
“Nyambung lah, aku angkat kamu aja kuat apalagi keranjang kecil begitu. Yah elah, gampang banget itu sih,”
“Iya deh yang kuat perkasa,” ledek Arani
“Iya dong aku ‘kan gagah tiada tertandingi,” kata Areno sambil tersenyum menatap Arani yang terkekeh dan langsung mendorong wajah Areno.
“Nggak usah senyam-senyum kayak orang stres deh, Ar. Aku takut liatnya lho, serius,”
“Aku emang kuat, perkasa, gagah, berani. Pokoknya semua deh,”
Areno langsung mengambil ponselnya yang bergetar tiba-tiba. Terpaksa Ia dan Arani mengakhiri obrolan, tapi kaki mereka tetap melangkah mendekati kasir.
Kening Areno mengernyit ketika Nara menghubunginya. Dalam hati Areno bertanya-tanya.
“Kenapa Nara telepon gue?”
“Halo, Nar,”
Areno segera menerima panggilan dari Nara dan Nara kedengarannya senang ketika panggilannya diterima.
“Pagi sibuk nggak? Ngopi kuy, ngajakin Arani juga nggak apa-apa,”
__ADS_1
“Hmm lain kali aja ya, Nar,”
“Oh gitu ya udah deh, besok bisa nggak? Pulang sekolahs ama Arani,”
“Ya kalau Arani mau. Kalau dia nggak mau, gue kayaknya juga nggak deh,”
“Ya elah si bucin hahaha,”
“Ya lo tau lah,”
“Hmm okay deh coba ajakin dia ya besok,”
“Okay sip,”
Malam ini Arani sibuk mengerjakan tugasnya yang awalnya banyak, sekarang tinggal sedikit lagi. Maka dari itu Ia mati-matian menahan rasa kantuknya. Ia berharap tidak tidur sebum semua tugas-tugasnya selesai, walaupun dikumpulkannya masih beberapa hari ke depan, tapi supaya Ia tenang, Ia memilih untuk mengerjakannya sekarang. Karena kalau mengerjakan tugas terlalu buru-buru dikejar waktu, Arani bisa keliru. Arani adalah tipe orang yang panikan juga.
“Kakak, tolong buka pintunya aku mau ngomong bentar kalau kakak bolehin sih,”
“Apa sih, Dek? Jangan ganggu ah, bentar lagi tugas kakak selesai,”
“Oh gitu, ya udah deh aku tungguin,”
__ADS_1
“Emang kamu mau ngomong apa? Ngomong aja sekarang, Dek, kakak lagi nggak mau bangun dari kursi nih soalnya tanggung bentar lagi tugas kakak selesai,”
“Ya dah deh aku tunggu kakak selesai aja,”
“Ih ngomong aja buruan,”
“Udah kakak selesain aja cepetan, nggak usah pikirin aku. Ntar aja aku ke sini lagi okay?”
Ria bergegas pergi tak lagi di depan kamar kakaknya. Arani menghembuskan napas kasar karena adiknya itu tak langsung bicara saja dari depan pintu. Padahal ‘kan bisa, Ia juga bisa mendnegarnya walaupun dalam keadaan pintu kamar yang tertutup.
“Emang apa sih yang mau diomongin? kalau penting ‘kan tinggal ngomong aja, ntar paling aku bukain, kalau nggak penting ya nggak usah dibukain takut adek cuma ganggu doang, tapi dia nggak mau langsung ngomong. Ya udah deh biarin aja,” ujar Arani.
******
“Bang Areno, Kakaknya lagi ngerjain tugas. Jadi tunggu bentar ya? Katanya sih tugasnya bentar lagi udah selesai,” ujar Ria pada Areno yang datang dan langsung dipersilahkan masuk oleh Rady. Dan mereka berdua mengobrol di ruang tamu sementara Ria disuruh oleh papanya untuk memanggil sang kakak.
“Kenaoa nggak bilang aja kalau Bang Aren yang datang, Dek? Barangkali kakak langsung keluar,” ujar Rady sambil terkekeh.
“Tapi aku takut, jadi ya udah tunggu kakak seleaai ngerjain tugas dulu deh,”
“Iya pinter deh kalau gitu, nggak mau gangguin kakaknya ya?”
__ADS_1
Ria menganggukkan kepala. Ia tidak mau kakaknya keluar tanduk, dan keluar asal dari lubang hidungnya hanya karena Ia mengganggu. Ia putuskan untuk pergi saja tadi, Ia tidak mau mengganggu kakaknya yang tengah serius mengerjakan tugas. Kalau usilnya datang, Ia bisa saja mengganggu tapi kali ini Ia sedang tidak ingin usil pada kakaknya itu.