
"Ran ... Hei bangun. Kita udah sampai nih di rumah kamu. Kamu lanjutin tidurnya di kamar kamu aja ya,”
Ucapan itu berhasil membuat Arani terbangun dari tidur. Ternyata di perjalanan tadi Arani tertidur?
"Oh udah sampe ya? Ya ampun aku ketiduran maaf ya."
Ucap Arani sembari mengerjapkan matanya.
"Gak apa-apa kok. Kamu istirahat nya di dalem aja ya. Sekarang aku antar yuk masuk ke dalam,”
Tawar Areno pada Arani dengan lembut.
"Nggak usah. Aku bisa sendiri kok. Kamu pulang aja nanti kamu kemalaman kalau harus nganter aku masuk. Makasih ya buat malam ini. Aku nggak nyangka akan dapat ini semua dari kamu,”
Arani menolak tawaran Areno.
"Kamu bilang makasih mulu sama aku. Ya udah kamu masuk gih ke dalam, terus langsung istirahat ya,”
Ucap Areno dengan lembut sembari mengelus lembut rambut Arani yang dibalas dengan anggukan sembari tersenyum.
"Ya udah aku masuk yaa. Sekali lagi makasih. Kamu hati-hati ya pulangnya bye,"
Ucap Arani pada Areno . Lalu Arani memutuskan untuk keluar dari mobil Areno. Tapi saat Arani ingin membuka pintu mobilnya, ada tangan yang menahan lengannya dengan sangat lembut. Tangan siapa lagi kalau bukan tangan Areno.
"I love you,”
Ucap Areno lalu melepaskan genggamannya dari tangan Arani.
"I love you too,”
Arani membalas ucapan Areno dengan lembut. Lalu Arani bergegas masuk ke dalam rumah.
"Eh Ran, lo udah pulang ternyata?”
Tanya Vevi pada Arani.
"Iya,”
Jawab Arani singkat sembari tersenyum.
"Gimana dinner nya ? Happy nggak lo, Ran?"
Tanya Syena pada Arani. Arani tak membalas pertanyaan itu dengan ucapan tapi dengan senyuman.
"Kok ditanya malah senyum sih?”
Defilla ikut bertanya.
"Cepetan, Ran. Cerita sama kita gimana dinner Lo sama Areno? "
"Pasti happy kan?"
"Jawab dong, Ran. Kok Lo diam aja si?"
"Happy dong pastinya? Udah bisa ditebak dari wajah lo yang senyum-senyum gitu."
"Areno nembak lo lagi kayaknya ya? Kali ini lebih romantis ya? Cihiw so sweet,”
"Dih kok Lo diam aja si? Cerita sama kita,”
Mereka mencecar dengan beragam pertanyaan mereka.
" I 'm so happy,”
Ucap Arani dengan memekik kegirangan. Mereka hanya menatap Arani heran sambil mengernyitkan dahi mereka.
"Tuh kan bener kata kita, kalau lo itu pasti happy malam ini,”
"Cieeee yang seneng,"
"Cerita dong sama kita. Seneng nya kenapa?"
Mereka kembali penasaran dengan Arani.
"Lo jadian ya sama Areno?"
Pertanyaan itu membuat pipi Arani makin merona.
"Waaah ada yang rona nih. Berarti bener kalau Lo jadian sama Areno?"
"Serius, Ran, Lo jadian sama Areno? Maksud gue jadian kali ini nya tuh jadian serius gitu, dia nggak main jadiin lo pacar kayak waktu itu,”
Pertanyaan mereka kembali berlanjut. Arani kembali tak menjawab pertanyaan mereka dengan ucapan tapi dengan anggukan sembari tersenyum girang.
"What? Oh my god. Sumpah gue ikut seneng dengarnya"
"Lo serius, Ran? Ya ampun seneng banget gue dengar ini semua,”
"Gue seneng liat lo sama Areno. Gue yakin Areno bisa buat lo bahagia. Selamat ya,nRan. Semoga langgeng sampai maut memisahkan jiahhh,” Mereka memekik kegirangan mendengar kabar ini. Nampaknya Mereka sangat bahagia .
"Makasih buat do'a nya. Makasih juga buat semua dukungan kalian. Pokoknya makasih buat segalanya,”
Ucap Arani tulus sembari memeluk teman-temannya yang sudah Ia anggap sebagai keluarganya sendiri.
"Sama-sama, Ran,”
Ucap teman Arani tak kalah tulus dan membalas pelukan Arani.
"Ya udah kita ke kamar gue yuk. Udah malam mending kita tidur. Biar besok nggak kesiangan lagi."
Ajak Arani pada mereka dan dibalas oleh anggukan setuju. Lalu kami bergegas menuju kamar Arani untuk segera tidur.
----------------------------------------------
"Ran, bangun . Ntar telat lagi,”
"Hhmm. Bentar lagi ya. Gue masih ngantuk"
"Gak ada benta-bentar. Cepetan bangun. Lo mau nanti telat? Ayo buruan bangun."
"Ayo, Ran bangun. Lo kebo banget sih. Susah banget di bangunin kalau tidur,”
"Gimana kalau Areno tau ceweknya itu kebo. Dih kalau gue sih malu banget,”
"Ih kenapa bawa-bawa Areno si? Nggak ada hubungannya juga,0
Arani terbangun dari tidurku sembari mendengus kesal dengan temanku yang mengganggu tidur Arani.
"Ya udah kalau Areno nggak boleh tau, buruan sana mandi nanti telat lagi,”
Perintah mereka pada Arani.
"Iya bawel. Ini udah mau mandi,”
Arani menuruti perintah mereka dan segera menyambar handuk di stand hanger lalu berlalu ke kamar mandi. Begitupun teman Arani yang berpencar untuk mandi di kamar mandi yang berada di rumah Arani ini.
"Cieee yang hari ini punya status baru,”
Gofa Syena padaku.
"Apaan sih? Ya ‘lan emang ydah pacaran, cuma entah kenapa dia kayak nembak gue semalam,”
“Ya mungkin dia mau nembak yang versi serius,”
Arani tak terima dengan ledekan mereka. Sekarang mereka memang sedang berada di meja makan untuk sarapan.
"Eh, Ran , ngomong-ngomong lo belum cerita soal semalam sama kita lho,”
"Iya, Ran, Lo belum cerita apapun sama kita soal diner Lo sama Areno semalam"
"Romantis ya, Ran?"
Teman-teman Arani kembali membahas soal itu.
"Banget. Dia main piano yang ada di atas panggung itu dengan indahnya. Pas selesai main piano, dia nyatain perasaan nya pakai kata-kata yang bikin hati gue tersentuh. Sampai akhirnya air mata gue jatuh juga setelah dengar dia ngucapin kata-kata indah itu dengan tulusnya, lebay ya gue? Hahaha,”
Arani memberi penjelasan pada teman-teman Arani. Dan Arani lihat tema-teman Arani sangat antusias mendengar ceritaku itu.
"Aaaa so sweet,”
"Jadi mau huhuhu"
"Pengen kayak Lo, Ran. Yang bisa dapat cowok romantis,”
__ADS_1
Ucap mereka penuh harap yang membuat Arani terkekeh.
"Udah ah kita lanjutin sarapan nya. Ntar kita telat,”
Arani memutuskan pembicaraan ini. Dan kini mereka melanjutkan menyantap sarapan yang sudah disiapkan bik imah untuk kami.
Tiinn... Tiinnn..
"Pasti itu Areno. Cieee yang di jemput sang pujaan hati,”
Ucap Syena sembari mencolek dagu Arani.
"Areno tuh. Buruan pakai sepatunya,"
Defilla ikut memperingatkan Arani.
"Iya bawel,”
Ucap Arani pada mereka.
"Selesai. Ya udah berangkat yuk,”
Ajak Arani pada teman-temannya itu. Dan mereka membalas dengan anggukan sembari tersenyum. Arani mendapati Areno yang sudah di ambang pagar. Dia langsung melemparkan senyum pada Arani. Lalu Arani segera membuka pagar rumah Arani.
"Kok kamu jemput aku? Aku kan nggak minta di jemput,”
Arani bertanya pada Areno. Memang seingat Arani, Arani semalam tak mengajak Areno berangkat sekolah bareng.
"Ya nggak apa-apa dong? Emang nya nggak boleh berangkat bareng sama pacar sendiri? Lagian semalam aku whatsapp kamu tapi nggak di balas. Mungkin kamu udah tidur,”
Areno berbicara dengan Arani sembari tersenyum menatap dalam mata Arani.
"Ya boleh aja sih. Emang iya kamu Semalem chat aku? Aduh maaf ya aku nggak tau kalau kamu chat aku. Semalam aku ngantuk banget, jadi langsung tidur deh abis jalan sama kamu,”
Arani memberi penjelasan pada Areno. Arani memang semalam tak membuka ponselnya. Karena mata Arani sangat berat.
"Iya nggak apa-apa kok."
Ucap Areno dengan pengertian. Lalu Ia mengelus pucuk rambut Arani dengan lembut.
"Ekhem. Maaf ya, Mba, Mas ganggu sebentar. Pagar nya mau dibuka dulu. Kita mau ngeluarin motor,”
Ucap teman-teman Arani sembari tertawa kecil.
Arani dan Areno memang tepat berada di ambang pagar. Yang membuat pagar sulit di buka. Karena kehadiran kami. Mendengar ucapan mereka , Arani dan Areno juga tertawa kecil. Lalu kami sedikit menyingkir dari ambang pagar menuju sudut pagar.
"Ya udah kita berangkat yuk,”
Ajak Areno padaku. Teman-teman Arani memang sudah lebih dulu berangkat ke sekolah.
**********
Kriinggg ... Kriinggg
Bel masuk telah berbunyi. Masing-masing murid bergegas menuju kelas mereka.
"Ya udah aku masuk kelas dulu ya,”
Ucap Arani pada Areno yang sedang meletakkan motornya di parkiran.
"Iya. Belajar yang bener yaa pacar aku,”
Ucap Areno dengan senyum manis nya dan mengelus pucuk kepala Arani. Lalu Arani balas dengan anggukan sembari tersenyum juga, setelah itu bergegas ke kelas.
*******
"Ran, Lo mau makan apa? Biar sekalian gue pesenin,”
Ucap Syena pada Arani . Arani lagi bingung. Tumben Areno tidak mengajaknya untuk pergi ke kantin bersama? Mungkin dia masih ada jam pelajaran. Tapi sekarang kan waktunya istirahat. Entahlah.
"Gue nanti aja deh makan nya,”
Jawab Arani pada Syena. Lalu di balas oleh Syena dengan anggukan. Arani hanya melamun di kantin ini sembari menunggu Areno datang. Tapi Areno tak juga datang. Tiba-tiba mata Arani memicing saat melihat di seberang sana ada Areno dengan seorang perempuan. Sepertinya perempuan itu anak baru di sekolah ini. Karena Arani belum pernah melihat dia sebelumnya di sekolah ini. Kenapa mereka tampak akrab? Sesekali Arani melihat di sela obrolan mereka melepaskan tawa mereka. Jadi ini yang membuat Areno tak pergi ke kantin mengajaknya? Tidak apa, hanya sedikit risih saja sebenarnya.
"Ran, Lo ngeliatin apaan sih?"
Tanya Defilla.
Jawab Arani berdusta. Arani melihat Defilla yang mengangguk paham. Perhatian Arani kembali terfokus saat Arani melihat perempuan itu berjalan ke arah kantin. Diikuti Areno di sampingnya. Walau Arani duduk di paling ujung kantin ini, tapi Arani bisa melihat jelas mereka sedang bersama ke kantin. Setelah itu Arani melihat mereka sama-sama memesan makanan. Arani pura-pura tak memperhatikan momen itu. Arani berusaha untuk berpikir positif. Ya sudah. Arani rasa perutnya sudah lapar Arani memutuskan untuk memesan makanan di kantin ini. Arani memesan makanan sendiri karena teman Arani sudah lebih dulu membeli makanan sampai tiba-tiba
Brrukkk
"Oh my god,”
Arani kaget ketika melihat seragam yang telah penuh dengan kuah bakso. Ditambah lagi tubuh Arani sangat terasa panas dengan kuah bakso itu.
"Eh Lo bisa jalan yang bener nggak si? Bakso gue sekarang tumpah gara-gara lo,”
Ucap perempuan dengan kasar itu yang ternyata adalah perempuan yang bersama dengan Areno tadi. Jelas, dia yang salah tapi kenapa dia yang marah - marah?
"Duh seharusnya gue yang marah sama lo , bukan sebaliknya. Lo yang nggak bisa jalan dengan bebar. Bukan gue! Sekarang Lo liat kan seragam gue penuh sama kuah bakso Lo? Liat kan?! Belum lagi badan gue terasa panas banget dengan kuah bakso ini!”
Ucap Arani dengan nada tinggi dan membentak.
Tiba-tiba saja perempuan itu mendorong Arani.
"Makanya kalau jalan itu jangan sambil ngelirik cowok orang. Apa namanya kalau bukan itu?"
Tanya Arani dengan nada tinggi.
Suasana ketika berubah menjadi tegang. Semua mata tertuju pada Arani dan perempuan ini.
"Ya ampun, Ran. Udah jangan di ladeni,”
Ucap ketiga teman Arani meleraikan keributan ini.
"Gimana nggak di ladeni. Jelas dia yang salah. Tapi kenapa gue yang di bentak? dasar cewek gila!"
Ucap Arani kembali dengan penuh penekanan.
"Lo yang gila!"
Tak terima dibilang gila, dia balik mengejek Arani.
"Lo"
"Lo"
"Lo"
"Lo"
"Udah cukup. Kalian nggak malu apa diliatin sama banyak orang?"
Kini Areno ikut melerai Arani dan perempuan itu.
"Ran udah ya. Jangan berantem, kamu apa-apaan sih?! Hah?!”
Areno kini berbicara pada Arani dengan anda yang naik.
"Nggak usah panggil-panggil gue ih! Gue nggak butuh panggilan itu. Lebih baik lo kasih panggilan itu buat perempuan ini. Selamat ya rencana Lo selama ini berhasil,”
“Ran tunggu dulu kamu salah paham,”
Arani mendengar ucapan temannya dengan samar yang menatap kepergian Arani.
"Puas kan Lo sekarang? Hah?Lo udah buat Arani kecewa sama Lo!" Ujar Defilla pada Areno
Arani kembali mendengar ucapan teman-temanku samar yang ditujukan pada Areno. Sedangkan Arani masih terus berlari dari ini semua. Arani terlambat sampai di kelas setelah istirahat tadi karena sebelum aku masuk kelas Arani membersihkan seragam Arani dulu di toilet. Setelah istirahat tadi dan setelah kejadian itu juga Arani jadi tak konsentrasi belajar.
Kriinggg..kriinggg...
"Ran, Lo udah nggak apa-apa kan?"
Tanya teman Arani khawatir. Arani hanya membalas dengan anggukan.
"Ran, aku mau ngomong sama kamu. Aku mau jelasin semuanya. Aku tuh nggak ada niat untuk belain dia tadi,”
Tiba-tiba suara itu menghampiri Arani dan aku menoleh ke asal suara itu. Areno. Ya, ternyata Areno yang kini sedang di hadapan Arani sekarang. Arani tak membalas ucapan nya Arani lebih memilih berlalu dari hadapannya. Tapi saat Arani ingin berlalu, tangan Areno menahan lengan Arani.
"Pliess kamu dengerin penjelasan aku dulu. Aku mohon,”
Ucap Areno lirih.
__ADS_1
"Nggak ada yang perlu di jelasin. Semuanya udah jelas, dia nyalahin aku, dan kamu kayak belain dia tau nggak sih,”
Balas Arani dengan tak menoleh sama sekali ke Areno. Tapi Areno menangkup wajah Arani , agar menatap nya. Tapi Arani sama sekali tak mau menatap matanya.
"Tolong kamu liat aku. Aku sama anak baru itu nggak ada apa-apa aku yakin kamu mikir ada yang lebih ‘kan di antara kami, dia namanya Laura. Dan tadi tuh aku nggak mau bela dia kok, sumpah aku nggak ada niat untuk belain dia, dan nyalahin kamu. Aku cuma nggak mau kamu berantem, takut kamu kenapa-napa,”
Ucapan itu keluar dari mulut Areno dengan nada lirih nya. Tapi tetap saja, sampai dia selesai berbicara Arani sama sekali tak menatapnya.
"Aku mohon sama kamu, Ran. Maafin aku. Aku nggak ada maksud buat kamu kecewa. Aku sedih kamu ketus kayak gini sama Aku,”
Ternyata ucapan Areno masih berlanjut. Entah kenapa aku masih belum bisa menerima penjelasan Areno. Sudah rasanya percaya gitu aja sama dia. Arani memang tipe cewek yang lebih percaya dengan apa yang Arani lihat langsung dengan mata Arani sendiri daripada dengan ucapan orang lain. Keras kepala? Ya mungkin itu adalah sifat Arani yang dari dulu tidak pernah bisa hilang.
"Aku butuh waktu sendiri,”
Jawabku pada Areno dan segera bergegas meninggalkan Areno dan teman-teman Arani yang masih mematung di tempatnya. Hari ini Arani pulang dengan supir pribadiku yaitu Pak Udin. Dia adalah supir pribadi Arani yang juga sudah lama mengabdi dengan kedua orang tuaku, sama seperti bik imah. Setelah Arani berlalu dari Areno, Arani langsung menaiki mobil alphard berwarna putih milik papa Arani. Mobil ini sengaja selalu siap siaga di garasi mobil yang berada di Arani. Sebenarnya mobil ini jarang sekali dipakai. Mama dan papa Arani tak ada di rumaj, Arani kalau keluar rumah jarang pakai mobil lebih sering menggunakan motor setelah Arani diizinkan papanya boleh membawa motor. Mungkin hampir setiap hari Arani beraktifitas di luar rumah menggunakan motor. Tapi berhubung tadi pagi Arani berangkat ke sekolah bersana Areno, jadi Arani tidak bawa motor. Dan setelah istirahat tadi Arani juga lagi ada masalah dengan Areno. Setelah bel pulang berbunyi, Arani memang sudah menelepon pak Udin untuk menjemput Arani. Hari ini Arani sedang malas pulang dengan Areno.
"Eh, Non, sudah pulang. Ayo non makan siang dulu. bibik sudah siapakan makanan kesukaan, Non,"
Ucap bik imah yang melihatku masuk kedalam rumah. Arani lihat bik imah sedang membersihkan rumah, mungkin karena abis masak. Jadi lantai kotor. Sehingga bik imah lagi membersihkannya.
"Nanti aja deh, Bik. Aku mau istirahat dulu"
Ucapku pada bik imah sembari mencium punggung tangannya setelah itu berlalu dari bik imah untuk ke kamar Arani. Sampai di kamar, Arani memutuskan untuk segera mandi. Karena Arani rasa tubuhnya ini bau kuah bakso. Padahal tadi di sekolah sudah Arani bersihkan, tapi entah kenapa aroma kuah bakso itu masih sangat menusuk hidung Arani. Ditambah lagi badan Arani juga terasa lengket. Arani yakin tubuhnya pasti agak melepuh karena tadi kuah bakso itu masih sangat panas mengenai tubuh Arani. Mungkin kuah bakso itu baru mendidih, sehingga masih sangat terasa panas.
Seusai mandi Arani memutuskan untuk beristirahat. Arani ingin mencoba menetralisir emosi yang ada di tubuhku ini. Cukup lama Arani tertidur pulas. Bisa dibilang sampai menjelang malam.
"Assalamu'alaikum. Non maaf mengganggu istirahat non. Ini bibik bawakan susu hangat dan makanan untuk non. Dari tadi siang non belum makan"
Arani mendengar bik imah berbicara dengan samar di ambang pintu kamar Arani. Tak lama Arani membuka pintu kamarnya. Dan benar saja, kini di tangan bik imah sudah ada nampan yang berisi susu dan sepiring nasi beserta lauk pauknya.
"Makasih ya bik"
Ucap Arani pada bik imah yang kini masuk ke dalam kamar Arani untuk meletakkan makanan itu.
"Iya sama-sama, Non. Oh iya , dari tadi bibik perhatikan non agak sedikit berbeda. Apa non sakit? Biar bibik ambil kan obat ya,”
Ucap bik imah penuh khawatir. Bik imah memang sangat khawatir bila Arani sakit. Dia sangat perhatian pada Arani.
"Enggak kok bik. Aku nggak sakit."
Ucap Arani pada bik imah sembari duduk di tepi ranjang. Dan Arani lihat bik imah juga mengikuti Arani duduk di ranjangnya ini.
"Terus kalau nggak sakit, non kenapa? non ada masalah? non cerita aja sama bibik. Siapa tau bibik bisa bantu,”
"Aku ada masalah sedikit sama Areno bik. Tapi nggak apa-apa kok. Aku bisa ngatasin sendiri,”
Ucap Arani dengan ragu.
"Waah Den Areno hebat ya. Bisa membuat non keliatan murung gini. Itu tandanya Den Areno sangat berperan penting dalam kehidupan non. Buktinya kalau non ada masalah sedikit dengan Den Areno, non jadi sedih dan tampak murung seperti ini"
Ledek bik imah pada Arani. Di saat seperti ini , bik imah memang sangat sering menghibur Arani. Arani hanya membalas bik imah dengan senyuman kecil.
"Ya sudah. Bibik keluar dulu ya. Jangan lupa susu dan makanan nya di habiskan. Non jangan terus-terusan seperti ini. Nanti non bisa sakit,"
Ucap bik imah sembari bergegas keluar dari kamar Arani.
Ya Tuhan, Arani bingung dengan ini semua. Areno seenaknya membuat Arani jatuh cinta padanya. Dan kini dia mengecewakan Arani. Jujur ada rasa menyesal yang menyelimuti diri Arani. Kenapa dengan mudahnya Arani mencintai Areno.
"Arrrgghh. Lo bodoh Arani. Lo bodoh! Kenapa cepat banget Lo cinta sama dia? Dan sekarang lihat, dia ngecewain Lo Ran! Dia ngecewain Lo!"
Arani berteriak memaki dirinya sendiri. Arani benar-benar tak habis pikir. Bisa-bisanya dia bilang kalau tadi hanya sekedar ngobrol biasa? Padahal jelas-jelas Arani sangat melihat kebahagiaan yang hadir diantara mereka.
*********
"Eh non sudah siap berangkat sekolah? Ya sudah ayo silakan non sarapan. Bibik sudah siapakan semuanya di meja makan,”
Bik imah menyambut kehadiran Arani. Saat Arani menuruni anak tangga. Sebenarnya hari ini Arani sangat malas sekali untuk sekolah. Tapi sayangnya Arani harus mengubur rasa malas itu dalam-dalam karena hari ini Arani ada ulangan. Tak mungkin Arani tidak mengikuti ulangan itu cuma gara-gara sedang ada masalah dengan Dia.
Arani memakan sarapan Arani dengan sangat tidak bersemangat. Bukan karena tak lapar atau tak menghargai masakan bik imah, tapi karena memang Arani sangat beraktivitas apapun hari ini. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Bik, aku berangkat sekolah dulu ya. Assalamu'alaikum,”
Pamit Arani pada bik imah lalu mencium punggung tangan bik imah lembut.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya non,”
Pesan bik imah pada Arani dan Arani balas dengan anggukan sembari tersenyum. Saat Arani sudah sampai pagar, ingin mengeluarkan motor Arani . Tiba-tiba Arani dikejutkan dengan kehadiran Areno di ambang pagar rumahnya. Arani hanya memutar bola matanya malas. Arani tak menggubris Areno sama sekali. Arani mencoba membuka pagar Arani. Karena sekarang Arani sudah siap untuk mengeluarkan motor dan berangkat ke sekolah.
"Ran, aku mau minta maaf sama kamu. Plis Ran kamu jangan kayak gini. Aku mohon maafin aku. Kamu jangan buat hubungan kita renggang gini, Ran,”
Ucapan Areno berhasil membuat Arani menatapnya tajam.
"Aku nggak salah dengar? Aku yang buat hubungan kita berantakan ? Kamu tuh punya kaca nggak sih ? Hah? Lebih baik kamu ngajak dulu yang bener baru ngomong kayak gitu. Yang ada itu kamu yang udah buat aku kecewa! Kamu yang udah buat aku benci sama kamu! Dan kamu juga yang udah buat hubungan ini renggang!"
Suara Arani bergetar. Arani berusaha menahan tangisku. Marah dan kecewa, itulah yang sedang Arani rasakan.
"Ya aku emang salah. Makanya aku bener-bener minta maaf sama kamu. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Dan aku nggak ada maksud buat kamu kecewa. Ini bukan rencana aku untuk buat kamu cemburu sama aku. Aku tuh beneran cinta sama kamu, nggak pengen kamu mikir yang aneh-aneh. Jadi aku sedih kalau kamu jauhin aku kayak gini. Nggak ada niat juga untuk bela dia pas kejadian yang kuah bakso itu tumpah,”
Ucap Areno dengan nada lirihnya. Sejak Areno berbicara Arani hanya memalingkan wajah Arani tak ingin menatap Areno.
"Aku nggak mau liat kamu nangis . Aku benar-benar nyesel udah bikin kamu kayak gini. Aku emang cowok bodoh yang udah bikin kamu sakit hati. Plis liat aku, Ran. Aku bener-bener minta maaf sama kamu. Aku minta maaf,"
Kini Areno mengarahkan wajah Arani dengan lembut agar menatapnya. Tapi tetap saja Arani memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Please, Ran. Aku mohon maafin aku. Aku janji nggak akan buat kamu nangis lagi. Aku janji, Ran,”
Areno masih memegang wajah Arani dengan lembut. Kini Arani mulai menatap mata yang berwarna hitam legam ini. Mata yang selalu membuatku jatuh cinta, mata yang selalu membuat pipi Arani merona saat di tatapnya. Arani bisa melihat ketulusan yang terpancar dari mata indah milik Areno ini. Arani terpejam merasakan lembutnya sentuhan Areno untuk wajahnya ini. Kini Arani menggenggam tangan Areno yang masih setia memegang pipi Areno.
"Aku akan coba maafin kamu untuk kali ini. Tapi aku nggak janji kalau aku bisa maafin kamu lagi setelah kamu mengulangi kesalahan kamu kembali,”
Jawab Arani yang masih menggenggam tangan Areno yang masih berada di pipi Arani ini. Arani lihat wajah sumringah yang langsung terpancar saat Arani mengucapkan kata-kata itu.
"Makasih, Ran. Aku janji nggak bakal mengulangi kesalahan aku lagi. I promise,”
Balas Areno sembari membawa Arani ke dalam pelukannya.
"Sekarang kamu jangan nangis lagi. Aku nggak bisa liat kamu kayak gini. Sekali lagi aku minta maaf ya udah buat air mata kamu terbuang sia-sia,”
Ucap Areno dan merenggangkan pelukannya pada Arani lalu mencium dahi Arani lembut.
"I love you,”
Ucap Areno tulus yang masih memeluk Arani.
"I love you too,”
Arani menjawab dengan tak kalah tulus
"Ya udah sekarang kita berangkat ya,”
Ajak Areno lalu menggandeng tangan Arani. Tapi aku tak mengiringi langkah Areno. Mereka yang sadar dengan hal itu lalu menoleh menatap Arani heran.
"Kenapa? Ada yang ketinggalan?"
Tanya Areno pada Arani yang hanya membalas dengan gelengan.
"Terus kenapa? Kok kamu diam?"
Areno kembali bertanya dengan Arani dengan heran.
"Aku mau berangkat sekolah pakai motor aku sendiri. Boleh ya?"
Arani merengek layaknya anak kecil dengan Areno.
"Nggak, Ran. Pokoknya mulai sekarang kamu akan aku antar jemput,”
"Yah. Tapi aku kangen sama motor aku. Sekali aja deh. Boleh ya? ya? ya?"
"Kalau kayak gitu caranya. Apa gunanya aku jadi pacar kamu? Aku nggak jadi pelindung kamu dong? Sama aja kan pacaran atau nggak nya sama aku toh kamu pulang pergi sekolah dengan sendiri juga,”
Kini Areno bertanya sinis padaku. Apa ada yang salah dengan keinginanku? Areno hanya ingin memakai motor Arani hari ini untuk berangkat sekolah. Karena memang sudah beberapa hari aku tak menggunakan motor ku. Selama pacaran dengan Areno, Arani selalu berangkat dan pulang sekolah bersama.
"Ya udah deh. Iya aku berangkat sama kamu,”
Aku pasrah. Kalau sudah berdebat dengan Areno. Biasanya aku selalu menang. Tapi untuk hari ini sepertinya Arani harus rela kalah.
"Nah gitu dong. Aku ini pacar kamu. Aku mau jadi pelindung kamu. Dengan kita kemanapun selalu bareng, itu akan memudahkan aku untuk menjaga kamu dari bahaya apapun,”
Kini Areno menangkup wajah Arani. Dia mengelus pipi Arani dengan sangat lembut membuat Arani sejenak memejamkan mataku.
"Ya udah kita berangkat ya. Ayo naik ke motor aku,”
Ucap Areno dengan menggenggam tangan Arani menuju motor sport miliknya. Setelah itu kami bergegas menuju sekolah.
__ADS_1