
“Dek, kakak abis buat mie instan, kakak buatin kamu nih,”
Arani datang ke kamar tamu dengan membawa baki yang dimana ada dua mangkuk di atasnya. Ia serahkan satu buah kepada Ria yang langsung menerima dengan senang hati, dan Arani langsung duduk di sofa kamar tamu.
“Kakak, aku juga pengen duduk di sebelah kakak,”
“Nggak, jangan ke sini, Dek. Kaki kamu ‘kan lagi sakit,”
“Oh iya ya, tapi aku takut tempat tidur kotor gara-gara aku makan di sini,”
“Ya udah okay ayo kakak bantu kalau mau pindah ke sofa,”
“Yeayy kakak baik banget. Gitu dong, Kak. Aku bosan di tempat tidur mulu,”
“Baru juga bentar, Dek,”
Ria terkekeh memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Arani mengambil alih mie punya adiknya kemudian Ia letakkan di meja depan sofa berdampingan dengan mangkuk mie nya.
Arani membantu sang adik beranjak meninggalkan tempat tidur kemudian berjalan ke sofa dengan hati-hati.
“Sakit ya, Dek? Perih? Ngilu?”
“Nggak kok, Kak, aman,”
“Beneran?”
“Iya nggak sakit,”
“Alhamdulillah kalau emang nggak sakit, Dek,”
Arani membantu adiknya hingga duduk dengan nyaman di sofa kemudian mereka langsung menikmati mie bersama.
“Eh iya belum nganbil air minum. Bentar ya kakak ambil dulu,”
Arani keluar sebentar dari kamar tamu untuk mengambil air dingin kemudian Ia kembali lagi ke kamar tamu dimana adiknya berada.
“Gimana rasanya, Dek?” Tanya Arani pada adiknya.
“Enak banget,”
“Beneran?”
“Iya enak banget, makasih ya, Kakak,”
“Sama-sama,”
Arani dan Ria makan bersama sambil mengobrol. “Kakak kok tumben bikin mie?”
“Iya tiba-tiba kakak pengen,”
“Lagi galau ya?”
“Ih nggak, kok tiba-tiba mikir begitu?”
“Ya soalnya tiba-tiba masak mie,”
“Lah emang kalau bikin mie tanda-tanda galau gitu?”
“Ya…nggak tau sih,”
“Dih nggak jelas,” ujar Arani sambil tertawa.
“Kakak mau makan mie instan masa dibilang galau. Nggak lah, emang masih zaman galau?”
“Kirain kakak bikin mie karena galau,”
“Nggak, masa bikin mie dibilang galau sih, dek? Astaghfirullah kamu bener-bener deh,”
“Mie soalnya bisa bikin mood naik sama kayak puding buatan Mama,”
“Ya emang sih tapi bukan berarti kakak galau dong, Dek,”
“Baiklah aku salah, baiklah aku minta maaf,”
Arani terkekeh ketika Ria mengangkat salah satu tangannya, sementara tangan satu ya lagi memegang mangkuk mie yang Ia pangku.
“Dek emang nggak apa-apa ditaruh di paha begitu?”
“Nggak apa-apa, nggak panas kok, ‘kan ada piring alasnya,”
Baru juga beberapa detik Ria bicara seperti itu tiba-tiba Ria leletakkan mangkuknya di aa smeja yang berhadapan dnegan sofa. Dan Arani langsung tertawa.
“Tuh ‘kan, udah sok-sokan bilang nggak padahal panas. Taruh aja di meja ngapain di paha, kaki lagi sakit kalau misal tumpah, nambah lagi sakitnya. Kamu suka nyari-nyari deh,”
“Hehehe,”
Arani makan lagi setelah menasehati adiknya. Dua menit setelahnya ada panggilan masuk dari Areno. Ia segera menjawabnya.
“Assalamualaikum, kenapa, Ren?”
“Waalaikumsalam aku di bawha nih, bawain sesuatu buat kamu,”
“Duh kamu bawa apalagi? Ih kenapa sih repot-repot segala. Bukannya lagi di kafe lumpul sama teman-teman kamu?”
“Iya emnag tapi usah balik, nah aku beli sesuatu buat kamu jadi aku antar dulu ke sini sebelum aku pulang ke rumah,”
“Oh ya udah tunggu bentar ya, kamu belum ada yang bukain pintu ya?”
“Aku nggak nekan bel sih, kamu aja langsung turun ya, pengen ketemu kamu,”
“Iya okay,”
Sambungan telepon mereka berakhir dan Arani langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Ia langsung ditatap bingung oleh adiknya.
“Kenapa, Kak? Bang Aren datang? Kakak mau diajak pergi ya?”
“Nggak kok, dia kayanya bawa sesuatu taoi kakak juga nggak tau apaan. Kakak mau nemuin dia dulu nih. Kakak tinggal bentar ya, Dek,”
“Okay, Kak. Tinggal lama juga nggak apa-apa, kali mau siajak jalan sama Bang Aren,”
“Nggak kok, dia nggak ngomong gitu. Lagian kalau emang siajak jalan kakak nggak kau, orang makanan kakak belum habis kok, kakak mau di sini temenin kamu,”
Setelah berlata seperti itu Arani langsung keluar dari kamar tamu, dan Ria tersenyum dengan hati yang menghangat.
“Kakak kenapa seweet banget sih kalau aku sakit?” Gumam anak itu sambil senyum-senyum sendiri.
Ria tetap makan sementara Arani membuka pintu rumah. Di depan pintu sudah ada Areno yang tersneyum menatapnya.
“Kamu kenapa repot-repot mulu sih?”
“Orang tuh disapa dulu tanunya bukan diomelin,”
“Ih gimana nggak ngomel orang kamu nya ngasih oleh-oleh mulu,”
“Ah lebay, ngasih mulu darimana. Lagian ini tuh cuma donat, aku beli di kafe tempat aku nongki tadi,” ujar Areno sambil memberikan dua buah kotak berisi donat kepada Arani.
“Ih kebanyakan ini, satu aja,”
Arani menolak semua pasti tidak akan semudha itu. Akhirnya Arani ambil satu kotak saja, sisanya satu kotak lagi untuk kekaishnya itu.
“Jangan lah, ambil semua buat kamu,”
“Kebanyakan ini, udah cukup satu kotak aja,”
“Ran, apa sih? Kok gitu? Ambil semua pokoknya! Jangan cuma satu,”
Areno memaksa kekaishnya itu supaya menerima dua kotak donatnya, jangan ada yang dikembalikan kepadanya.
“Ih Areno, ini kebanyakan. Satu aja udah cukup,”
“Nggak, Arani. Ambil semua orang aku beliin sengaja buat di sini kok,”
“Ya udha nggak usah semua deh kalau gitu ah,”
“Heh kok gitu? Nggak ya! Harus diambil, dan ambil smeuanya jangan cuma satu doang,”
“Ya tapi kebanyakan, Areno,”
”Nggak lah,”
Arani berdecak pelan mendengar jawaban Areno yang santai tangan Areno juga senagja menahan tangannya supaya tidak mengembalikan dua kota donat yang sudah diberikan.
“Kamu jajanin aku mulu ih mentang-mentang punya duit sendiri,”
“Hahahah jangan lebay ah. Orang nggak dijajanin mulu. Kalau dijajanin mulut tuh tiap hari, lah ini ‘kan nggak. Pokoknya ambil buat kamu ya,”
“Makasih banyak ya,” ucao Arani dengan tulus aambil menatap kelasihnya dengan sorot mata lembut.
“Kamu jangan jajanin aku mulu, tabung tuh uangnya, jangan dihambur-hambur,”
“Iya tenang, nggak usah diajarin aku juga udha nabung kok,”
“Jangan keseringan jajanin aku pokoknya ya!”
“Iya, Aranique yang cantik, lagian cuma sesekali soang, nggak sering juga kok. Kamu aja yang lebay,”
“Kamu abis dari kafe langsung ke sini?”
“Iya aku langsung ke sini antar buat kamu,”
“Oh, terus teman-teman kamu udah pulang?”
__ADS_1
“Udah juga,”
“Sh iya aku sampai lupa nyuruh kamu masuk, ayo masuk dulu,”
“Nggak usah, aku langsung pulang aja. Tumben si cerewet fans aku itu nggak ada? Nggak kedengeran suaranya. Dia di kamar ya?”
“Di kamar tamu, kakinya lagi luka-luka karena jatuh dari tangga sekolah, tapi alhamdulillah udha membaik sih,”
“Ya ampun, kok bisa sih? Kejadoannya kapan?”
“Tadi pas sekolah langsung diantar sama pihak sekolah ke rumah setelah dilbatin di rumah sakit,”
“Ya ampun, semoga makin membaik ya,”
“Aamiin makasih doanya,”
“Aku titip salam aja buat Ria ya,”
“Iya nanti aku sampein ke dia, makasih banyak,”
“Sama-sama aku pulang dulu, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
“Eh kamu kok wangi parfum cewek sih?”
Areno yangs emula akan memutar badannya dan berjalan menuju motor, langsung mwngurungkan niat karena ucapan Arani yang kini menatapnya dengan kening mengernyit.
“Hah? Aku wangi parfum cewek?”
“Iya, apa hidung aku yang salah ya?”
Arani langsung mendekatkan hidungnya ke bahu Areno dan ternyata memang benar ada aroma parfum peremluan dan Arani yakin itu bukan parfum kekaishnya, karena Ia hafal aroma parfum Areno.
“Kamu pakai parfum cewek?” Tanya Arani dnegan nada biasa saja, tidka mengintimidasi
“Nggak kok, kayaknya karena abis bonceng cewek aja sih,” ujar Areno yang memilih untuk jujur karena Ia tidak mau Arani beprikir yang macam-macam.
“Hah? Kamu abis bonceng cewek? Kamu sekarang narik juga?”
“Narik apa?”
“Narik—ojek maksu aku,”
“Hah? Narik ojek? Buset, nggak sama sekali woy!”
Arani semakin bingung. Barusan Ia dengar sendiri kalau kekaishnya itu baru saja membonceng perempuan. Makanya Ia pikir Arani menjadi ojek sekarang. Kalau benar, keren sekali Areno. Benar-benar mau mandiri walaupun orangtuanya punya uang.
Tapi ternyata Areno membantah dan kini menggusar rambutnya dan wajah Areno frustasi.
“Bisa-bisanya mikir aku jadi abang ojek,”
“Kamu bilangnua abis bonceng cewek. Ya aku pikir kamu jadi driver ojek. Kalau beneran, keren banget! Kamu keren, benar-bsnar mau mandiri,”
“Lah nggak, Aranique. Aku abis bonceng teman aku, si Nara itu lho. Aku udah pernah cerita ke kamu ‘kan?”
“Ya teman SD kamu itu bukan sih?”
“Iya bener,”
“Kenaoa kamu bonceng?” Tanya Arani dengan salah satu alis yang terangkat. Areno langsung terkekeh dan menunjuk wajah Arani.
Arani tentu bingung, kenapa kekasihnya tiba-tiba tertawa, lalu tangannya menunjuk wajahnya.
“Kamu kenapa sih? Waras?”
“Ya iyalah, gila aja aku nggak waras,”
“Jadi gimana? Aku penasaran, kamu nggak jadi driver ojek?”
“Nggak, aku bonceng dia karena kebetulan dia ketemu aku si kafe tadi sama teman-teman aku. Nah dia ‘kan nggak bawa kendaraan tuh, jadi ya sekalian aja aku bonceng, aku antar ke rumahnya,”
“Oalah jadi gitu ceritanya, aku pikir kamu udah narik sekarang,”
“Bisa-bisa ya mikir kalau gue narik ojek,” ujar Areno yang mengundang tawa Arani.
“Ya maaf, aku pikir begitu,”
“Eh tapi emang keren sih jadi abang ojek tuh, jadi pengen deh,”
“Halah udah deh jangan aneh-aneh. Keren sih keren, badai, angin topan, angin ****** beliung tetap di jalanan cari uang, itu keren, tapi kamu ‘kan maish belajar. Ya mending fokus belajar aja dulu. Lagian ya, Mama Papa kamu kalau smapai tau, bisa marah lho ke kamu. Nge-desain aja kamu dimarahin apalagi narik ojek,”
“Tapi seru, keren juga,”
“Udah jangan ngomong kayak gitu. Jangan bikin Mama Oaoa kamu marah deh. Akalu nereka tau kamu maish nge-desain aja aku yakin mereka bakal marah,”
“Ya nggak apa-apa aku tetap bakal nelakuin hobi aku yang menghasilkan uang itu. Ntar lama-lama Mama Paoa aku bakal ngerti kok,”
“Nggak-nggak aku langsung pulang aja. Salam buat Mama papa kamu sama adek kamu ya. Semoga cepat sembuh kakinya,”
“Aamiin, makasih doanya, kamu hati-hati,”
“Okay, yang abis cemburu,”
“Eh eh eh tunggu!”
Areno akan berbalik lagi-lagi tidak jadi karena Arani menarik lengannya. Ia langsung tersenyum manis dan bertanya “Kenapa sih? Kamu nggak bisa ya aku tinggalin?”
“Dih geer banget sih kamu! Tadi kamu ngomong apa?“
“Ngomong apa?”
“Tadi banget,”
“Oh cie yang abis cemburu. Tadi aku ngomong gitu deh kalau nggak salah,”
“Dih sembarangan aja! Aku nggak cemburu ya. Cemburu darimana coba?“
“Cie cemburu,”
“Nggak, aku cemburu darimana sih? Jangan ngarang deh,”
“Halah jujur aja deh, tadi hidungnya tajam banget tau-tau nyium parfum cewek,”
“Lah orang kecium makanya aku tanya. Kalau nggak ya nggak bakal aku tanyain lah,”
“Iya hidung kamu tuh tajam banget. Kamu cemburu tau, aku bisa liat tadi dari mata kamu,”
“Aataga, ngarang banget. Orang aku ngga cemburu kok,”
“Halah masa iya?”
“Iya, kamu nggak percaya banget,”
“Iya-iya aku percaya deh,”
“Aku nggak cemburu pokoknya!”
“Iya percaya,”
“Aku biasa aja,”
“Iya aku percaya, Aranique yang cantik,” jawab Areno sambil menahan senyumnya dan itu menyebalkan di mata Arani.
“Pokoknya aku nggak cemburu ya,”
“Hahahaha diulang-ulang mulu kapan aku pulangnya?”
“Ya usah sana pulang tapi kamgan bilanga ku cemburu lagi,”
“Ya lagian kalaupun kamu cemburu emang kenapa sih? Nggak ada yang larang juga kok. Cemburu ‘kan tanda cinta, tanda sayang,”
“Ya tapi aku nggak cemburu,” lugas Arani dnegan mata melotot. Alih-alih takut, Areno justru terbahak.
“Yah, aku jecewa deh jadinya,”
“Kok kecewa?” Tanya Arani dnegan tatapan bingung..
“Iyalah aku kecewa soalnya kamu nggak cemburu, berarti kamu nggak sayang sama aku,”
“Emang nggak,”
“Ih serius?”
“Serius dong,”
“Oh kalau aku terjun dari jurang boleh ya?”
“Ya jangan oneng dong jangan orang, ngapain coba terjun ke Jurang,”
“Kamu bakal bantuin aku kalau misal tiba-tiba aku kepleset di jurang?”
“Iya bakal nolongin,”
Areno tersneyum, Ia harus menggunakan cara lain supaya Arani yang gengsi itu meluapkan perasaannya tanpa disadari.
“Kenapa nolongin?”
“Karena aku manusia yang baik,”
Areno terbahak kendnegar jawaban sederhana Arani tapi cukup arogan kedengarannya. Araeno menggunakan cara lain lagi.
__ADS_1
“Kalau misalnya ada dua orang cowok, dan kami sama-sama kepleset di jurang, nah yang bakal kamu tolongin pertama siapa?”
“Ya kamu lah,”
“Kenapa?”
“Nggak tau alasannya taoi aku bakal tolong kamu pertama kali,”
“Ya itu berarti kamu sayang sama aku,” ujar Areno sambil menaik turunkan alisnya.
“Tapi kamu nya gengsi. Ya udah nggak apa-apa,”
“Udah sana pulang,”
“Aku tau sih kamu salah tongkah tapi jangan nguruh pulang juga dong,” ujar Areno smabil terlekeh dan setelah itu berlari menuju motornya karena Ia tahu Arani akan protes tidka terima lagi. Barusan tidak tetima dibilang cemburu, dan sekarang pati akan protes tidak terima dibilang salah tingkah.
“Awas ya kamu!”
“Hahahahaha i love you,”
Setah berkata seperti itu, Areno langsung tancap gas meninggalkan kediaman kekaishnya itu.
Arani mendengus kesal. Ia langsung masuk ke rumah dengan membawa dua buah kotak donat. Satu kotak Ia letakkan di meja makan, satu kotaknya lagi Ia bawa ke kamar tamu.
“Kok lama sih, Kak? Itu mie nya keburu dingin lho, eh itu donat dari Bang Aren ya, Kak?”
“Iya, lama karena ngobrol dulu sama dia, biasalah, Dek. Kayak nggak tau Areno aja. Dia ‘kan suka cerewet,”
“Kayak aku juga dong hahaha,”
“Nih kamu cobain donatnya, kakak mau lanjut makan mie dulu,”
“Mie aku sampai udah habis duluan lho, Kak. Maaf ya, Kak,”
“Iya nggak apa-apa, ngapain harus minta maaf segala sih? Kamu nggak salah. Santai aja santai,”
“Aku nggak sabaran nungguin kakak akhirnya ya udah aku habisin aja punya aku,”
“Iya kakak juga lupa bilang sama kamu nggak usah nungguin kaakk, lanjut makan aja. Soalnya akkak pasti lumayan lana karena ngobrol dulu sama Areno. Tapi untungnya kamu nggak nungguin kakak, kalau nggak mie kamu udha keburu dingin juga deh,”
“Aku coba ya donatnya, Kak,” ucap Ria sebelum meraih donat pemberian Areno.
“Iya, Dek,”
“Oh iya Areno titip salam buat Mama Papa sama kamu. Dan dia doain kamu cepat sembuh kakinya,”
“Lho, Bang Aren tau kalau mislanya kaki aku lagi sakit? Kakak yang cerita ya?”
“Iya kakak ceirta soalnya dia nanya kamu mana? Kok nggak kedengeran suaranya, ya kakak bilang aja kamu abis jatuh dari tangga sekolah dan sia bilang titip salam aja ya semoga kaki kamu cepat sembuh,”
“Aamiin, makasih doanya, Bang Aren. Aku anggap aja Bang Aren itu kakak ya jadi aku bilang makasihnya ke kakak,”
“Iya deh suka-suka kamu, Dek,”
Ria terkekeh dan asyik menikmati donat pemberian Areno yang lezat. “Enak nih, beli dimana ya?”
“Di kafe tempat dia ngimlul sama teman-temannya kali ya? Nggak tau deh, Kakak kuga nggak nanya,“
Ria membaca nama kafe di kotak donat dan membenarkan ucapan Arani. “Iya nih ada nama kafenya di kotak donat, Kak,”
“Iya, Dek,”
“Emang ada acara apa Bang Aren lumpul sama temannya?”
“Ya biasa alah, cowok tuh suka mgumpul ‘kan. Nggak ngapa-ngapain paling ngobrol terus makan sama minum,”
“Kakak nggak pernah diajak ya?”
“Nggak tertarik juga, soalnya kakak yakin nanti pasti canggung deh karena nggak biasa ‘kan kumpul bareng mereka,”
“Iya sih, kakak ngumpulnya sama bestie-bestie kakak aja ya seringnya?”
“Iya kayaknya lebih nyaman ngumpul sama teman cewek juga, obrolannya lebih nyambung gitu ketimbang kumpul sama cowok-cowok,”
“Tapi kalau siajakin masa kakak nolak?”
“Ya nggak tau deh. Kakak kalau sitanya sekarang bingung mau nolak atau nggak,”
“Kalau kakak nggak nyaman ya tolak,”
“Tapi nggak enak ya, Dek?”
“Nah itu dia, kakak ‘kan punya rasa ‘nggak enak’ yang gede jadi kalau mau nolak tuh selalu ada rasa itu datang,”
Tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar dan Helen datang dengan ssnyumannya. “Hai anak-anak Mama, wuih lagi makan mie nih ceritanya?”
“Iya, Ma,”
“Siapa yang bikin?”
“Aku, Ma?”
“Nggak minta tolong Bibi? Kena air panas nggak, Kak?”
“Nggak kok, Ma. Aman-aman aja,”
“Adek makan donat ya? Darimana? Abis beli online? Kakak yang beli ya, Kak?”
“Nggak, Ma. Itu donat dari Areno, Ma,”
“Lho, Areno abis datang ke sini?”
“Iya barusan, Ma,”
“Ya ampun anak itu, kok repot-repot sih bawa donat? dari rumahnya, Kak?”
“Dari kafe abis kumpul sama temannya, Ma. Oh iya tadi Areno titip salam. Dia juga tau adek kakinya sakit karena dia nanya adek kemana? Kenapa suaranya nggak kedengeran jadi aku bilang aja kalau adek abis jatuh di tangga sekolah. Dia doain semoga cepat sembuh,” ujar Arani.
“Aamiin, mama terima salamnya. Bukannya langsung pulang si Areno ya, Kak. Pasti capek mampir ke sini,”
“Iya aku aja heran. Tiba-tiba dia telepon nyuruh aku keluar karena dia mau ngaish sesuatu. Padahal udah sering aku bilang nggak usah repot-repot bawa makanan, eh masih aja. Aku suruh nanung dia bilang nggak usah diajarin juga udah nabung, dih padahal ‘kan aku ngaish tau yang benar,”
Helen terkekeh mendengar ucapan anaknya yang sambil makan, mulutnya menggerutu karena tanggapan Areno setelah Ia suduh untuk menabung.
“Mama, cobain donatnya dej, snak banget lho,”
“Ya udah makan aja sama Adek, mama gampang nanti kalau Mama mau juga pasti mama ambil. Mama mau masak buat makan malam dulu ya, Nak,”
“Iya, Mama sayang,”
“Mau dimasalin apa nih?” Tanya Helen pada kedua anak perempuan itu. Biasnaya Ia akan meminta pendapat disaat mereka tak bilang mau sesuatu.
“Hmm apa aja deh yang gampang, Ma,”
“Semur ayam kali ya?”
“Iya terserah Mama yang gampang-gampang aja, Ma,”
“Okay Mama ke dapur dulu, kakak sama adek terserah deh mau ngapain,”
“Aku abis ini mau ngerjain tugas nih. Sama hafalan farmakognosi,” ujar Arani dengan suara lemasnya.
Helen dan Ria terkekeh dan kompak menyemangati Arani. Tumben Arani kelihatan lelah, biasnaya kalau urusan belajar semnagat.
“Kok tunben letoy banget, Kak?” Tanya Ria.
“Iya lagi males,”
“Jangan malas dong, kakak yang semangat, mau cita-citanya tercapai ‘kan?”
“Mau, Ma,”
“Ya udah kakak haru semangat, okay?”
“Hmm okay, Ma,”
“Semangat, Kakak,”
“Makasih, Dek,”
“Kakak berarti abis makan langsung belajar ya, kerjain tuga sya terus hafalan juga yang benar, ntar kalau Mama panggil kalau udah waktunya makan malam okay?”
“Okay, Ma,”
Helen bergegas ke dapur meninggalkan kedua putrinya. Setelah Helen tak terlihat lagi, Ria langsung menepuk bahu kakaknya sekali.
“Semangat, Kak. Tapi kalau mau malas juga nggak apa-apa sih, wajar. Namanya juga manusia kadang suka ada rasa malas, letoy, Kak. Istirahat aja dulu, Kak,”
“Nggak, Dek. Harus sekarang banget, kamu jangan bikin kakak tambah letoy, Dek,“
“Hahahaha, aku ‘kan nyemangatin kakak tapi nggak maksa kakak juga soalnya aku sering malas ngerjain tugas dan belajar, ya sama kayak kakak, tapi abis itu sekangatnya balik lagi deh,”
“Ya udah kakak cuci mangkuk dulu terus kakak ke kamar mau ngerjain tugas sama hafalan ya, Dek,”
“Okay, Kakak,”
Arani langsung membawa baki dimana ada dua mangkuk olusnoiringanalsnya bekas Ia dan adiknya makan mie.
“Kak makasih ya udah bikinin aku mie udah nyuci mangkuk aku juga,” ujar Ria pada kakaknya.
“Sama-sama, udah kamu istirahat aja ya, kakak tinggal bentar, nanti kalau tugas sama hafalan kakak udah selesai kakak balik lagi ke sini,”
__ADS_1
“Iya, Kak,”