Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 70


__ADS_3

“Hmm Bang Aren sama siapa tuh? Temannya kali ya? Tapi kok—hmm kok cuma berdua aja?”


Ria memicingkan kedua matanya menatap sepasang manusia yang sedang asyik mengobrol di salah satu meja yang jaraknya tak begitu jauh dari jarak dirinya sekarang.


Saat ini Ria sedang bersama Mamanya. Ia dijemput oleh sang Mama atas permintaannya sendiri dan Ia juga ingin mampir dulu makan ayam goreng di salah satu restoran favoritnya lalu tiba-tiba dipertemukan tidak sengaja dengan kekasih dari kakaknya yang saat ini sedang bersama seorang perempuan yang tidak Ia kenali siapa sosoknya.


“Dek, itu dimakan kenapa malah diam sih?”


Helen menegur anak bungsunya yang sedang diam menatap ke satu arah, dan Ria mengabaikan makanannya yang sudah datang dan tersjai di hadapannya saat ini.


“Dek—“


“Iya, Mama. Ini aku makan,” ujar Ria dambil tersenyum dan tak lagi menatap ke belakang Mamanya, di sanalah Ia melihat Areno sedang duduk nersama teman perempuannya, Ria anggap itu teman, karena mereka berdua kelihatannya sangat akrab dan kenal cukup lama, ini hanya perkiraan Ria saja.


“Iseng fotoin ah, barangkali kakak kenal,” batin Ria seraya keraih ponslenya untuk kemgabadikan momen Areno bersama temannya itu lalu Ia kirimkan foto tersenut pada kakaknya. Tidak bermaksud untuk memanasi atau menciptakan pertengkaran di antara Arani dan Areno, tapi Ria hanya perasaran saja kakaknya kenal atau tidak dengan temannya Areno itu.


-Kak, aku lagi makan sama Mama terus aku mggak sengaja ketemu sama Bang Aren, Kak. Apa kakak kenals ama temannya Bang Aren itu?-


Ria sudah kirimkan pesan tersebut kepada kakaknya sekaligus foto Areno bersama temannya iu. Kemudian Ria benar-bsnar fokus untuk makan tak ambil pusing lagi dengan Areno.

__ADS_1


“Dek, menurut Adek, Bang Aren itu gimana?”


“Baik, Ma, emang kenapa mama tiba-tiba tanya kayak gitu?“


“Ya nggak apa-apa cuma pengen tau aja tanggapan adek,”


“Aku ‘kan fans Bang Aren, Ma,“


“Hmm iya juga, tapi kamu liatnya Bang Aren itu berubah nggak sama kakak? Maksudnya tetap baik ‘kan kayak awal?”


“Iya tetap baik kalau yang aku liat, Ma. Ini aku nggak lagi bicara jadi fans ya tapi jadi orang yang kenap Bang Aren aja gitu, Ma,”


“Kakak nyaman ‘kan sama Bang Aren?”


“Hmm iya juga sih,”


Di tengah obrolan Ria dan mamanya ada pesan masuk di ponsel Ria dan langsung Ria buka ternyata dari kakaknya.


-Kayaknya kakak nggak kenal, Dek-

__ADS_1


-Palah nggak kenal ya kirain kenal tapi itu kayaknya teman Bang Aren deh mereka ngobrolnya enak aja gitu, keliatan akrab-


-Iya kali-


Ria mendengus setelah membaca pesan singkat dari kakaknya tak ada tanggapan lain ya? Kenaoa harus ‘iya kali’ kesannya tidka peduli alias bodo amat.


Ah Ria lupa, kakaknya memang suka begitu ‘kan. Tidka mau ambil pusing dengan hal-hal yang menurutnya tidak perlu dibuat pusing.


-Kalau emang itu temannya, kok cuma berduaan aja? Aku sih belum liat teman yang lain ya-


-Iya mungkin lagi lagi bahas hal yang pentingd an sifatnya rahadia kali, Dek-


-Iya kakak benar, tapi keliatannya mereka bestie-


-Ya udah biarin aja-


-Apa kakak nggak cemburu?-


-Nggak, biasa aja-

__ADS_1


-Dih kakak nih kenapa sih. Kok biasa aja?-


-Ya kakak harus gimana dong? Mereka ‘kan berteman dan biarin aja Areno mau ketemuan sama temannya atau nggak itu urusan dia, Dek-


__ADS_2