Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 64


__ADS_3

Siang ini, Arani pulang lebih cepat dari biasanya. Karena semua gurunya akan mengadakan rapat. Helen juga bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Alhasil anak dan Ibu itu dapat berkumpul di siang hari. Mereka memutuskan untuk masak bersama. Sememtara Tia di kamarnya.


"Tepung kayaknya kurang, Ma," ucap Arani ketika melihat tepung di dapurnya sisa sedikit.


"Bik, persediaan tepung kita habis?"


Helen mengalihkan matanya pada Reina yang sedang mengambil mangkuk dan sendok.


"Iya, Bu. Sisa segitu aja,"


"Mama beli dulu deh di minimart,"


Helen melepaskan plastik yang berlumuran kentang halus dari tangannya.


"Kakak aja, Ma,"


Helen menatap ragu putrinya. Tidak biasanya Arani mau keluar untuk membeli perlengkapan dapur seperti itu.


"Yang bener?" Tanya Helen tamoak ragu, dan Arani kangsung menganggukkan kepalanya.


Tidak ada ragu ketika Arani mengangguk. Helen langsung mengambil kartu debitnya untuk diserahkan pada Arani.


"Hati-hati, ya. Nyebrangnya lihat kanan dan kiri," pesan Helen pada putrinya seraya meletakkan kartu debit itu di tangan Arani.


Arani merasa kalau Helen tengah meledeknya.


"Emangnya aku anak kecil?" jawabnya dengan bibir mengerucut.


Helen tertawa dibuatnya. Ia mengusap puncak rambut anaknya.

__ADS_1


"Pokoknya hati-hati!"


Arani mengangguk lalu berjalan dengan langkah rianganya.


"Aku berangkat," seru gadis itu sebelum punggungnya hilang dari pelupuk mata Helen.


"Udah besar anak saya, Bik," ucap Ibu satu anak itu pada Reina.


"Iya, tumben mau dikasih tugas kayak gitu," jawab Reina seraya tertawa. Bayangannya kembali pada masa lalu dimana Ia membantu Arani dalam mengurus gadis cantik itu. Arani adalah anak yang manja dan tidak pernah mau dilibatkan dalam segala urusan yang menurutnya merepotkan.


***********


Arani meletakkan dua kilo tepung dan segala perlengkapan yang menurutnya diperlukan.


Tak lama ada seorang lelaki yang ikut meletakkan belanjaannya di dekat milik Arani seolah ingin lebih cepat dihitung.


Tentu saja membuat Arani berdecak kesal kemudian Ia menolehkan kepalanya. Matanya berputar saat bersitatap kembali dengan lelaki yang pernah bermasalah dengannya di taman tempo hari.


"Adek ini dulu ya, Mas," kasir itu ikut menengahi. Lagipula Aldo memang tidak salah. Melihat Lelaki itu mengangguk, si kasir langsung menghitung total yang harus dibayar oleh Arani.


"Totalnya seratus empat puluh sembilan ribu," ucap kasir perempuan itu.


Arani memberikan kartu debit Helen dan mengetik pin setelah pembayaran selesai tangan Arani meraih kantung belanja miliknya.


Setelah kartu itu kembali ke tangannya, Arani mengatakan,


"Terimakasih,"


Mata tajam lelaki itu menatap punggung Arani yang menghilang dibalik pintu transparan minimarket dan kasir menyadari hal itu. Bahkan Ia tersenyum tipis dengan gelengan di kepalanya.

__ADS_1


"Jangan dipandang, Mas. Nanti jatuh cinta,"


Lelaki itu sempat gelagapan. Namun semaksimal mungkin Ia menutupinya.


"Jadi berapa totalnya? jangan merhatiin saya aja, Mbak,"


Kasirnya memaki dalam hati. Lelaki angkuh dengan segudang pesonanya memang berhasil membuat siapa saja berpaling.


**********


"Assalamu'alaikum," seru Arani ketika memasuki rumahnya. Ia langsung berjalan ke arah dapur untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


Saat ini menu yang akan mereka buat adalah pempek dan perkedel kentang sesuai permintaan Arani.


"Waalaikumsalam. Aduh kayaknya capek banget anak Mommy,"


Helen menyambut kedatangan anaknya yang langsung duduk. Tangan Helen terulur untuk mengusap kening Arani.


"Mau lagi gak kalau disuruh beli keperluan dapur?" Helen bertanya dengan jail. Penasaran dengan jawaban anaknya.


"Dengan senang hati, Nyonya,"


Arani memasang senyum manisnya. Helen tidak tau kalau Arani baru saja dirundung kekesalan.


"Ayo kita lanjut lagi masaknya,"


"Oke deh. Cuci tangan dulu, Ma," ucap Arani mengingatkan Mommynya.


"Iya, sayang. Nanti gara-gara tangan Mama yang abis ngelap keringat kamu, perkedelnya jadi keasinan,"

__ADS_1


"Ih mama! keringat aku manis tau," rengekan Arani membuat Helen tertawa.


"Iya deh manis. Kayak orang yang punya keringatnya,"


__ADS_2