pintu rumah tanpa berkata apa apa lagi.


Nurma dan Boy akhirnya hanya bisa menurut.


Tapi, berselang 2 jam kemudian.


Nurma dan Boy kembali datang mengunjungi rumah itu.


"Kamu ngapain bawa mesin Fogging segala...??", seru Boy mengikuti Nurma yang bergegas ke arah rumah di sebrang hutan itu.


Suara Nurma mengetuk terdengar sampai ke telinga pak Hatta.


"Pasti gadis kampung itu..!!, cepat kalian usir mereka..!!", ucap lirih pak Hatta lagi lagi menggertak pasutri pemilik rumah itu.


Mereka segera bergegas membuka pintu dan mencoba bersikap sewajarnya.


"Kalian mau apa lagi ke sini...??", seru lelaki pemilik rumah.


"Saya bawa pesanan ibuk pak", ucap Nurma menunjukkan alat yang ia bawa.


Si wanita segera tersenyum karna ternyata Nurma mengerti maksud dari ucapan nya.


"Buk...", ucap lelaki itu memandang ke arah istri nya dengan raut wajah ketakutan.


"Kita ikuti saja ya pak", ucap lirih wanita itu pada suami nya.

__ADS_1


"Tapi anak kita", seru lelaki itu khawatir.


"Tenang pak, kami akan tangani itu", ucap Nurma menghilangkan keraguan dari si pemilik rumah.


Wanita pemilik rumah segera menjauh dari pintu masuk bersama suami dan kedua anak nya.


Nurma segera memakai alat filter oksigen dan segera masuk ke rumah itu dengan menyemprotkan asap mesin Fogging di seluruh rumah.


"Apa ini...!!", seru pak Hatta mulai terbatuk batuk dan keluar dengan sendiri nya dari tempat persembunyian nya selama ini.


"Ketemu..!!!......, Boy.., cepat kamu tolong anak itu..!!", seru Nurma terus menyemprotkan asap ke arah pak Hatta, membuat pak Hatta tak ada pilihan lagi selain berlari keluar rumah.


Sedangkan Boy segera menolong anak pemilik rumah dan memberinya selang oksigen agar efek kebulan asap segera hilang dari tubuh nya.


Segera para polisi yang sedari tadi bersembunyi di pepohonan sekitar rumah kini muncul dan segera menangkap pak Hatta yang masih terbatuk batuk karna asap itu.


"Apa apa an ini...!!", seru pak Hatta mencoba melarikan diri lagi


"Ikut kami pak..!!!, itu akan lebih baik untuk bapak", ucap seorang polisi berhasil menangkap nya dan menggiring pak Hatta menuju mobil mereka sembari memasangkan alat bantu oksigen pada pak Hatta agar efek dari asap yang sempat ia hirup segera menghilang.


Tak berselang lama, selang oksigen telah dilepas dari hidung anak pasutri pemilik rumah itu, keadaan nya kini sudah pulih kembali.


"Kamu gpp cantik...??", tanya Nurma mengelus kepala anak perempuan di hadapan nya.


"Makasih kak", ucap nya sembari memeluk erat Nurma.


"Terima kasih mbak, mas", ucap pasutri itu secara bersamaan.


"Kami yang harus nya berterima kasih buk, pak, terlebih untuk ibuk, ibuk wanita pemberani, tanpa ibu saya gak akan pernah tahu bahwa paman saya telah bersembunyi di sini", ucap Nurma.


"Keberanian seorang wanita pasti akan muncul pada waktu nya mbak", ucap Wanita itu menjadi motivasi tersendiri untuk Nurma.


Setelah itu, Nurma dan Boy mengikuti pihak kepolisian yang kembali ke kota, Nurma juga harus memproses laporan tentang kejahatan pak Hatta lebih lanjut lagi.

__ADS_1


__ADS_2