Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 37


__ADS_3

“Eh aku udah makan cake sama buah dari kamu lho. Makasih banyak ya. Jujur aku kaget pas tau dari Mama kalau kamu sama Ria nganterin parsel buah sama kue buat aku,”


Arani tersenyum, sederhana saja kebahagiaannya. Yaitu ketika pemberiannya dihargai. Walaupun mungkin tidak seberapa.


“Iya sama-sama, semoga suka,”


“Bilangin makasih juga ke Ria,”


“Iya, Bang Aren sama-sama,”


“Ih Ria tukang nguping,”


Ria yang sedang menonton di sebelah kakaknya langsung saja menjawab, apdahal Arani yang diminta untuk menyampaikan, tapi ternyata ungkapan terimakasih itu sudah sampai langsung ke telinga Ria.


Arani langsung bergeser, tak lagi duduk di satu sofa yang sama dengan kakaknya. Ria yang melihat itu langsung mendengus kesal.


“Kenapa sih, Kak? Kok nggak mau dekat sama aku?”


“Ya abisnya kamu tukang nguping ah,”


“Lah aku ‘kan cuma jawab aja, soalnya Bang Aren ngomongnya sama aku,”


“Aren Aren Aren, emang dia gula aren,”


“Hahahah baru kali ini kakak protes soal panggilan aku, biasanya juga nggak pernah,”


“Ya lagian aneh, masa panggilannya aren sih?”

__ADS_1


“Ya biarin aja sih, Kak. Suka-suka aku,”


“Mungkin Ria manggil aku Bang Aren karena aku manis kayak gula aren kali, Ran,”


“Nah itu benar, Bang,”


Ria membenarkan ucapan Areno yang mendengarkan perdebatan antara kakak dan adik mengenai panggilan untuknya.


“Dih, gula aren?”


“Iya, gula aren ‘kan manis tuh,”


“Astaga, ada-ada aja sih kamu,”


“Ya biarin aja sih, Kak. Orang Bang Aren aja nggak masalah dipanggil begitu. Kecuali kalau Bang Aren nya protes nah baru deh aku ganti,”


“Tuh ‘kan,” ujar Ria seraya menjulurkan lidahnya ke arah sang kakak yang langsung mendengus.


“Huh dasar anak pitik,”


“Ih kakak pitik,”


“Lah, kakak pitik? Mana ada—“


“Aku senang-aku senang, ayo dilanjut debatnya,”


Suara Areno menghentikan perdebatan antara Arani dengan adiknya, Ria. Mendengar mereka berdebat, Areno senang. Karena jarang melihat kakak beradik adu mulut.

__ADS_1


“Udah dulu ya,”


“Lah kok berhenti,”


“Ye dia malah senang dengar orang berantem,”


“Lucu, kakak adek berantem ternyata seru ya apalagi kalau cewek, sama-sama cerewet soalnya,”


Ria tertawa mendengar ucapan kekasih kakaknya itu dan Ia membenarkan. Ia dan Arani butuh waktu beberapa menit dulu biasa untuk berdamai karena mereka berdua sama-sama cerewet, rasa tidak ingin kalah, keras kepala.


“Kakak, Bang Aren tau nggak kalau tadi ada yang datang ke sini temannya kakak?”


Arani mengangkat salah satu alisnya. Ria bicara seperti itu disaat sambungan telepon belum berakhir.


“Apa sih kamu? Emang dia harus tau semuanya gitu? Lagian orang sakit ngapain ngurusin hal yang penting?”


“Emang siapa yang datang ke rumah?” Tanya Areno yang benar-benar penasaran setelah mendnegar ucapan Ria. Memang tidak wajib bercerita kepadanya siapapun itu yang datang ke tumah, tapi apa susahnya juga untuk cerita dan kenapa harus disindir oleh adiknya juga? Areno ingin tahu.


“Ada Fendy tadi, dia ngajakin kerjain tugas kelompok sekarang tapi aku bilang nanti aja, toh tugasnya dikumpulin dua minggu lagi,”


“Febdy yang satu kelas sama kamu? Ngapain datang ke rumah kamu nggak bilang dulu? ‘Kan biasanya kalau mau kerjain tugas itu ada kesepakatan dulu sebelumnya, nggak main jemput ke rumah,”


“Ya dia abis dari rumah ceweknya apa ya? Kalau nggak salah dia ngomong gitu sih tadi, nggak tau juga deh. Aku nggak mastiin. Udahlah nggak usah dipikirin,”


“Ya nggak cuma penasaran aja,”


“Dan cemburu?”

__ADS_1


“Kamu bolehin aku cemburu emangnya?”


__ADS_2