
Lagi-lagi Ria tidak sengaja bertemu dengan Areno yang sedang bersama seorang perempuan dan Ria tidak tahu siapa perempuan itu.
Yang jelas saat ini Areno tampak nengelilingi supermarket bersama perempuan yang Ria anggap adalah teman Areno karena walaupun mereka akrab, kelihatan sekali Areno berusaha menjaga jarak.
Yang waktu itu bertemu di tempat makan, sekarang Ria kembali bertemu Areno dan seornwg perempuan bukan kakaknya di sebuah supermarket.
Sekarang Ria bersama Papanya. Ria minta ditemani oleh sang Papa membeli makanan ringan, dan Arani juga punya titipan.
“Ayo buruan, Dek, kok malah diam di situ?” Tanya Radi pada anak bungsunya yang diam di depan sebuah rak, tapi tatapannya tidak ke arah rak.
“Dek, ayo buruan mau apalagi? Udahan nih pilah-pilihnya?”
“Udah, Pa,”
Ria langsung mengalihkan tatapan dari Areno dan temannya itu kemudian Ia mengajak papanya untuk pergi ke kasir.
“Udah beneran nih, Dek?“
“Iya beneran, Pa,”
“Punya kakak juga udah semua ya titipannya?”
“Udah juga, Pa,”
“Ya udah abis bayar kita langsung pulang ya?”
“Okay, Pa,”
__ADS_1
Ria dan Radi bergegas ke kasir untuk melakukan transaksi pembayaran. Setelah itu mereka langsung bergegas meninggalkan supermarket.
Sampai di rumah, Ria langsung membawa titipan kakaknya itu ke kamar. Ia yakin kakaknya di kamar, dimana lagi selain tuangan ternyaman untuk kakaknya itu? Di dapur hampir tidak munglin, di kolam renang juga begitu, di taman pun sama. Di kamar sudah paling besar kemungkinannya.
Begitu Ia membuka pintu kamar kakaknya, Ia melihat sang kakak sedang berada di meja belajarnya dan berada di depan laptop.
“Hai, Kakak,” Ria langsung menyapa kakaknya itu.
“Hai, udah sampai ternyata,” balas Arani.
“Udah dong, kakak lagi ngapain itu?”
“Lagi ngerjain tugas, Dek, emang kenapa?”
“Hmm? Nggak apa-apa. Nih titipan kakak,”
“Wah makasih banyak ya,”
“Sama-sama, Kak. Oh iya aku mau ceriyta deh sama kakak,”
“Cerita apa, Dek?”
“Jadi gini, tadi aku nggak sengaja ketemu sama Bang Aren, tapi kayaknya Bang Aren nggak sadar deh ada aku,”
“Oh ya? Pas kamu belanja?”
“Iya, Kak,”
__ADS_1
“Oh, terus?”
“Nah Bang Aren sama temannya, cewek,”
“Oh ya udah,”
“Aku udah dua kali deh liat Bang Aren jalan sama cewek, yang waktu itu di restoran, barusan di super market,”
“Ya udah nggak spa-apa, Dek, dia juga udah pernah bilang yang waktu di restoran itu emang temannya kok, yang ini juga mungkin,”
“Iya, aku pikir juga begitu, soalnya keliatan mereka tuh akrab tapi Bang Aren kayak jaga jarak gitu, ya mungkin karena temannya itu perempuan kali ya, Kak, mereka akrab tapi Bang Aren nya ya jaga jarak, bagus deh jadi Bang Aren tuh tipe laki-laki yang setia,”
“Hahahaha kamu tau darimana?”
“Lho, emang menurut kakak nggak gitu?”
“Ya—mana kakak tau. Kakak ‘kan bukan diri dia sendiri, jadi kakak nggak tau dia tuh setia atau nggak,”
“Setia lah, Kak. Kakak tuh doanya yang baik-baik jangan yang sebaliknya, Abang tuhs etia banget sama kakak tau,”
“Iya, mudah-mudahan,”
“Aku yakin kok, coba aja sekarang telepon. Dia jujur atau nggak lagi dimana dan sama siapa,”
Arani menganggukkan kepalanya dan Ia mengikuti anjuran adiknya. Ia segera menghubungi Areno karena sejujurnya Ia juga penasaran apakah Areno akan jujur bahwa saat ini Ia sedang di supermarket bersama seorang perempuan. Kalau Areno jujur maka anggapan Ria tentang Areno yang setia itu benar adanya.
“Halo, Ran,”
__ADS_1
“Halo, kamu dimana, terus lagi sama siapa?”